PANCASILA DARI ENDE KE PEJAMBON

PANCASILA DARI ENDE KE PEJAMBON

Oleh Bung Neo

logo pekan pancasila
sumber gambar: setkab.go.id

Ketika ini semua terjadi saya sedang ditemani oleh sebaskom tinutuan dan sebuah buku yang hari ini menjadi gilirannya untuk saya baca. Buku[1] inilah yang membawa saya pada perjalanan imajiner menemani Bung Karno menuju tempat pengasingannya. Saya melihat ada kerisauan diwajah beliau karena kali ini dia tidak tahu akan diasingkan dimana, kecuali satu yang pasti adalah ia akan dibawa keluar pulau Jawa. Sebenarnya saya ingin langsung memberitahu beliau bahwa ia dan keluarga sedang menuju ke Ende Flores. Namun saya tidak bisa membuka mulut saya meski hanya sekadar untuk menyapa beliau.

Sebuah perjalanan yang berakhir di kampung tak bernama terpencil dan terasing dari segala macam informasi yang hanya datang sebulan sekali melalui surat ataupun surat kabar. Disinilah saya melihat kepedihan dan kekuatan inspirasi Bung Karno dalam menjalani sejarah hidupnya. Kematian ibu mertua dipangkuannya seakan menenggelamkan semangat perjuangannya, disusul berita tentang kematian sang guru Cokroaminoto seakan menghisap kesunyian Ende masuk dalam jiwanya. Gelap yang berujung pada kekuatan putih seorang wanita yang selalu mendampinginya- ibu Inggit!

Kekuatan cintalah yang membangun jiwa Bung Karno tetap bertahan di pengasingan meski ia memiliki kesempatan untuk melarikan diri melalui kapal barang yang singgah di pelabuhan, di mana awaknya siap mengorbankan nyawa untuk membebaskan sang putra fajar. Goresan-goresan tinta yang membentuk naskah drama menghidupkan jiwa Bung Karno dalam mengaplikasikan segala imajinasi yang terkumpul dalam pikirannya. Mementaskan drama kehidupan yang bukan sekadar drama melainkan simbolisasi dari sebuah perjuangan menuju kemerdekaan.

Saya terus mengikuti jejak “sang Karna” yang melakukan peperangan batin di bawah rindangnya pohon sukun yang menaungi kumpulan ide yang menumpuk didalam kepalanya. Sebuah pergolakan yang dia pun tidak tahu akan berakhir di mana. Kembali saya mengerahkan tenaga saya untuk mendekati beliau, namun sama saja saya tidak bisa menggerakkan kaki saya. “jangan menyerah Bung! Saya sekarang sedang membaca masa depanmu “ itulah yang sebenarnya ingin sekali saya katakan. Saya mengkhawatirkan terjadinya perbedaan alur sejarah apabila Bung Karno berhenti berjuang pada saat itu. Mungkin tak ada cerita lahirnya lima butir mutiara yang berkilau puluhan tahun kemudian.

Kekhawatiran saya bertambah setelah beberapa hari kemudian saya tidak melihat lagi beliau duduk di bawah pohon itu. Bung Karno tertidur dan tak dapat bangun. “ayo Bung engkau adalah gelombang laut yang terus bergulung tanpa lelah, bangun, bangun, bangun!! “sang Karna” tetap tidak peduli dan memang tak mendengar suara saya.

Saya sadar ini hanyalah sebuah perjalanan imajiner, sebuah refleksi dari kekuatan seorang manusia yang mengambil “jalan sempit” menuju kemerdekaan. memilih menjadi sumber api yang membakar semangat orang lain meski ia pun harus menjadi korban dari api yang ia nyalakan.

Saya meletakkan buku hard cover berwarna merah dan putih  karya Cindy Adams itu, kemudian melanjutkan menyantap tinutuan dilengkapi dabu-dabu (sambal) roa yang pedas khas makanan orang Minahasa, saya tidak terlalu suka disebut orang Manado karena memang saya tou Minahasa tapi sekarang saya lebih suka disebut orang Indonesia.

Indonesia? Ya sebuah negeri yang bertaburan 17.000 pulau, 700san bahasa dan 1.200san suku bangsa termasuk Minahasa belum lagi ditambah dengan keanekaragaman hayati yang melimpah membuat banyak bangsa cemburu dengan negeri yang katanya zamrud di Katulistiwa ini. bagaimana bangsa ini bisa bertahan ditengah keanekaragaman penduduknya sementara  Irak, Suriah, Sudan, Libia, Yaman adalah Negara-negara yang sekarang merasakan betapa “keanekaragaman” justru menjadi malapetaka yang menjerumuskan Negara mereka dalam konflik berkepanjangan.

Rupanya kenikmatan tinutuan membuat saya kembali masuk dalam suasana “keberagaman” itu layaknya bahan tinutuan yang terdiri dari berbagai macam sayur seperti gedi, kangkung, daun katu, sambiki (labu), jagung dan bumbu-bumbu rempa-rempa khas Indonesia membawa saya masuk di sebuah gedung di Jalan Pejambon no 6 Jakarta. Namanya gedung Tyuoo Sangi-In (sekarang Gedung Pancasila). Ramai sekali hari ini rupanya sudah sejak tiga hari lalu ada pertemuan luar biasa di gedung ini. 60 orang dari berbagai latar belakang suku, agama, dan ras berkumpul untuk membahas sebuah konsep dasar Negara yang akan dijadikan ideologi dari Negara Indonesia merdeka.

Saya tersadar bahwa sekarang saya berada dalam suasana sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUPK) terlihat Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat  duduk di kursi pimpinan sidang. Saya mendengar beberapa anggota saling berdiskusi sepertinya dalam beberapa hari ini sidang berlangsung alot karena masing-masing peserta mengajukan konsep yang berbeda mengenai dasar seperti apa yang paling cocok untuk Indonesia merdeka namun belum ada yang bisa menjawab pertanyaan ketua BPUPK yang meminta peserta untuk fokus pada pengajuan dasar Negara (Philosofische Grondslag).

Suasana pun sontak tenang sewaktu Bung Karno naik podium dan mulai berpidato…[2]

“saudara-saudara, kita bersama-sama mencari persatuan Philosofische grondslag, mencari satu weltanschauung yang kita semua setujui, sebuah Negara Indonesia merdeka yang bukan milik satu orang saja, satu golongan saja, tetapi semua buat semua!” “dasar pertama yang baik dijadikan dasar buat Negara Indonesia, ialah dasar kebangsaan’.

…kita bukan saja harus mendirikan Negara Indonesia merdeka tapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa. Saya mengusulkan filosofiseli principle yang kedua adalah Internasionalisme karena nasionalisme tidak bisa hidup dalam taman sarinya internasionalisme” jelas Bung Karno.

“apakah dasar yang ketiga? Lanjut Bung Karno: Mufakat,dasar perwakilan, dasar musyawarah” dengan wadah ini segala sesuatu bisa dibicarakan termasuk perbedaan yang belum memuaskan masing-masing kelompok.

“prinsip nomor empat sekarang saya usulkan adalah Kesejahteraan sosial  sebuah Negara yang bukan hanya berdemokrasi politik tapi negara yang menjadikan rakyatnya sejahtera”.

“lalu apakah prinsip yang kelima itu? Kita hendaknya menyusun Indonesia merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha esa. Marilah kita amalkan, jalankan agama baik Islam maupun Kristen dengan cara berkeadaban. Apakah cara berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain”. Terdengar tepuk tangan sebagian hadirin.

Setelah terdiam sejenak, Bung Karno pun melanjutkan pidatonya…

“saudara-saudara! Dasar Negara telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman[3] kita ahli bahasa-namanya  ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia kekal dan abadi…”

Saya terdiam mulai terisak- hanya tetes demi tetes air mata yang tak bisa kubendung mewakili perasaan saya seraya tepuk tangan hadirin riuh rendah menggelegar di ruangan itu.  Tak pernah saya melihat anak bangsa begitu harmonis dalam persatuan meski berbeda pandangan mereka tetap menjunjung semangat toleransi dan saling menghormati setiap perbedaan. lawan dalam debat tapi kawan dalam semangat kebhinekaan!

Suasana pun berubah dan saya dikejutkan oleh suara getaran notifikasi di twitter saya:

@M_Karmela  @andrechristwo  selamat hari lahir Pancasila 1 Juni 1945- 1 Juni 2017

….. @andrechristwo  @M_Karmela tq ggs, smg kita bisa segera mewujudkan sila 3nya wkwkwkwk

@M_Karmela @andrechristwo ♥♥♥ persatuan kita wkwkwkwk

Tiba-tiba pemberitahuan datang dari  inbox pesan:

“pemakaian kuota internet kamu telah habis, kamu pakai internet dengan tarif per KB. Pemakaian sampai saat ini Rp. 2510. Bebaskan diri dari tarif per KB dengan xxxxx dftr xxxxx”.

Kuota internet boleh habis tapi perjuangan untuk menjaga keutuhan NKRI tak bisa dibatasi oleh paket data atau pulsa telepon. menjawab pertanyaan saya sebelumnya, mengapa bangsa yang beragam ini bisa bertahan? Jawabannya karena Pancasila! Seperti kata Bung Karno “jika kita ingin Pancasila itu menjadi suatu realitet yang sempurna maka syarat untuk menyelenggarakannya adalah perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan”!           

Perjuangan itu harus terus berlanjut! Jangan hanya menjadi status belaka di timeline media sosial pada setiap peringatan hari-hari raya nasional. Pancasila bukan benda mati ia bukan hanya tulisan di secarik kertas yang bernama konstitusi. Ia tak sekedar huruf -huruf yang dirangkai menjadi butir-butir mutiara. Ia adalah jiwa yang hidup dalam seonggok daging yang bernama Indonesia! Tanpa jiwa tubuh itu mati! Pada akhirnya tubuh memang akan mati tapi jiwa adalah kekal. Selama jiwa itu terus berkobar maka tubuh yang mati pun akan  tumbuh seribu!

Selamat memperingati Pidato Pancasila  Bung Karno 1 Juni 1945 dan selamat memasuki Bulan Bung Karno!

 

Kawangkoan 01 Juni 2017

#SayaPancasila #SayaIndonesia

 

 

 

[1] Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Ir. Sukarno, PT. Media Pressindo:Yogyakarta 2014 hal 149-164

 

[2]  Total Bung Karno, Roso Daras. Imania:Depok, 2013 hal 296-322

[3]  Menurut Restu Gunawan penulis biografi Muhammad Yamin dan cita-cita persatuan, dalam suatu kesempatan tahun 1966, Sukarno membuka bahwa “ahli bahasa” itu adalah Yamin. (dikutip dari Majalah Tempo 18-24 agustus 2014.

Iklan

Kecaplah

Kecaplah

Oleh Bung neo

IMG_20161022_055734
sumber gambar: twitter

Selamat pagi hujan

Adakah kabar dari Tuhan pagi ini?

Iya, ini ada sarapan nafas kehidupan dariNya

Oh sampaikan pujianku kepadanya.

Selamat siang panas

Adakah kabar dari Tuhan siang ini?

Iya, ini ada minuman segar air kehidupan dariNya

Oh sampaikan hormatku kepadaNya.

Selamat malam gelap

Adakah kabar dari Tuhan malam Ini?

Iya, ini ada roti kehidupan dariNya

Oh sampaikan sembahku kepadaNya

Dalam mimpi:

‘Aku akan menjagamu dalam setiap tidur dan bangunmu

Dalam setiap lapar dan hausmu

Dalam setiap makar dan setiamu.’

Tersenyum dan tersentuh…

Menangis.

 

15 Mei 2017

Hujan di Pagi hari

Guru Sejarah dan Tantangan Pembelajaran Sejarah Abad 21

Guru Sejarah dan Tantangan Pembelajaran Sejarah Abad 21

Oleh Bung Neo

DSC_8535
kadang guru sejarah itu harus nyeleneh. tribute for u guys : Tim PPG sejarah “PRASASTI” UNM 2015:Stevi,Evendi,Mahadir,Arman,Christian, Syamsu Alam,Assad, Wahyu, Nuril, Iswan,Rahma.

            Fenomena intoleransi yang marak di berbagai daerah di negeri tercinta Indonesia mulai mengkhawatirkan. Semangat primordialisme mulai mengarah kepada isu makar dan merongrong dasar Negara pancasila yang sudah disepakati bersama oleh para pendiri bangsa tujuh puluh dua tahun yang lalu.

            Untuk sebuah kekuasaan oknum-oknum tertentu dengan lihai memainkan isu-isu sensitive seperti agama untuk memecah belah persatuan. Rakyat digiring ke medan tempur layaknya pesta gladiator, saling menghujat, memfitnah, dengan harapan saling membunuh. Kemudian mereka yang haus akan kekuasaan bisa dengan leluasa duduk sebagai pemenang dan melanggengkan kekuasaan.

            Tak heran kalau banyak joke-joke yang menggelitik namun mengena mengenai hal ini  seperti “untuk memenangkan pilkada, pileg atau pilpres di Indonesia gampang: gunakan saja isu ras, suku dan agama.” Kedengarannya lucu, tapi sangat mengerikan! Mirisnya lagi anak-anak kita justru menjadi generasi yang paling cepat menerima ide-ide yang merusak persatuan nasional dan mengancam kebhinekaan. Menurut The Economics dalam Pocket World In Figures, Indonesia menduduki peringkat keempat pemilik akun Facebook terbanyak di dunia. (Majalah Tempo 4 Januari 2015). Penduduk kita sangat gemar membagi banyak hal lewat media sosial. Sayangnya tidak semua informasi yang dibagi (share) merupakan informasi yang valid. Tak heran info-info tentang semangat intoleran, ekstrimisme, makar dan anti Pancasila, UUD 45, NKRI dan Kebhinekaan cepat sekali menyebar di masyarakat kita.

            Anak-anak kita sekarang terancam oleh bahaya menyebarnya paham-paham radikal yang begitu cepat dari berbagai media. Kita sekarang berada dalam keadaan perang. Dunia pendidikan diperhadapkan dengan perang budaya (rekayasa gagasan, penguasaan pikiran dan hati). Sebagai pendidik guru dituntut untuk bertempur menanamkan gagasan nasionalisme dalam diri peserta didik. Guru harus lebih cepat dari kaum ekstrimis bahkan ikut memanfaatkan kemajuan teknologi dalam menguasai pikiran peserta didik.

            Tantangan inilah yang menjadi pekerjaan rumah besar dunia pendidikan kita! Jumlah penduduk Indonesia usia produktif jauh lebih banyak dari usia tidak produktif. Tahun 2045 kita akan menerima bonus demografi. Ini artinya anak-anak yang sekarang berusia sekolah akan menjadi tulang punggung Indonesia pada saat kita merayakan seratus tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

            Pertanyaannya sekarang adalah maukah kita membiarkan anak-anak kita yang dipersiapkan untuk masa depan Indonesia dicuci otaknya oleh kaum radikal yang anti pancasila dan NKRI? Maukah kita melihat bonus demografi menjadi malapetaka atau justru beban masa depan Indonesia?

            Dalam ceramahnya di Universitas Negeri Makassar tahun 2015, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd guru besar Universitas Negeri Malang mengatakan bahwa kita berada dalam zaman Psychozoic (zaman akal pikiran) yang menjadi kekuatannya adalah informasi, teknologi, dan kompetensi.[1] Guru tidak bisa melawan arus perubahan. Penguasaan teknologi informasi serta peningkatan kompetensi pendidik wajib dilakukan. Perubahan kurikulum adalah sebuah keniscayaan, guru adalah kunci utama penggerak kurikulum sehingga tidak menjadi masalah apabila kurikulum itu berubah karena kurikulum dibuat untuk guru bukan sebaliknya guru untuk kurikulum. Guru harus menjadi manusia pebelajar yang terus belajar sepanjang hayat.

            Disaat dunia pendidikan sedang bersemangat mempersiapkan generasi emas 2045 bangsa Indonesia justru diguncang dengan merosotnya nilai-nilai kebangsaan dikalangan peserta didik. Fokus dunia pendidikan terganggu dengan munculnya paham radikal dan intoleran. Oleh karena itu guru menjadi tulang punggung bangsa dalam menangkis virus-virus yang merusak pikiran peserta didik tak terkecuali guru sejarah! Pembelajaran sejarah mendapat sorotan sehingga dalam kurikulum 2013 (K13) mata pelajaran sejarah mendapatkan porsi jam yang banyak dibandingkan dengan KTSP 2006, bahkan mata pelajaran sejarah sekarang hadir di tingkat satuan pendidikan SMK.

            Ini adalah kemenangan guru-guru sejarah apalagi bagi mereka yang sudah disertifikasi tidak perlu lagi mencari tambahan jam di luar sekolah. Apakah penambahan jumlah jam berbanding lurus dengan peningkatan kompetensi guru sejarah dan tercapainya standar kompetensi lulusan sejarah yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air, berempati, toleran, dan menghargai nilai-nilai perjuangan bangsa? Mungkin perlu ada penelitian lebih lanjut soal itu. Sebagai pelaku di lapangan saya justru melihat kebanyakan guru sejarah kita sudah tidak mau keluar dari zona nyaman. Mungkin karena faktor usia, lingkungan sekolah, manajemen kepala sekolah, kondisi peserta didik dan banyak faktor lain bisa saja memengaruhi kinerja guru sejarah.

            Guru sejarah perlu merevolusi mental mereka tidak soal tua atau muda. Kurikulum berubah tapi guru tidak mau keluar dari zona nyaman mereka. Kenyamanan guru sejarah terlihat dari kegiatan belajar mengajar yang berjalan monoton dengan metode ceramah, mencatat dan menjawab soal dari buku teks. Itu pun satu-satunya buku yang menjadi pegangan wajib guru dan peserta didik. Mata pelajaran sejarah hanya menjadi pelajaran hafal menghafal belaka. Peserta didik kita dijejali dengan banyaknya data dan fakta sejarah yang hanya berisi tanggal,  tahun, tempat, tokoh dan jalannya peristiwa.

            Pendekatan yang digunakan menurut K13 adalah pendekatan ilmiah (scientific approach) yang meliputi pengamatan, bertanya, percobaan/mengumpulkan informasi, mengasosiasi/menalar dan mengomunikasikan. Seluruh kegiatan ini dilakukan untuk menyentuh tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang menghasilkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif.[2]

            Bagaimana implementasinya di lapangan? Guru sejarah terjebak dalam model saintifik yang dituntut kurikulum sehingga lupa bahwa sejarah adalah mata pelajaran humaniora. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) menurut Permen No 20 tahun 2016 adalah peserta didik memiliki keterampilan berpikir dan bertindak, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif dan komunikatif. Mengingat hal ini dalam Kegiatan belajar mengajar di kelas justru yang menonjol adalah penguatan ranah pengetahuan dan keterampilan menjadi tujuan pembelajaran sejarah. Itulah sebabnya peserta didik kita hanya dites kemampuan penguasaan data dan fakta sejarah saja ketimbang belajar melihat atau cara pandang tentang sebuah peristiwa dan konteksnya dengan kekinian.

            Sebagai ilmu humaniora hakikat sejarah adalah perubahan, sejarah adalah buku yang terbuka untuk siapa saja melakukan penafsiran termasuk peserta didik. Setelah reformasi penafsiran sejarah bangsa bagaikan keran yang terbuka sehingga air keilmuan terus mengalir dengan membanjirnya buku-buku sejarah versi baru yang tidak sama dengan versi pemerintah (Orde Baru). Keberagaman penafsiran melahirkan kontroversi yang merupakan keunikan dari sejarah itu sendiri. disinilah sebenarnya letak keunggulan K13 bagi implementasi mata pelajaran sejarah di sekolah.

            Dengan banyaknya sumber maka guru hendaknya membimbing peserta didik dalam mengeksplorasi pengetahuan, mengkritisi, menganalisis, dan membuat argument tentang sebuah peristiwa yang kontroversial menjadi suatu kajian yang dapat terus menerus dipertanyakan dalam ranah ilmiah. Peserta didik akan diajar untuk saling menghargai perbedaan penafsiran tentang masa lalu dan mencari solusi untuk membuat dasar pemikiran yang konstruktif. Contoh, materi tentang gerakan 30 september (G30S) 1965, supersemar, dan peristiwa sosial yang mengikutinya merupakan sejarah kelam bangsa ini yang mau tidak mau harus diajarkan kepada generasi sekarang. Apa yang terjadi dengan bangsa ini sekarang tidak bisa dilepaskan dengan sejarah yang sudah terjadi di masa lalu, dan kini sejarah itu harus kita pelajari.

            Dendam, sakit hati dan rasa curiga akibat masa lalu harus dijelaskan kepada generasi yang bahkan sudah lupa atau tidak tahu dengan peristiwa itu. Tapi sejarah adalah utang! Bangsa ini akan mudah dirongrong oleh perpecahan apabila kita tidak bisa berdamai dengan sejarah. Peter Carey pernah berkata, “cinta dan penghargaan sejarah mutlak bagi persatuan”. Bagaimana kita menanamkan cinta dan penghargaan itu kepada peserta didik kita? Guru sejarah dituntut untuk mentransformasikan cara berpikir sejarah (historical thinking)  kepada peserta didik, kemampuan memandang sebuah masalah berdasarkan konsep diakronis (berpikir runtut, teratur, dan berkesinambungan) dan konsep sinkronis (kajian mendalam tentang sebuah peristiwa) akan menghasilkan peserta didik yang tidak mudah dipengaruhi atau digiring dalam alam pikiran sempit seperti radikalisme yang membahayakan kebhinekaan kita dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

            Guru sejarah harus mendidik peserta didik menjadi masyarakat kontemporer yakni menjadi manusia historis yaitu manusia sebagai pelaku sejarah bukan manusia pra historis yaitu manusia yang tidak kritis dalam menerima informasi, manusia yang cepat panas, cepat marah atau sumbu pendek tanpa mengetahui latar belakang sebuah peristiwa atau ahistori (tidak tahu sejarah). Dalam belajar sejarah peserta didik dituntut untuk mengembangkan daya imajinasi mereka karena tidak semua ranah kognitif (pengetahuan) dapat terjawab dalam setiap peristiwa sejarah yang sudah terjadi puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu. Daya imajinasi dapat membantu peserta didik menyusun sebuah thesis (ide) dan tentunya akan melahirkan antithesis (balasan argument) dari peserta didik lainnya kemudian guru sebagai fasilitator dapat membimbing peserta didik untuk membuat sintesis (mencari persamaan) yang akhirnya menemukan solusi yang konstruktif tentang sebuah masalah.

            Jika proses KBM dilakukan seperti itu maka bagaimana dengan proses evaluasinya? Menurut Dr. Asvi Warman Adam, kajian sejarah di masa yang akan datang kemungkinan akan beragam oleh sebab itu maka sistem pengujian yang memakai multiple choice perlu ditinjau kembali. Dalam sistem tersebut dari satu pertanyaan hanya tersedia sebuah jawaban yang benar. Siswa diharuskan memilih padahal terkadang pertanyaannya membingungkan karena menanyakan tentang peristiwa-peristiwa yang kontroversial atau masih dikategorikan fakta lunak dalam sejarah sehingga jawabannya membutuhkan multitafsir. Sejak dini peserta didik kita sudah dibiasakan mengerjakan pekerjaan yang bertentangan dengan hati nurani dan akal sehatnya. Peserta didik kita tidak dibiasakan untuk berargumen dan menghargai perbedaan. Itulah sebabnya mesyarakat kita kadang sulit menerima pluralitas dalam kelompoknya. Menurut Asvi sistem multiple choice harusnya diganti dengan esai. Kepada peserta didik ditanyakan pendapatnya tentang suatu peristiwa sejarah. Jawaban yang diterima bisa saja beragam namun disinilah kita melatih mereka untuk melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda. Sejalan dengan  sistem pengajaran yang dialogis maka pelajaran sejarah sedikit banyaknya dapat menyumbang kepada terciptanya masyarakat Indonesia yang lebih demokratis di masa datang.[3]

            Dalam melakukan evaluasi sejarah guru kita masih bayak bermain pada ranah kognitif C1 (pengetahuan) kemampuan mengingat seperti, apa, siapa, dimana, dan kapan? Penyebabnya karena pembelajaran sejarah hanya dibatasi oleh data dan fakta belaka. Jadi jika guru ingin mengubah gaya belajar menjadi lebih bermakna seperti membiarkan siswa bermain dengan imajinasi mereka maka jenis evaluasinya harus berubah seperti cara membuat pertanyaan. Guru kreatif hendaknya terampil dalam mengajukan pertanyaan yang merangsang pemikiran divergen seperti

  1. Apa yang terjadi jika…?
  2. Alternatif apa yang kamu pikirkan…?
  3. Apa yang berbeda jika kita mengubah…?
  4. Hal apalagi yang mungkin terjadi…?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akan memicu imajinasi, visualisasi dan ekspresi peserta didik dalam memandang sebuah peristiwa sejarah.[4]

            Penilaian K13 menggunakan konsep penilaian autentik. Sebuah penilaian yang menilai kemampuan peserta didik dengan berbagai cara bukan hanya dari hasil ulangan tertulis. Bagaimana penilaian ini bisa diterapkan dalam pembelajaran sejarah? Ada beberapa hal yang bisa digunakan guru untuk menilai prestasi peserta didik dalam penilaian autentik seperti proyek, hasil tes tertulis, portofolio, PR, kuis, presentasi, demonstrasi, laporan jurnal, karya tulis, kelompok diskusi, dan wawancara.[5] Instrumen penilaian seperti itu sangat membantu guru sejarah untuk mengembangkan pembelajaran berdasarkan kreativitas peserta didik. Guru dapat memberikan tugas-tugas proyek menulis kepada peserta didik tentang sebuah peristiwa sejarah dan dihubungkan dengan konteks berbangsa dan bernegara sekarang. Misalnya masalah sejarah lahirnya pancasila, kontroversi dan mengapa pancasila harus dipertahankan bisa menjadi proyek menarik bagi peserta didik untuk menyampaikan sudut pandang mereka.

            Memang banyak guru sejarah merasa sulit melakukan tes seperti itu karena butuh banyak waktu dan pikiran untuk menilai hasil kerja peserta didik. Guru-guru sejarah kita hanya mau cari gampang dengan memberi jenis tes berupa pilihan ganda yang mudah untuk diperiksa. Sekali lagi ini hanya masalah kenyamanan! Guru sejarah sudah tidak mau direpotkan memeriksa dan menganalisa karya peserta didik.

            Dunia berubah, menurut UNESCO kompetensi yang dibutuhkan di abad 21 adalah kreativitas dan inovasi, kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, komunikasi dan kolaborasi keterampilan sosial dan lintas budaya, dan penguasaan informasi. Pendidikan kita harus mempersiapkan peserta didik sedini mungkin agar bisa bersaing dimasa yang akan datang. Model pembelajaran pun berubah, guru harus mengakomodir kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis dan kreativitas peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Semuanya itu hanya dapat terwujud apabila ketahanan nasional kita kuat.

Kekuatan suatu bangsa ada dalam diri manusianya. Jika manusianya mudah dipecah belah maka habislah peradaban itu. Sejarah mencatat kita pernah hancur oleh sistem devide et emperanya bangsa penjajah. Tapi sejarah juga mencatat bahwa kita menjadi bangsa merdeka karena persatuan dan kesadaran bersama akan arti penting kebebasan. Waktu itu kita tidak mempersoalkan agama, ras dan suku. Kita hanya menginginkan kedamaian dan kemerdekaan. Jangan sekali-kali melupakan sejarah kata Bung Karno. Banyak hal telah kita korbankan untuk berdirinya NKRI. Jadi sekaranglah waktunya untuk berkarya demi kejayaan bangsa. Habis tenaga kita jika kita hanya ribut dengan perbedaan! Bangsa lain sudah tinggal landas menatap dunia yang terus berubah. Bagaimana dengan kita?

Wahai generasi tua, stop bertengkar, menghujat dan memfitnah! Lihatlah anak-anakmu yang sementara belajar di sekolah! Jangan rusak masa depan mereka! Jangan biarkan dendam dan kebencian menjadi harta yang kau wariskan kepada mereka!

Untuk semua guru sejarah di Indonesia jadilah garda terdepan dalam mengawal cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 dengan menjadi pendidik yang tidak hanya menjadi “guru kurikulum” tapi guru yang menginspirasi peserta didik untuk mempunyai rasa memiliki akan negeri tercinta ini.

Jadilah teladan…

Jadilah legenda…

Untuk Indonesia Raya!!!

 

 

 

Kawangkoan 26 mei 2017

Sebuah kegelisahan

[1] Profesi Guru: KKNI dan Pembelajarannya, disampaikan saat kuliah umum mahasiswa PPG SM3T di Aula P3G Gedung Phinisi UNM tanggal 29 Mei 2015.

[2] Dr. M Hosnan, Dipl.Ed. M.Pd, Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21, Ghalia:Bogor 2014, hal 34-39

[3] Asvi Warman Adam, Membongkar manipulasi sejarah, Kompas: Jakarta, 2009, hal 196-197

[4] Ridwan Abdullah Sani, Pembelajaran Saintifik, Bumi Aksara:Jakarta, 2014 hal 22-25

[5] Dr. Kunandar, Penilaian Autentik. Rajagrafindo Persada:Jakarta, 2014 hal 40,41

Kabut di Bukit Emung

Kabut di Bukit Emung

Oleh Bung Neo

IMG-20170129-WA0008

Biasanya lonceng gereja membangunkanku bersamaan dengan bunyi sepatu para nyonya-nyonya yang mungkin tidak punya pakaian untuk dipamerkan pada pagi itu. Ada juga tuan-tuan yang mengikuti burung taon yang cepat tersadar karena cap tikus semalam (disini arak yang paling terkenal dilabeli dengan tokoh Disney yang biasa terlihat di t-shirt anak-anak).

Kabut di bukit emung

Lari melawan dingin

Kejar awan dan burung

Lupa mengirim pesan

Aku lebih cepat bangun dari alarmku bahkan lonceng gereja. Manusia memang tidak sepadan dengan waktu. Kita tak kan pernah mengalahkan perputaran arus waktu. Kita tak bisa menahannya walau sebentar. Itulah sebabnya aku suka pada sejarah karena ia adalah kenangan.

Kalau waktu adalah teman

Aku akan menahannya

Jika mungkin

Sayang bukan nyata

Tapi waktu memang bisa berhenti. Kapan? Cobalah berciuman dengan pasanganmu maka kau akan merasakan berhentinya detik, menit, jam dan bahkan hari seolah tetap pada kalendernya. Itulah “keabadian dalam sesaat”. Kata George Bernard Shaw.

Pelukan yang menghentikan

detakan jantung

Ciuman yang membuang

nafas menjadi kehidupan

aku berterimakasih kepada matahari. Ia tidak terlalu dekat tidak pula jauh. Energy dalam seberkas cahayanya menghidupkan kehidupan meski pagi ini kabut menyelimuti bukit emung. Tapi aku yakin akan kesetiaan matahari, ia akan tetap ada dan kalaupun ia lupa, tetumbuhan dan binatang siap menjadi perantara keberlangsungan dan keseimbangan kehidupan. Mereka bilang itu fotosintesis.

Jika cinta adalah anugerah

Maka itu adalah cahaya yang menyentuh mulut

dedaunan kemudian menghembuskan udara

yang menghidupkan pembuat sejarah.

 

14 Mei 2017

Minggu pagi di Bukit Emung

 

Menguak Mitos Cinta

IMG_6692Menguak Mitos Cinta

Oleh Bung Neo

Aku tak percaya kepada cinta. Ia hanya masalah balas budi, kau tidak memberi maka kau tidak menerima. Cinta itu candu.

Jangan terlalu berharap padanya. Jangan terlalu bergantung padanya. Hidupmu adalah kebebasan.

Cinta membuatmu terkurung. Berikanlah cinta ketidakpedulian maka kau akan merasa hidupmu adalah kebebasan.

Dunia ini gila karena cinta. Perang ada bukan karena kebencian justru cintalah penyebab kebengisan.

Bunga, kata pujangga itu adalah lambang cinta. Lilin, kata pendeta itu adalah lambang kedamaian.

Apa arti cinta kalau bunga juga berduri dan beracun?

Apa arti damai kalau lilin juga meleleh dan membakar?

Mereka mungkin beralasan lilin melambangkan pengorbanan. Ia rela membakar dirinya demi menerangi orang lain.

Itukah yang dinamakan cinta?

Ya cinta itu merusak damai, karena setelah lilin padam ia hanya meninggalkan kegelapan.

Semoga aku tidak dianggap penista hanya karena cinta dianggap sebagai Tuhan.

Kenapa domba selalu lebih baik dari kambing sehingga orang baik dipanggil domba dan kambing selalu jahat?

Padahal setiap sabtu malam orang yang sedang bercinta memburu kambing yang sudah jadi sate di pembakaran.

Adakah cinta disitu?

Cinta adalah kenangan. “Tapi cinta itu fosil bukan abu. Tidak bisa diubah menjadi abu” kata Pingkan kepada Toar dalam novel Sapardi Djoko Damono.

Sudah saatnya kita mengubah definisi cinta. Cinta hanya berarti sewaktu manusia menganggap ia telah tiada.

Cinta selalu diakhiri dengan ketiadaan. Sejatinya cinta bukanlah keabadian. Cinta hanyalah awal dan akhir kemanusiaan.

11 Mei 2017

Marah pada harapan

Kepada Eropa

Kepada Eropa

Oleh Bung Neo

 

Ancaman memberi kekuatan kepada yang terancam untuk bersatu. Setiap perbedaan yang mulanya menjadi pembatas rupanya tak cukup untuk membendung arus kemerdekaan individu menghadapi bahaya dari luar yang berpotensi merusak tatanan damai dari setiap bangsa yang mengagungkan kebebasan dan perdamaian.

Eropa abad pertengahan pernah merasakan ancaman dari berkembangnya peradaban Islam sehingga berujung pada perang salib sampai akhirnya merelakan Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Ottoman pada tahun 1453. Peristiwa ini banyak disebut sebagai dasar awal terbentuknya identitas Eropa sebagai masyarakat yang bersatu.[1]

Sejarah adalah perubahan, kalau dulu Charles Martel mengalahkan orang-orang Arab di Tours (Perancis) tahun 732 untuk menggagalkan langkah ekspansi terakhir bangsa Arab menguasai tanah Eropa maka sekarang Perancis adalah Negara penampung pengungsi atau imigran terbanyak setelah Jerman terutama imigran asal Aljazair. Menurut data yang dikutip dari majalah National Geographic edisi oktober 2016 mayoritas pengungsi yang datang ke benua Eropa adalah korban perang dan mencari suaka perlindungan yang menurut hukum internasional tidak boleh diusir.

Eropa terguncang! Pro dan kontra muncul bahkan berpotensi memecah belah persatuan eropa yang selama ini dikenal dengan soliditas Uni Eropanya. Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa atau yang dikenal dengan istilah Brexit yang salahsatu penyebabnya adalah masalah imigran asing yang masuk ke Inggris. Memang menurut data dari Nat Geo Inggris berada di urutan ketiga penampung imigran (6,7%) setelah Jerman (29%) dan Perancis (13,2%).

Sentimen anti muslim memang lagi marak di eropa sekarang khususnya di Negara-negara yang menjadi sasaran aksi terror seperti Inggris, Perancis, Belgia dan Jerman. Islamofobia mulai menjangkiti Perancis apalagi dimasa kampanye pemilihan presiden terlihat calon-calon dari kelompok kanan seperti Francois Filon dan Marine Le Pen dengan tegas bersuara menentang islam dalam setiap kampanyenya. Padahal Perancis adalah Negara yang memiliki komunitas muslim terbesar di eropa. Menurut majalah tempo edisi 30 april 2017 jumlah penduduk muslim Perancis mendekati 5 juta jiwa atau 7,5 %  dari populasi. Mereka datang bukan tanpa sebab. Perancis sendirilah yang membuka keran imigran untuk pekerja murah setelah perang dunia II.

Apa yang terjadi dengan Eropa? Masyarakat yang mendasarkan kebudayaannya akan penghargaan kepada individu dan ilmu pengetahuan seharusnya sudah lama belajar dari sejarah. Agama dan perang telah menghiasi riwayat eropa. Dari barbarian sampai katanya yang tercerahkan telah dirasakan oleh benua biru yang konon namanya diambil dari nama puteri raja Tyrus yang pernah berkuasa di daerah Lebanon. Dari abad kegelapan yang melahirkan Reinassance menuju Aufklarung dan melewati berbagai macam revolusi dan dua perang dunia yang tak sedikit memakan korban seharusnya eropa sudah belajar tentang arti penting kemanusiaan.

Agama bukanlah tujuan, agama hanyalah tameng untuk menancapkan kekuasaan. Oh sayang sekali daya spiritual manusia telah diserap oleh setan-setan yang haus akan darah murni kemanusiaan. Kenapa kita harus membangun tembok pemisah? Tidakkah kita belajar dari seberapa besar penderitaan dan kemalangan sewaktu Berlin dibagi dua oleh mereka yang menamakan diri “Demokrasi” dan “Komunisme”?

Mengapa prasangka ras dan agama kita biarkan bagaikan air mengalir yang menumpuk menjadi tsunami yang menghancurkan? Sudahkah kita lupa dengan beribu-ribu orang dibawa ke pembantaian karena mereka adalah yahudi? Sudahkah kita lupa dengan wanita dan anak-anak bosnia tak berdosa yang dibantai karena mereka muslim?

Agama ada bukan untuk membuat jurang, agama ada untuk membuat sebuah penghubung! Ya jembatan! Untuk selanjutnya terserah manusia, tak soal anda membungkuk, berlutut atau melompat memanggil namaNYA. Tuhan menunggumu di seberang sana.

Agama ada bukan untuk dipamerkan siapa yang lebih layak masuk surga atau neraka, agama ada untuk pencerahan batiniah yang adalah surga itu sendiri. untuk selanjutnya terserah manusia memilih berhati jahat atau malaikat. Tuhan menunggumu di seberang sana.

Untuk eropa yang sedang dilanda krisis identitas, anda galau bukan karena agama. toh banyak diantara anda sekarang adalah ateis, kenapa mempertanyakan iman disaat anda sudah jauh-jauh hari meninggalkannya bahkan berkata agama adalah candu. Mungkin sekarang Tuhan telah membuka jalan itu bagi pengungsi yang kau tolak itu. Tuhan itu universal dan ia tak pernah menyesal melahirkan ras manusia! Penyembahan kepadaNYA hanya masalah kebudayaan dan peradaban.

06052017

[1] Eropa sebagai kekuatan dunia, C.P.F Luhulima 1999, Gramedia Pustaka Utama hal 109

Tua Lokon

P_20170428_090335_BFTua Lokon

Oleh Bung Neo

Kami bertiga[1] memulai perjalanan untuk bertemu Tua Lokon dengan berjalan dari Lansot sampai depan triple M. di situ berjejer penjual nasi kuning berebut mereka yang lapar di jumat pagi yang cerah itu.

Angkot-angkot berwarna biru sudah mulai ramai menderu jalanan kota. Kami pun menaiki salahsatu pasukan biru yang bertuliskan Kinilow. Tak sampai lima menit kami sudah berada tepat di depan gereja St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih 15-20 menit untuk sampai disebuah tambang sirtu alias pasir dan batu. Sebuah jalan kecil yang biasanya digunakan oleh warga sekitar untuk pergi ke kebun ternyata adalah akses masuk untuk memulai pendakian. (tidak ada petunjuk jalan selain modal bertanya dan mengikuti jejak langkah orang).

Setelah melewati jalan kebun, akses satu-satunya untuk melakukan pendakian adalah sungai kering yang merupakan tempat lewat larva pijar. Area ini penuh dengan pasir dan berbatu (tebing). Beberapa kali kami harus menjadi seperti atlit panjat tebing amatir mencari pijakan kaki dan tangan untuk mulai memanjat.

Semakin dekat dengan Tua Lokon, bau belerang semakin tercium . akhirnya kami disambut oleh batu-batu tajam ukuran kecil dan besar yang berdiri megah di atas pasir berkerikil. Kami sudah dekat dengan kawah Tompaluan tempat terjadinya erupsi apabila Gunung Lokon meletus.

Tua Lokon menyambut kami dengan langit cerah dan angin sepoi-sepoi yang membuat kami merasa nyaman berada di dekat kawah yang masih mengeluarkan asap panas. (sebagai pengingat apabila melakukan pendakian ke kawah Tompaluan ada baiknya memakai celana panjang dan kaos berlengan panjang untuk berjaga dari luka goresan apabila tergelincir di medan yang berbatu dan berpasir.

Berada dekat dengan Tua Lokon yang dalam bahasa setempat berarti “tertua” “terbesar” “orang yang sudah tua”, kembali mengajarkan ku bahwa kemegahan dan keindahan kehidupan pasti diwarnai dengan penderitaan dan perjuangan. Untuk merasakan sebuah kepuasan kita harus mengikuti proses yang tak selamanya disukai. Untuk menikmati canda tawa lepas kita harus melewati tetesan air mata yang kadang deras. Hidup tak selamanya keras, hidup tak selamanya menangis.

 

Aku merenung…

KebesaranNya melahirkan Lokon

Aku sekarang berada bersamanya

Membagi kepulan-kepulan asap

cintaNya untukmu

 

Setiap pijakan adalah batu

Setiap langkah mencium pasir

Mengenal jarak dan waktu

Apakah kau berdesir?

 

Aku merenung…

 

Makalawang pergi sedih

Meninggalkan tanah

Tanpa dendam amarah

Berjalan untuk pindah

 

Apakah masih ada kebahagiaan

di sana?

Penghuni baru sepertinya

Ingin merubah suasana

 

Aku merenung…

 

Pinontoan, itukah yang

kau berikan untuk istrimu

Ambilingan?

Berbagi cinta dengan penghuni

Klabat

Membiarkan kehidupan ada

Meski kau sendiri berkurang

Tak lagi hebat

 

28042017

 

 

[1] Andre Monoarfa, Randi Lengkey, Christian Tuwo.