Cerita Cinta yang Terpenggal

Cerita Cinta yang Terpenggal

Oleh Bung Neo

10153072_742957702394799_144391774_n

Ada syahdu di pagi itu sewaktu lonceng notifikasi twitterku berbunyi. Sebuah direct message yang ditunggu-tunggu kurang lebih dua belas jam. Cerah di minggu pagi seolah buram untuk sepersekian detik jarum jam berdenting. Ada tenaga yang keluar dari tubuhku. Apakah itu adalah “eros” yang selama ini terpendam oleh keegoisanku? Sepertinya begitu.

Tatapanku nanar dan kosong tak memedulikan lagi layar notebook yang terus berbisik menghukumku dengan kombinasi huruf yang seolah-olah menjadi formal dengan icon-icon senyum yang menyimpulkan, “it’s ok, never mind, tidak apa-apa”. Sebegitu mudahnyakah?

Potongan-potongan dua belas bulan terakhir berganti begitu lambat dalam kekosongan. Sebuah kronik yang meneguhkan besarnya kesalahanku. Masa lalu kembali memanggilku bukan sebagai kenangan tapi sebagai hakim yang menghakimi—satu demi satu ia tersusun sebagai sebuah kronologi yang diakronis.

Dua belas jam jelas terlalu singkat jika dibandingkan dengan dua belas bulan penantiannya. Beberapa potongan yang terulang itu terfokus pada beberapa buku pemberian seorang kakak: lara, garis waktu, pain(t), cerita cinta tanpa cinta, serta satu kumpulan sajak yang bernas: dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta.

Jika aku harus meresensi semua buku tersebut hanya ada satu kata untuk itu yakni: aku! Oh tidak, apakah kak Sat mengetahui apa yang sedang aku rasakan sehingga ia harus memberi buku-buku itu padaku? Sepertinya ia hanya menjadi titian pesan Tuhan kepadaku bahwa aku harus segera membuka hatiku yang tertutup untuk sebuah pertanyaan dan penjelasan kepada seseorang yang sedang menungguku dengan harap.

Tiba-tiba potongan itu terhenti dan nyawaku kembali ke dalam tubuhku sehingga gabungan huruf yang abstrak tadi mulai kembali menjadi jelas. Aku terlambat membuka pintu! Tinggallah itu sebagai puisi yang tak terucapkan. Sebuah cerita cinta tanpa cinta; dan apakah semuanya akan berujung pada “pain”?

Aku belum selesai membaca buku Pain(t), namun sepertinya aku sudah bisa membaca akhir ceritanya. Aku menutup notebook seraya lonceng gereja berdentang dengan sukacita. Aku mendengar instrumen merdu dalam kepalaku: Ave Maria…

“jadilah padaku menurut perkataanMu”. Aku tersenyum karena sosok wanita suci itu tersenyum dan menguatkanku seperti patung Pieta yang selalu menghangatkan dan menenangkan.

Ada syahdu di hari minggu itu, pun juga sedu sedan. Dalam beberapa hari lagi aku juga akan menemukan hari minggu yang lain. hari-hari yang akan kugunakan untuk menunggumu di pintu itu, berharap suatu saat nanti ketika aku membukanya, kau berdiri di situ—aku dan ksau melanjutkan kisah yang terpenggal. Bagiku sejarah bisa berulang namun kenyataan tidak selalu mengulang hal yang sama. Sejarah dan kenyataan adalah pengalaman dan guru. Jika keduanya bertemu mungkinkah sejarah baru tercipta?

 

Kawangkoan

19 juni 2018

Iklan

Penulis: daunwoka

Sukarno, Beatles, Sejarah, puisi, essay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s