Pukul Sembilan Pagi

Pukul Sembilan Pagi

oleh Bung Neo

hiking to triangle hills at Molagi Eragayam (photo credit by Alangga)
hiking to triangle hills at Molagi Eragayam (photo credit by Alangga)

Aku mendengar ada bunyi yang keluar dari dalam ruangan itu

Suara keyboard computer yang mendiktekan huruf demi huruf

Mengikuti ayunan jemari yang tak pernah tahu kata maaf

Puisimu adalah bunyi dari kesunyianmu

 

Aku mendengar ada pekikkan ayam jantan

Memanggil pulang si betina dari peraduannya

Cinta lahir dari dalam hutan

Memanggil setiap pejuang berujung bulan madunya

 

Engkau masih seperti baris kata pada layar komputerku

Tersusun oleh apa yang sedang aku pikirkan

Lebih mudah menekan tombol backspace

Dan aku selalu kembali pada control save

 

Jika nanti aku mematikan komputerku

Itu berarti aku sedang kembali ke dalam hutan

Berharap ada suara alam yang membawaku padamu

Berharap ada pendarmu yang membuatku tetap bertahan

 

Eragayam, 05 November 2018

Iklan

Fiat Voluntas Tua

Fiat Voluntas Tua

Oleh Bung Neo

IMG_20150710_045932

Sekali lagi sejarah itu berulang

Dan semuanya menghilang tanpa penghalang

Di sana mereka sedang ketakutan

Mencari apa saja yang bisa menjadi harapan

 

Berlari mungkin mencari sekali lagi

Fiat voluntas tua

Aku mungkin tak’kan pernah mengerti

Dan mereka pun tak bisa menjawab

Apa yang masih menjadi misteri

Fiat voluntas tua

 

Aku percaya dengan keselamatan darimu

Namun aku ragu dengan keselamatanku

Fiat voluntas tua

Aku memilih diam dan menyimpan

Semuanya dalam hati

Fiat voluntas tua

 

Eragayam , 19 November 2018

Menemukanmu Di Antara Halaman Buku

Menemukanmu Di Antara Halaman Buku

Oleh Bung Neo

della ida

 

Ada buku di bawah bendera revolusi di meja belajarku

Bukunya tebal setebal hatimu. Tapi aku suka membacanya

Mungkin karena pengarangnya adalah Sukarno

Setidaknya dari dia aku belajar tentang wanita

 

Tapi aku bukan womanizer. Aku adalah sejatinya

pengagum Sarinah yang penuh kisah cinta

Setara ibu mengasuh yang bukan kandungannya

mengagumi dan mencintai dalam kesederhanaan

 

Aku juga melihat kesederhanaan dalam buku

Dialektika Marxis di deretan lemari buku

Ia tidak tebal tapi penuh kerumitan

Terjadi dialektika antara aku dan kamu

 

Selalu ada pertentangan antara kelas hati

dan kelas logika. Kita sungguh berbeda

Dalam keduanya tapi terus saja aku membacanya

Meski tak kunjung ku pahami

 

Aku bukan Sukarno juga bukan Karl Marx

Aku bukan pejuang bukan revolusioner

Mencintai dalam ruang yang imajiner

Sebatas wacana dan diskusi

 

Tak lama lagi aku akan selesai membacanya

Apakah ada kamu dalam penghujung cerita mereka?

Aku akan menulisnya dalam catatanku

Terserah mau dibukukan atau hanya sebatas kertas

dalam tumpukan berkas

 

Kawangkoan

01 September 2017

Ada Cinta di Indonesia

Ada Cinta di Indonesia

Oleh Bung Neo

 oh manado2

Aku terbuai oleh musikalisasi puisi “Aku Melihat Indonesia” karya bung Karno yang dinyanyikan oleh Rodinda. Melihat segala sesuatu yang ada di negeri ini membawaku pada pandangan cinta bernama Indonesia. Wajah yang dulu tidak pernah mementingkan ego dan selalu bersatu, jikalau ditemui oleh perbedaan maka itu akan diselesaikan secara musyawarah mufakat.

Indonesia adalah puisi pertama yang aku kenal. Ia mengenalkanku pada wajah-wajah penuh simpati dan antipati; empati dan sakit hati; wajah mulus yang tulus dan wajah keriput yang ribut. Semuanya ada dalam pandanganku di negeri yang konon adalah zamrud katulistiwa.

Aku bukanlah penganut chauvinism yang buta akan kekurangan dan memuja-muji keunggulan bangsa sendiri tanpa menghargai bangsa lain. Indonesia adalah baik buruknya kita. tempat sakit hati pernah menjadi bagian dari hidup. Tempat ucapan selamat tinggal sering terdengar.

Indonesia adalah saksi pada saat aku terbangun setiap pukul 04.00 pagi dan terjebak dalam setiap larik puisi Aan Mansyur:

“dari jendela kau lihat bintang sudah lama tanggal…

            Bagai kalimat selamat tinggal…”[1]

Aku akan segera bangun dan mencari kamar kecil. Tiba-tiba perutku terasa mual dan meriang. Aku tak sekadar membuang hajat namun merenung selama hayat dikandung badan.

Aku kasihan denganmu karena engkau tidak lebih dari seorang penyair yang kehabisan kata-kata. Bukan sekadar kata tapi cinta. Larik puisi Aan terus berlanjut:

“kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang”.

Aku menghibur diri atas kenyataan ini, karena puisi itu diilhamkan kepadaku, bukan untukmu. Larik-larik itu seakan menjadi butir-butir peluru yang ditembakkan pada masa gencatan senjata.

“jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan”.

Selalu ada cinta dalam ibu Indonesia. Kita tidak perlu larut dalam kumpulan puisi “Tidak Ada New York Hari Ini”, karena kota-kota di Indonesia jauh lebih romantis dari Amerika Serikat. Kita masih bisa mencari pencerahan di seberang mutiara pulau-pulau nusantara.

Batas tanah, udara, dan laut hanya suatu teritorial yang bukan tak bisa dilewati. Kita masih bisa berdiri di atas satu cinta, bernafas dengan satu cinta, dan minum dari sumber cinta yang juga hanya satu. Negeri ini tidak akan pernah kehabisan fajar meski akan selalu berhadapan dengan senja. Jika malam terlalu dalam, pejamkanlah matamu karena besok fajar akan lahir kembali.

 

Kawangkoan

14 Juni 2018

[1] Larik-larik puisi yang ditulis miring adalah kutipan yang diambil dari buku puisi Aan Mansyur “Tidak Ada New York Hari Ini”. penerbit gramedia 2016.

Bung Karno Selamanya

Bung Karno Selamanya

(21 Juni 1970-21 Juni 2018)

Oleh Bung Neo

 

sketsa oleh Ciquita
sketsa oleh Ciquita

“suara hati seorang Sukarnois”

 

Aku tidak mengerti mengapa aku begitu mengagumimu bung! Jika orang bertanya, aku tidak bisa menjelaskan alasan rasional tentang kecintaanku terhadapmu. Mungkin tidak tepat juga kalau dikaitkan dengan hal-hal yang emosional karena semua terjadi begitu saja sejak pertama kali aku melihat foto putrimu Adis, Sembilan belas tahun yang lalu.

Waktu itu putrimu baru saja mendirikan partai yang merupakan lanjutan dari PDI yang telah diganggu dan dikuasai oleh penguasa. Oomku membawa poster Adis yang bersanding dengan potretmu bung. Aku masih ingat ada slogan tertera di sana, “benar katakan benar, salah katakan salah”. Seketika itu juga aku telah menjadi pengagummu dan putrimu.

Apa yang dialami oleh putra-putrimu selama orde baru sangat menyentuh hatiku. Ruang gerak mereka dibatasi hanya karena menyandang namamu. Tak hanya mereka—bahkan nasib orang-orang yang menjadi pendukungmu tak jelas rimbanya; ada yang hilang, ada yang dibantai, dan beruntung kalau masih hidup namun dibuat susah hidupnya.

Aku tidak heran jikalau penguasa berbuat seperti itu karena mereka juga memperlakukanmu dengan kejam. Mereka mengurungmu disaat engkau sedang sakit. Menjauhkanmu dari keluarga, sahabat dan teristimewa rakyat yang engkau sangat cintai. Senista itukah engkau bung, sampai-sampai mereka mengirim dokter hewan untuk merawatmu?

Bicaralah bung! Aku tahu engkau sedang berbahagia di alam sana. Namun kami pendukungmu yang hidup jauh setelah masamu masih sangat membenci jenderal pembunuh itu! Kami masih menangis bung, setiap tanggal 21 juni tiba hati kami masih bergetar dengan getir marah dan dendam atas perlakuan penguasa di akhir hidupmu.

Engkau pernah berjuang melalui “via dolorosa” yang mengharuskanmu menggunakan hampir seluruh hidupmu di penjara dan pengasingan. Namun apa yang dibuat oleh jenderal pembunuh itu kepadamu? Ia memang setan berbulu domba. Bahkan lama setelah ia mati pun dosa-dosanya masih saja menjadi virus bagi bangsa ini. ia tak mendapat tempat dalam hatiku dan para pendukungmu bung! Hanya parasit yang masih setia berteriak “merindukan zamannya”.

Syukurlah aku bisa belajar tentangmu bung. Engkau begitu rendah hati dan bijaksana dalam melihat situasi Indonesia di penghujung pemerintahanmu. Engkau bersedia mundur agar tidak banyak anak bangsa yang menjadi korban perang saudara. Engkau memang bapak persatuan Indonesia.

Empat puluh delapan tahun yang lalu engkau pergi meninggalkan kami namun itu tak cukup untuk menghapusmu dari ingatan generasi ke generasi, karena engkau akan selalu menjadi putra sang fajar yang abadi dalam cakrawala hati dan pikiran rakyat Indonesia.

 

21 Juni 2018

Kawangkoan

Cerita Cinta yang Terpenggal

Cerita Cinta yang Terpenggal

Oleh Bung Neo

10153072_742957702394799_144391774_n

Ada syahdu di pagi itu sewaktu lonceng notifikasi twitterku berbunyi. Sebuah direct message yang ditunggu-tunggu kurang lebih dua belas jam. Cerah di minggu pagi seolah buram untuk sepersekian detik jarum jam berdenting. Ada tenaga yang keluar dari tubuhku. Apakah itu adalah “eros” yang selama ini terpendam oleh keegoisanku? Sepertinya begitu.

Tatapanku nanar dan kosong tak memedulikan lagi layar notebook yang terus berbisik menghukumku dengan kombinasi huruf yang seolah-olah menjadi formal dengan icon-icon senyum yang menyimpulkan, “it’s ok, never mind, tidak apa-apa”. Sebegitu mudahnyakah?

Potongan-potongan dua belas bulan terakhir berganti begitu lambat dalam kekosongan. Sebuah kronik yang meneguhkan besarnya kesalahanku. Masa lalu kembali memanggilku bukan sebagai kenangan tapi sebagai hakim yang menghakimi—satu demi satu ia tersusun sebagai sebuah kronologi yang diakronis.

Dua belas jam jelas terlalu singkat jika dibandingkan dengan dua belas bulan penantiannya. Beberapa potongan yang terulang itu terfokus pada beberapa buku pemberian seorang kakak: lara, garis waktu, pain(t), cerita cinta tanpa cinta, serta satu kumpulan sajak yang bernas: dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta.

Jika aku harus meresensi semua buku tersebut hanya ada satu kata untuk itu yakni: aku! Oh tidak, apakah kak Sat mengetahui apa yang sedang aku rasakan sehingga ia harus memberi buku-buku itu padaku? Sepertinya ia hanya menjadi titian pesan Tuhan kepadaku bahwa aku harus segera membuka hatiku yang tertutup untuk sebuah pertanyaan dan penjelasan kepada seseorang yang sedang menungguku dengan harap.

Tiba-tiba potongan itu terhenti dan nyawaku kembali ke dalam tubuhku sehingga gabungan huruf yang abstrak tadi mulai kembali menjadi jelas. Aku terlambat membuka pintu! Tinggallah itu sebagai puisi yang tak terucapkan. Sebuah cerita cinta tanpa cinta; dan apakah semuanya akan berujung pada “pain”?

Aku belum selesai membaca buku Pain(t), namun sepertinya aku sudah bisa membaca akhir ceritanya. Aku menutup notebook seraya lonceng gereja berdentang dengan sukacita. Aku mendengar instrumen merdu dalam kepalaku: Ave Maria…

“jadilah padaku menurut perkataanMu”. Aku tersenyum karena sosok wanita suci itu tersenyum dan menguatkanku seperti patung Pieta yang selalu menghangatkan dan menenangkan.

Ada syahdu di hari minggu itu, pun juga sedu sedan. Dalam beberapa hari lagi aku juga akan menemukan hari minggu yang lain. hari-hari yang akan kugunakan untuk menunggumu di pintu itu, berharap suatu saat nanti ketika aku membukanya, kau berdiri di situ—aku dan ksau melanjutkan kisah yang terpenggal. Bagiku sejarah bisa berulang namun kenyataan tidak selalu mengulang hal yang sama. Sejarah dan kenyataan adalah pengalaman dan guru. Jika keduanya bertemu mungkinkah sejarah baru tercipta?

 

Kawangkoan

19 juni 2018