KARTINI DAN ISA ALMASIH

KARTINI DAN ISA ALMASIH

Oleh Bung Neo

“yaa kyapa Cuma sadiki dank”[1] ujar seorang bocah laki-laki kepada ibunya. “ngana suka banyak so”[2] jawab ibunya dengan logat melayu manado yang mulai meninggi.

Aku berada di kursi C baris 6 sewaktu rombongan keluarga tanpa ayah itu lewat. Mulanya aku merasa risih karena mungkin Cuma aku cowok yang datang sendirian nonton film “KARTINI”. Kebayangkan?? Film yang sangat bernuansa “feminist” tersebut harusnya ditonton oleh kaum hawa atau paling tidak oleh cowok yang terpaksa nemenin ceweknya karena nggak ada lagi film lain yang harus ditonton.

Tapi syukurlah dari sekitar 15 orang penonton ternyata ada juga om-om yang datang nonton sendirian pas disamping aku. Eeh jangan salahsangka dulu maksud aku, kami dibatasi oleh tangga pemisah jadi dia duduk di seberang aku hehehe.

Kalau begitu apakah Kartini memang hanya milik perempuan saja? Untuk apa kisah Kartini diajarkan dalam sejarah Indonesia, difilmkan bahkan tanggal lahirnya selalu diperingati sebagai perayaan tahunan? Mereka bilang agar supaya kaum perempuan dapat bebas dari kungkungan kebodohan dan terlepas dari eksploitasi dan ketergantungan terhadap laki-laki. Itu mungkin sebabnya di Indonesia masih ada kementerian pemberdayaan perempuan!

Menganggap perempuan perlu diberdayakan justru bagiku itu adalah penghinaan kepada eksistensi perempuan sendiri. di era sekarang ini perempuan sebenarnya sudah bebas merdeka mengutarakan bahkan berkarya sesuai kehendak hati mereka. Tidak ada kungkungan bagi mereka. Justru yang membuat perempuan terpenjara itu disebabkan oleh mereka sendiri. stigma bahwa perempuan itu lemah dan perlu dilindungi tetap saja dimanfaatkan oleh perempuan sebagai alat untuk memperlihatkan ketidakmampuan mereka dalam urusan-urusan publik.

Peranan perempuan seharusnya bukan karena dijatahkan harus berbagi dengan laki-laki. Kalau memang dalam satu lembaga misalnya sebuah kabinet, menterinya ternyata perempuan semua mengapa tidak? Dari Kartini kita belajar bahwa perempuan bukan hanya urusan konde atau pakaian tapi perempuan itu juga berurusan dengan otak. Soe Hok Gie pernah berkata: “perempuan akan selalu di bawah laki-laki kalau yang diurusi hanya baju dan kecantikan”.

            Perempuan dan masyarakat kita mungkin tidak begitu peduli lagi dengan arti sejarah perjuangan Kartini. Kisah Kartini ibarat telur dan kelinci paskah serta kisah kubur kosong  yang setiap tahun dirayakan dan dikisahkan kepada anak sekolah minggu di gereja tanpa ada pemaknaan tentang arti penting kematian, kebangkitan dan kemenangan Isa Al-Masih. Kisah itu bagaikan kisah yang berulang ulang menjadi suatu tradisi.

Untuk apa mengingat kebebasan disaat kita sementara menikmatinya? Tabiat manusia memang begitu sewaktu senang mereka lupa pada sejarah. Kartini dan Isa Al-Masih adalah tokoh sejarah. Apakah karena sejarah mereka akhirnya dilupakan? Mereka tidak dilupakan hanya saja mereka diabaikan. Setiap tahun ada peringatan tentang Kartini dan paskah tapi manusia tetap saja membiarkan dirinya terkungkung  dalam kebodohan dan kedosaan.

 

24 April 2017

[1] Kenapa hanya sedikit

[2] Memangnya kau suka banyak

Iklan

Daun Woka

This is the post excerpt.

4600921202_5852742363_z
nasi Kuning daun woka (sumber gbr flickr)

aku sebenarnya agak kikuk menggunakan nama ini (daun woka) karena maknanya bagi orang Minahasa (menurut kamus marga “fam” minahasa) sangat berkaitan dengan posisi/strata yang dihormati meski orang Minahasa sendiri tidak mengenal pembagian kasta atau kebangsawanan sebelum “kompeni” masuk mencaplok tanah Toar dan Lumimuut diikuti dengan penguasaan oleh kerajaan-kerajaan sekitar yang feodal. menurut kamus itu daun woka yang kuning keemasan adalah dasar munculnya fam TUWO yang melambangkan keperibadian seorang pemimpin yang mulia dan dihormati. tapi aku tak mau menjadi pemimpin yang dihormati aku ingin jadi orang kecil yang terhormat meski hanya menjadi “pembungkus” nasi kuning yang dijual dibeberapa warung pinggiran kota Manado. ya daun woka yang menjadi hiasan di acara-acara…setidaknya itulah kebanggaan yang kumiliki dengan menyandang fam TUWO dari leluhur. menjadi yang dilihat tanpa mata, dirasa tanpa hati namun tetap ada dan memberi. berkarya dalam kesunyian…