Tetap Bung Karno!

Tetap Bung Karno!

Oleh Bung Neo

Setiap kali aku melihat kepala banteng, aku selalu terkenang akan bung Karno. Kebetulan ada banyak bendera partai yang berkibar selama masa kampanye pilkada. Bung Karno memang erat kaitannya dengan kepala banteng yang melambangkan kerakyatan. Masa perjuangan dan pergerakan bung Karno memang bernafaskan kerakyatan yang dikenal dengan marhaenisme.

Semakin memuncak kekagumanku kepada bung Karno ketika memasuki bulan juni. Aku begitu bersemangat mengibarkan bendera merah putih pada hari lahir pancasila tanggal 1 juni. Hujan yang turun seakan menyegarkan jiwa yang kering dan hampa setelah kepergianmu.

Bulan juni bagi seorang sukarnois adalah bulan bung Karno karena selain hari lahir pancasila 1 juni, pada tanggal 6 adalah hari lahir bung Karno sedangkan tanggal 21 juni adalah hari wafatnya sang bapak bangsa. Sebagai refleksi—masih banyak kelompok dan individu yang memanfaatkan kebesaranmu bahkan mereka yang paling membenci dan tidak menyukaimu tanpa malu-malu mengaku sebagai pengagummu padahal itu dilakukan untuk kepentingan sesaat. Mereka adalah pelacur-pelacur politik yang memanfaatkan karisma dirimu.

Tapi aku tidak khawatir bung! Seperti yang pernah bung katakan, “sejarah yang akan membersihkan namaku”. Sejarah akan membuktikan mana yang benar sukarnois sejati dan mana yang hanya mendompleng kebesaran namamu. Aku tidak perlu khawatir karena engkau adalah putra sang fajar. Seperti fajar yang akan selalu ada setiap pagi maka engkau akan selalu terbit dalam hati rakyatmu.

Engkau tidak akan pernah tenggelam meski mereka terus melakukan desukarnoisasi dan mencoba mengingat-ingat kembali ‘jasa’ pengkhianat besar yang pernah membuatmu dan pendukungmu menderita. Maafkan aku bung, kalau aku masih belum bisa memaafkan orang itu.

Aku masih membenci semua yang berhubungan dengan penghianat itu. Bahkan sampai sekarang antek-antek orde baru masih berkeliaran di bumi Indonesia. Mereka masih menjadi parasit dalam sistem politik, ekonomi dan budaya di negeri ini.

Aku masih harus terus belajar darimu bung! Engkau begitu besar karena sikap ksatriamu melepaskan jabatan agar tidak terjadi pertumpahan darah sesama anak bangsa. Meskipun kebesaranmu dipreteli namun tak pernah berkurang sedikitpun di mata rakyat yang mencintaimu.

Engkau mengajarkanku agar jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Aku akan selalu mengingat dan menjadi manusia sejarah yang kokoh membangun masa depan. Kokoh di atas jembatan emas kemerdekaan yang telah engkau dirikan.

Semoga kelak aku bisa berjiwa besar sepertimu; memaafkan dan mengampuni mereka. Aku akan selalu mencintai dan mengagumimu walaupun banyak yang melupakan dan membencimu. Selamat ulang tahun bung!

 

Kawangkoan

06 Juni 2018

Iklan

Mengapa Belajar Sejarah?

Mengapa Belajar Sejarah?

Oleh Bung Neo

 

Demonstrasi aktivis Gerakan Wanita Indonesia, Gerwani, di Jakarta awal 1965, by potretlawas
Demonstrasi aktivis Gerakan Wanita Indonesia, Gerwani, di Jakarta awal 1965, by potretlawas

G.W.F Hegel pernah berkata, “satu hal yang dapat dipelajari dari sejarah adalah bahwa tak seorang pun pernah mempelajari sesuatu dari sejarah”. Fenomena ahistori di masyarakat kita bisa digambarkan dari munculnya fundamentalis agama dan primordialisme.

Ambil saja contoh tentang isu kebangkitan PKI. Di Negara ini kata PKI bagaikan hantu yang selalu merongrong anak-anak kecil sehingga takut pergi ke kamar mandi waktu malam. Akan lebih mudah bagi mereka membuka pintu dan kencing di luar rumah.

Pertanyaannya adalah mana yang lebih berbahaya; kencing di kamar mandi atau di luar rumah? Kita memang terlalu takut pada hantu yang tidak kelihatan daripada malaikat yang sepertinya terang padahal iblis yang nyata.

Sejarah sebenarnya banyak memberikan pelajaran kepada kita, jika kita mau sejenak membuka kembali lembaran-lembaran arsip, buku, dan pikiran atau kenangan kita tentang masa lalu. Kita mencap semua yang berhubungan dengan komunis adalah berbahaya.

Dalam narasi pembelajaran sejarah Indonesia terkesan tidak adanya pembedaan antara PKI masa pergerakan nasional dan PKI pada masa kemerdekaan. Semua topik tentang pemberontakan PKI hanya berfokus pada peristiwa Madiun 1948 (yang benar dilakukan PKI) dan peristiwa 30 september 1965 (yang masih kabur siapa dalangnya).

Narasi pembelajaran sejarah di sekolah tidak memberikan porsi yang cukup untuk pemberontakan PKI terhadap pemerintah kolonial pada tahun 1926 dan fakta bahwa PKI adalah partai pertama yang menggunakan nama Indonesia di masa kekuasaan kolonial Belanda tahun 1920.

Setelah peristiwa gerakan 30 september 1965, PKI menjadi partai terlarang berdasarkan Tap MPRS 1965 No XXV/MPRS/1966. Sejak itu pembicaraan mengenai paham komunis bahkan untuk tujuan akademik seakan menjadi tabu dan sensitif. Sejarah PKI digeneralisasi sebagai sejarah buruk dan berbahaya bagi NKRI.

Pembelajaran sejarah yang seharusnya independen dan ilmiah seolah berubah menjadi sejarah yang subyektif dan terlalu dicampuri dengan kepentingan penguasa orde baru. Memang seperti yang ditulis oleh A.L Rowse dalam buku Apa Guna Sejarah, (2014); dijelaskan bahwa generalisasi dalam sejarah dapat dilakukan karena ada lebih dari satu ritme, plot, pola, bahkan pengulangan dalam sejarah.

Tugas sejarawan dan guru sejarah seharusnya memberikan pencerahan dan berupaya agar dalam menginterpretasikan sebuah peristiwa, ia benar-benar harus mengurangi subyektivitas meski tidak akan pernah sepenuhnya obyektif karena sulit untuk merekonstruksi peristiwa yang sudah terjadi lebih dari lima puluh tahun. Setidaknya seperti yang dikatakan oleh Francis Bacon, “sejarah membuat manusia bijaksana”.

Sewaktu mempelajari sejarah, kita harus berpikir sesuai masa di mana peristiwa itu terjadi. Penting untuk membedakan suasana dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya sebuah peristiwa. Misalnya perbedaan pemberontakan PKI 1926, 1948, dan 1965 (?). Mengutip A.L Rowse, “sejarah adalah tentang kelompok masyarakat, faktor-faktor yang mengendalikan mereka, motif, umum atau pun personal yang membentuk berbagai peristiwa”.

Dari pernyataan Rowse, kita bisa menyimpulkan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya sebuah peristiwa sejarah. Kita hanya bisa belajar darinya tapi tidak bisa membanding-bandingkan seolah-olah apa yang terjadi sekarang sama dengan yang terjadi pada masa lalu.

Dalam landasan teori, sejarah tidak berulang karena setiap peristiwa itu unik dan hanya sekali terjadi. Tapi fenomena yang mengarah ke peristiwa yang sama mungkin saja terjadi di waktu yang berbeda. Oleh karena itu penting juga untuk melihat gejala-gejala masa lalu yang mungkin “terulang” saat ini. di sinilah kegunaan sejarah.

Belajar dari sejarah berarti mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa dialami sekarang dan masa yang akan datang. Semuanya akan berguna jika kita melihat sejarah dengan kedua mata secara terbuka. Ini berarti melihat fenomena sejarah secara holistik bukan dengan mata tertutup sebelah.

Mengenai bahaya separatis dan fundamentalis agama di Negara ini tentunya kita jangan hanya fokus pada isu PKI saja tetapi juga kepada DI/TII, RMS, PRRI/Permesta, GAM, OPM yang bukan tidak mungkin akan muncul dalam rupa-rupa gerakan baru yang ingin bernostalgia dengan masa lalu; bukan untuk belajar dari sejarah tapi untuk “mengglorifikasi” dan mencuri kesempatan dalam menciptakan kegaduhan politik untuk mengganggu kedaulatan NKRI.

 

09 April 2018

Revisionist History dan Guru Sejarah

Revisionist History dan Guru Sejarah

Oleh Bung Neo

 

essay
Belajar membaca, menulis, dan menghitung bagi orang dewasa di Kalimantan, awal 1950-an. by potret lawas

Sejarah adalah milik mereka yang menang; sebuah ungkapan yang seolah-olah melegitimasi sang pemenang untuk mengontrol narasi dalam historiografi mereka. Pada zaman kolonial, historiografi nusantara ditulis sesuai dengan keinginan pemerintah kolonial. Begitu pun pada masa kemerdekaan maka penulisan sejarah berubah menjadi historiografi nasional.

Apa yang di masa kolonial dianggap sebagai pengacau atau pemberontak, maka di masa kemerdekaan akan dianggap sebagai pahlawan. Saya kira hal yang sama terjadi dalam setiap penulisan sejarah bangsa mana pun di dunia ini. historiografi menjadi bagian dari pengenalan identitas sebuah bangsa merdeka.

Ada juga ungkapan seperti “bukan rahasia bila penguasa pun bisa mengubah sejarah dan memutarbalikkan fakta”. Saya yakin kalau kita juga akan setuju dengan ungkapan tersebut. kalau begitu apakah sejarah bisa dipercaya? Apakah sulit menemukan kebenaran dalam sebuah historiografi? Atau apakah sulit bagi sejarawan untuk bersikap objektif dalam memandang sebuah peristiwa?

Sebuah peristiwa sejarah memang tidak bisa diulang kembali karena keunikan dari sejarah adalah ia hanya sekali terjadi. Ia dibatasi oleh waktu. Bisa saja sebuah peristiwa yang sama terjadi di ruang yang sama namun waktunya sudah berbeda. Peristiwa yang terjadi semestinya menjelaskan tentang hukum sebab akibat (kausalitas) yang tak dapat dibantah.

Sumber masalah dari sejarah bukanlah peristiwanya melainkan penulisannya (historiografi). Apa pun metode yang dipakai oleh sejarawan dalam melakukan heuristik (pengumpulan data) akan terbentur dengan unsur manusia yang memiliki multitafsir akan sebuah peristiwa yang sudah lama berlalu.

Seorang sejarawan tak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari subyektivitas. Itulah sebabnya sejarah selalu menuai kontroversi yang membuat ilmu sejarah menjadi ilmu yang berkembang—tidak mati. Ilmu sejarah dapat berubah seiring ditemukannya data dan fakta baru tentang sebuah peristiwa.

Sekarang ini teori revisionist history sedang popular di kalangan pemerhati sejarah. Sesuai dengan pengertiannya, upaya untuk meninjau kembali sebuah peristiwa memang perlu dalam pengembangan ilmu sejarah. Sekali lagi kita harus mengakui bahwa meskipun sejarah sebagai peristiwa bersifat unik dan hanya terjadi sekali namun penulisannya (historiografi) bukanlah sebuah “kitab suci” yang tidak bisa direvisi.

Penulisan sejarah sangat bergantung pada data kemudian data akan diverifikasi melalui dua tahap yakni kritik eksternal (otentisitas) dan kritik internal (kredibilitas) data yang ditemukan. Setelah proses verifikasi maka data akan menjadi fakta yang kemudian ditafsirkan (interpretasi) menjadi sebuah cerita sejarah atau historiografi.

Selama sejarawan tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar seperti tekanan penguasa, maka karyanya akan benar-benar obyektif dan dapat dipercaya. Inilah yang dimaksud dengan penulisan sejarah yang apa adanya menurut Leopold Von Ranke. Sejarah ditulis sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi.

Sering kali kekeliruan dalam penulisan sejarah bukan disebabkan oleh kurangnya sumber. Justru yang sering terjadi adalah sumber utama telah dimanipulasi untuk kepentingan tertentu misalnya Negara. Manipulasi sejarah inilah yang menyebabkan pembodohan masyarakat oleh rezim yang berkuasa.

Pembodohan sejarah tidak hanya terjadi dalam sebuah Negara yang dipimpin oleh rezim diktator. Hal ini juga bisa terjadi dalam Negara yang menganut sistem demokrasi. Kita bisa melihatnya melalui kurikulum pendidikan sejarah yang tidak menggambarkan secara menyeluruh tentang peristiwa-peristiwa “sensitif” yang mengancam kedaulatannya.

Guru-guru sejarah tidak memiliki independensi untuk mengaplikasikan ilmunya kepada peserta didik. Guru sejarah menjadi produk kurikulum yang tidak bisa mengembangkan profesionalitasnya. Ukuran profesionalitas guru hanya dilihat dari jumlah jam mengajar dan kegiatan administrasi seperti membuat silabus, program semester, RPP, dan instrumen penilaian. Akhirnya guru sejarah hanya menjadi guru kurikulum bukan guru inspiratif.

Seharusnya peserta didik diajar untuk berpikir kritis tentang sebuah peristiwa sejarah bukan hanya dijejali dengan data dan fakta yang diklaim sebagai sebuah kebenaran sejarah. Padahal sejarah tidak bisa diceritakan dengan narasi tunggal. Belajar sejarah menjadi membosankan dan tidak mengasyikkan.

Bagi saya belajar sejarah bukan hanya bertujuan membuat peserta didik senang dan tidak bosan, namun lebih dari itu peserta didik seharusnya bisa lebih berempati dan tumbuh menjadi manusia yang menghargai perbedaan setelah belajar sejarah. Setidaknya mereka bisa lebih bijaksana membuat keputusan dalam kehidupan mereka.

Setiap manusia membutuhkan pengetahuan tentang sejarah mereka. Namun beberapa Negara justru mengaburkan sejarah penduduk asli dengan dalih penyatuan nasional. Hal ini banyak terjadi di Negara-negara yang pernah merasakan kejamnya kolonialisme. Invasi dan aneksasi menjadi sarana untuk menguasai dan akhirnya memanipulasi sejarah penduduk asli.

Indonesia masih memiliki utang sejarah khususnya mengenai Papua. Di tengah pembangunan yang terus digenjot di sana, ada masalah yang harus menjadi perhatian khusus pemerintah yakni peninjauan kembali sejarah Papua termasuk sejarah proses integrasi Papua ke dalam wilayah NKRI. Pembelajaran sejarah mengenai Papua tidak cukup hanya dengan menampilkan Frans Kaisiepo dalam lembaran uang resmi Negara serta riwayat Martin Indey dan Silas Papare dalam beberapa paragraf pendek yang dimuat dalam buku pelajaran sejarah.

 

Kawangkoan

21 maret 2018

Perempuan

Perempuan

Oleh Bung Neo

                                    Untuk Finneke Wolajan

 

Dewi Soekarno bermain dengan anjing-anjingnya. Jakarta, Maret 1966. by potret lawas
Dewi Soekarno bermain dengan anjing-anjingnya. Jakarta, Maret 1966. by potret lawas

Aku mengenal seorang perempuan

Kini ia seorang wartawan

Darinya aku tahu apa itu menawan

Menawan adalah melawan

 

Aku mengenal seorang perempuan

Satu-satunya di antara kami lelaki

Satu-satunya teman diskusi

Di saat ideologi dikuasai lelaki

 

Aku mengenal seorang perempuan

Mungkin bukan seorang Bohemian

Yang penting pendirian

dan terutama perjuangan

 

Aku mengenal seorang perempuan

Di tangannya kata menjadi jelita

Di kameranya cantik menjadi nyata

Bukan karena rupawan

Bukan karena tiruan

 

Ia benar Sarinah Indonesia

Ia benar Lingkan Wene Minahasa

Bertumbuh bersama sengatan mentari

Berkembang bersama halusnya rinai

Berbuah bersama gelapnya hari

 

 

07 April 2018

Simbol

Simbol

Oleh Bung Neo

DZ-OylLXcAA9BMB.jpg large

Kita masih menjadi bagian dari masyarakat yang sangat mementingkan simbol daripada penghayatan dan pemahaman. Cara mengekspresikan pandangan agama dan politik dibungkus dalam gerak lahiriah yang kadang justru melahirkan kemunafikan dan kefanatikan yang ekstrim.

Ukuran seseorang menjadi pemeluk agama yang taat dan beriman dilihat dari rajinnya ia beribadah; selalu berbicara tentang firman; membawa kitab suci ke tempat ibadah; sudah dibabtis (kalau Kristen); memakai atribut agama sebagai perhiasan di tubuh maupun di dalam rumah.

Jika anda sudah memiliki syarat-syarat itu maka anda digolongkan dalam kategori orang beriman dan pantas “diselamatkan”. Kita menjadi masyarakat yang sangat mudah menghakimi orang menggunakan kacamata agama. Kita lupa bahwa agama adalah ekspresi iman masing-masing individu.

Sungguh ironi, banyak orang yang termasuk golongan “beragama” justru bertindak jauh dari prinsip-prinsip moral ajaran agamanya. Dulu Yesus pernah mengecam tingkah laku pemeluk yahudi yang hanya saleh secara lahiriah namun jauh dari Allah secara spiritual. Mereka dicap seperti kuburan berlabur putih; indah di luar tapi penuh bangkai di dalamnya.

Baru-baru ini umat Kristen merayakan peristiwa sengsara, wafat dan bangkitnya Yesus. Semua gereja dan kelurahan berlomba menghias wilayah mereka dengan ornamen paskah seperti salib, taman paskah, lampu paskah, dan umbul-umbul berwarna ungu.

Selama masa pra paskah jalanan bersih dari bendera partai yang berkibar warna-warni menghiasi jalan dan langit kampungku. Sekarang memang sementara masa kampanye. Untuk sementara menjelang pekan suci (minggu sengsara Tuhan) bendera partai diganti dengan bendera paskah.

Aku sendiri merasa betapa teduhnya masa ini karena orang tidak terfokus pada “ketegangan” kontestasi politik menjelang pilkada bupati dan wakil bupati. Ketenangan itu tak lama dirasakan setelah beberapa hari selesai paskah, jalanan kembali ramai dengan warna-warni bendera partai.

Ekspresi demokrasi diukur dengan banyaknya bendera dan baliho partai yang bertebaran di mana-mana. Syukurlah aku belum melihat alat kampanye yang di pasang di pohon-pohon (gambar atau poster yang dipakukan), jika itu terjadi maka cara kita berdemokrasi belum mencerminkan kedewasaan berpolitik.

Kita masih sangat memedulikan simbol sehingga sering terjadi ketegangan dan bahkan konflik hanya karena tersinggung dengan orang yang berbeda dengan kita. jika anda memakai kaos yang kebetulan berwarna merah atau kuning maka anda akan dicap sebagai pendukung salah satu partai atau calon; padahal tidak ada simbol partai atau calon yang tertera di kaos anda.

Jika anda menghadiri sebuah acara ulang tahun dari seorang tokoh partai tertentu maka anda akan dicap sebagai pendukung partai itu; padahal anda diundang karena masih ada ikatan keluarga atau mungkin karena anda bertetangga dengannya.

Sungguh aneh memang perilaku kita dalam mengekspresikan sikap keagamaan dan politik. Lebih parah lagi pejabat gereja aktif dalam urusan politik. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa berlaku netral sebagai pelayan umat dan sekaligus politikus. Begitu juga dengan aparatur sipil negara (ASN) yang tidak netral dalam politik. Inilah yang membuat “simbol” dalam masyarakat kita menjadi kabur.

Seolah-olah tidak ada batasan dan perbedaan antara simbol politik dan agama. Keduanya dicampuradukkan sesuai keinginan masing-masing. Kebenaran akan menjadi milik setiap individu dan memaksakannya agar orang lain juga menerimanya. Kita begitu mengutamakan simbol tapi tidak bisa membedakan kapan penggunaannya menjadi tepat atau keliru. Kadang manusia justru menjadi kelihatan tolol karena simbol.

Kita tolol karena menjadi orang yang mudah sekali tersinggung padahal sebenarnya kita adalah orang munafik yang fanatik. Dalam terang kita menjadi malaikat dan pahlawan sementara itu dalam gelap kita adalah iblis dan pecundang. Agama dan politik dirancang untuk kepentingan umum bukan kepentingan pribadi. Ketika kita beragama, berarti kita harus mencerminkan prilaku spiritual yang menghargai kemanusiaan, begitu pun dengan berpolitik kita harus mencerminkan prilaku politik yang santun dan menghargai perbedaan pandangan.

Kita beragama dan berpolitik bukan semata-mata karena simbol. Kita seharusnya berpikir kritis terhadap apa yang kita yakini. Kalau agama dan politik hanya dinilai dari simbol maka keduanya tidak bisa dikritik. Keduanya menjadi sakral dan sulit untuk disentuh. Jika hal ini terjadi maka pemegang kebenaran adalah para pemimpin yang bukan tidak mungkin memanipulasi pikiran para pengikutnya.

Agama dan politik sejatinya adalah membebaskan pikiran. Di saat pikiran kita dibebaskan maka akan melahirkan keterbukaan. Jika keterbukaan tercipta maka agama dan politik tidak menjadi sekedar simbol yang mati. Seharusnya begitu! Tapi kita lebih senang dengan simbol, maka tegenaplah apa yang pernah dikatakan oleh Pramoedya, “kesenangan adalah tanda bahwa kematian mulai meraba jiwa manusia”.

Kita senang menghakimi karena agama, kita senang memfitnah karena politik, kita senang cepat tersinggung karena simbol; kita senang memuja simbol maka bersiaplah untuk kematian jiwa dan raga.

 

Kawangkoan

05 april 2018

Pas-Kah kita bersatu kembali?

Pas-Kah kita bersatu kembali?

Oleh Bung Neo

 

Landscape with Couple Walking and Crescent Moon, 1890 ~ Vincent van Gogh by moodvintage
Landscape with Couple Walking and Crescent Moon, 1890 ~ Vincent van Gogh by moodvintage

14 Nisan 1513 SM malaikat pencabut nyawa “melewatkan” anak-anak sulung Israel dari pembantaian. Tuhan membinasakan anak-anak sulung Mesir sekaligus sebagai tanda pembebasan bangsa Israel dari perbudakan.

14 Nisan 33 M Yesus menjadi korban paskah bukan hanya bagi orang Kristen Yahudi masa itu tapi juga meluas kepada orang-orang kafir yang menerima kebenaran injil yang diproklamirkan oleh murid-murid Yesus ke seluruh dunia.

Bulan Nisan dalam kalender Yahudi (kamariah) merujuk pada bulan maret-april dalam kalender gregorius yang dipakai oleh mayoritas masyarakat dunia. tahun ini peringatan 14 nisan jatuh pada kamis petang tanggal 29 maret sampai jumat petang tanggal 30 maret 2018. Itulah paskah Yahudi (Passover) yang dirayakan juga oleh Yesus dan murid-muridNya.

Jadi pada tanggal itu disaat orang yahudi di seluruh dunia merayakan perayaan pembebasan dari Yahweh, maka orang Kristen juga merayakan perjamuan malam Tuhan (ekaristi) yang diperkenalkan oleh Yesus sebagai peringatan akan kematianNya.

Yesus menetapkan peringatan kematianNya setelah Ia bersama murid-muridNya merayakan paskah Yahudi. Peringatan kematian yang merupakan perjanjian baru ini memuncak pada malam paskah dan pesta paskah hari minggu pagi yang merupakan hari kebangkitan Yesus. Inilah yang disebut paskah Kristen atau easter

Dua peristiwa tapi satu makna yang menggenapi nubuat para nabi. Mungkin inilah yang menjadikan perayaan paskah begitu beragam, bukan hanya bagi orang Yahudi penganut Yudaisme yang memang tidak mengakui Yesus sebagai mesias namun juga bagi para pengikut kristus sendiri yang terbagi dalam dua kelompok besar katolik dan protestan.

Namun yang unik adalah mayoritas penganut Kristen merayakan sengsara, wafat dan kebangkitan kristus secara bersama-sama meski berbeda dalam ritus peribadatan. Dalam beberapa perayaan paskah yang saya ikuti selama ini memperlihatkan tidak adanya perbedaan yang begitu mencolok dalam memaknai dan merayakan paskah.

Sebut saja perayaan kamis putih, pencucian kaki, jalan salib, telur paskah,dan kelinci paskah adalah bagian dari perayaan baik bagi katolik maupun protestan. Aku merenung, jika hal-hal seperti ini mulai terjadi, apakah persatuan gereja universal akan terwujud?

500 tahun reformasi protestan menjadi bukti betapa terpecahnya kekristenan dalam begitu banyaknya denominasi gereja. Jika inti dari reformasi adalah ‘mengatur kembali’, bukankah hanya diperlukan gerakan persatuan karena toh hampir sebagian besar doktrin bermuara pada alkitab dan hanya ritus yang membedakan gereja-gereja. Bukankah semangat reformasi adalah persatuan bukan perpecahan?

Jika kita kembali membuka sejarah maka gereja seharusnya menjadi gereja yang universal seperti pada zaman Yesus. Semoga paskah akan selalu mengingatkan umat kristen bahwa kemenangan kebangkitan Yesus adalah kemenangan bagi persatuan murid-muridNya di seluruh dunia dalam institusi gereja universal yang didirikannya. Apakah sudah waktunya gereja-gereja bersatu dan kembali ke asal mulanya? Semoga saja

 

01 april 2018

 

Hanya Sajak

Hanya Sajak

Oleh Bung Neo

 Best friends, 1949. by moodvintage

Mungkin ia sedang melihat angsa tertawa di sekeliling peziarah yang juga sedang kagum-kagumnya pada bangunan tua bergaya victoria. Ia terus mendayung, melaju perlahan diikuti ikan-ikan kecil yang juga bernyanyi riang.

 

Di atas meja hanya ada selembar kertas kosong. Ia belum bisa menemukan kata karena imaji begitu kuat menahan tangannya. Sementara pemusik jalanan memetik gitar di atas jembatan yang memayungi para angsa putih.

 

Ia mulai menulis soneta yang lama terhenti oleh waktu. Sebuah Tanya pada malam, dini hari, dan pagi di tempat yang sama. Ia duduk menunduk seperti peziarah yang mendaraskan Rosario.

 

Di seberang jembatan itu terdengar lonceng berdentang dari menara katedral. Ia menangis seperti pengemis dan menyelesaikan sonetanya. Ia bernyanyi, Ave Maria.

 

Kawangkoan

Membaca “Fragmen”

17 Februari 2018