Ada Cinta di Indonesia

Ada Cinta di Indonesia

Oleh Bung Neo

 oh manado2

Aku terbuai oleh musikalisasi puisi “Aku Melihat Indonesia” karya bung Karno yang dinyanyikan oleh Rodinda. Melihat segala sesuatu yang ada di negeri ini membawaku pada pandangan cinta bernama Indonesia. Wajah yang dulu tidak pernah mementingkan ego dan selalu bersatu, jikalau ditemui oleh perbedaan maka itu akan diselesaikan secara musyawarah mufakat.

Indonesia adalah puisi pertama yang aku kenal. Ia mengenalkanku pada wajah-wajah penuh simpati dan antipati; empati dan sakit hati; wajah mulus yang tulus dan wajah keriput yang ribut. Semuanya ada dalam pandanganku di negeri yang konon adalah zamrud katulistiwa.

Aku bukanlah penganut chauvinism yang buta akan kekurangan dan memuja-muji keunggulan bangsa sendiri tanpa menghargai bangsa lain. Indonesia adalah baik buruknya kita. tempat sakit hati pernah menjadi bagian dari hidup. Tempat ucapan selamat tinggal sering terdengar.

Indonesia adalah saksi pada saat aku terbangun setiap pukul 04.00 pagi dan terjebak dalam setiap larik puisi Aan Mansyur:

“dari jendela kau lihat bintang sudah lama tanggal…

            Bagai kalimat selamat tinggal…”[1]

Aku akan segera bangun dan mencari kamar kecil. Tiba-tiba perutku terasa mual dan meriang. Aku tak sekadar membuang hajat namun merenung selama hayat dikandung badan.

Aku kasihan denganmu karena engkau tidak lebih dari seorang penyair yang kehabisan kata-kata. Bukan sekadar kata tapi cinta. Larik puisi Aan terus berlanjut:

“kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang”.

Aku menghibur diri atas kenyataan ini, karena puisi itu diilhamkan kepadaku, bukan untukmu. Larik-larik itu seakan menjadi butir-butir peluru yang ditembakkan pada masa gencatan senjata.

“jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan”.

Selalu ada cinta dalam ibu Indonesia. Kita tidak perlu larut dalam kumpulan puisi “Tidak Ada New York Hari Ini”, karena kota-kota di Indonesia jauh lebih romantis dari Amerika Serikat. Kita masih bisa mencari pencerahan di seberang mutiara pulau-pulau nusantara.

Batas tanah, udara, dan laut hanya suatu teritorial yang bukan tak bisa dilewati. Kita masih bisa berdiri di atas satu cinta, bernafas dengan satu cinta, dan minum dari sumber cinta yang juga hanya satu. Negeri ini tidak akan pernah kehabisan fajar meski akan selalu berhadapan dengan senja. Jika malam terlalu dalam, pejamkanlah matamu karena besok fajar akan lahir kembali.

 

Kawangkoan

14 Juni 2018

[1] Larik-larik puisi yang ditulis miring adalah kutipan yang diambil dari buku puisi Aan Mansyur “Tidak Ada New York Hari Ini”. penerbit gramedia 2016.

Iklan

Penulis: daunwoka

Sukarno, Beatles, Sejarah, puisi, essay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s