Bung Karno Selamanya

Bung Karno Selamanya

(21 Juni 1970-21 Juni 2018)

Oleh Bung Neo

 

sketsa oleh Ciquita
sketsa oleh Ciquita

“suara hati seorang Sukarnois”

 

Aku tidak mengerti mengapa aku begitu mengagumimu bung! Jika orang bertanya, aku tidak bisa menjelaskan alasan rasional tentang kecintaanku terhadapmu. Mungkin tidak tepat juga kalau dikaitkan dengan hal-hal yang emosional karena semua terjadi begitu saja sejak pertama kali aku melihat foto putrimu Adis, Sembilan belas tahun yang lalu.

Waktu itu putrimu baru saja mendirikan partai yang merupakan lanjutan dari PDI yang telah diganggu dan dikuasai oleh penguasa. Oomku membawa poster Adis yang bersanding dengan potretmu bung. Aku masih ingat ada slogan tertera di sana, “benar katakan benar, salah katakan salah”. Seketika itu juga aku telah menjadi pengagummu dan putrimu.

Apa yang dialami oleh putra-putrimu selama orde baru sangat menyentuh hatiku. Ruang gerak mereka dibatasi hanya karena menyandang namamu. Tak hanya mereka—bahkan nasib orang-orang yang menjadi pendukungmu tak jelas rimbanya; ada yang hilang, ada yang dibantai, dan beruntung kalau masih hidup namun dibuat susah hidupnya.

Aku tidak heran jikalau penguasa berbuat seperti itu karena mereka juga memperlakukanmu dengan kejam. Mereka mengurungmu disaat engkau sedang sakit. Menjauhkanmu dari keluarga, sahabat dan teristimewa rakyat yang engkau sangat cintai. Senista itukah engkau bung, sampai-sampai mereka mengirim dokter hewan untuk merawatmu?

Bicaralah bung! Aku tahu engkau sedang berbahagia di alam sana. Namun kami pendukungmu yang hidup jauh setelah masamu masih sangat membenci jenderal pembunuh itu! Kami masih menangis bung, setiap tanggal 21 juni tiba hati kami masih bergetar dengan getir marah dan dendam atas perlakuan penguasa di akhir hidupmu.

Engkau pernah berjuang melalui “via dolorosa” yang mengharuskanmu menggunakan hampir seluruh hidupmu di penjara dan pengasingan. Namun apa yang dibuat oleh jenderal pembunuh itu kepadamu? Ia memang setan berbulu domba. Bahkan lama setelah ia mati pun dosa-dosanya masih saja menjadi virus bagi bangsa ini. ia tak mendapat tempat dalam hatiku dan para pendukungmu bung! Hanya parasit yang masih setia berteriak “merindukan zamannya”.

Syukurlah aku bisa belajar tentangmu bung. Engkau begitu rendah hati dan bijaksana dalam melihat situasi Indonesia di penghujung pemerintahanmu. Engkau bersedia mundur agar tidak banyak anak bangsa yang menjadi korban perang saudara. Engkau memang bapak persatuan Indonesia.

Empat puluh delapan tahun yang lalu engkau pergi meninggalkan kami namun itu tak cukup untuk menghapusmu dari ingatan generasi ke generasi, karena engkau akan selalu menjadi putra sang fajar yang abadi dalam cakrawala hati dan pikiran rakyat Indonesia.

 

21 Juni 2018

Kawangkoan

Iklan

Penulis: daunwoka

Sukarno, Beatles, Sejarah, puisi, essay.

4 tanggapan untuk “Bung Karno Selamanya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s