Istimewa

Daun Woka

This is the post excerpt.

4600921202_5852742363_z
nasi Kuning daun woka (sumber gbr flickr)

aku sebenarnya agak kikuk menggunakan nama ini (daun woka) karena maknanya bagi orang Minahasa (menurut kamus marga “fam” minahasa) sangat berkaitan dengan posisi/strata yang dihormati meski orang Minahasa sendiri tidak mengenal pembagian kasta atau kebangsawanan sebelum “kompeni” masuk mencaplok tanah Toar dan Lumimuut diikuti dengan penguasaan oleh kerajaan-kerajaan sekitar yang feodal. menurut kamus itu daun woka yang kuning keemasan adalah dasar munculnya fam TUWO yang melambangkan keperibadian seorang pemimpin yang mulia dan dihormati. tapi aku tak mau menjadi pemimpin yang dihormati aku ingin jadi orang kecil yang terhormat meski hanya menjadi “pembungkus” nasi kuning yang dijual dibeberapa warung pinggiran kota Manado. ya daun woka yang menjadi hiasan di acara-acara…setidaknya itulah kebanggaan yang kumiliki dengan menyandang fam TUWO dari leluhur. menjadi yang dilihat tanpa mata, dirasa tanpa hati namun tetap ada dan memberi. berkarya dalam kesunyian…

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

Are you new to blogging, and do you want step-by-step guidance on how to publish and grow your blog? Learn more about our new Blogging for Beginners course and get 50% off through December 10th.

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Pertemuan manusia dan Alam semesta

Christian Andre Tuwo

dokumentasi pribadi pembelajaran jarak jauh

Kepingan-kepingan alam dalam rupa angin, air, udara, tanah, pohon dan petir telah menjadi satu puzzle yang suram dalam hidup manusia. Bukan kepingan itu yang suram tapi manusia yang jahatlah yang membuat kepingan alam Kembali mempertanyakan persatuan manusia dengan alam.

Alam terus berupaya menyembuhkan dirinya dari luka yang dibuat oleh manusia seolah-olah alam adalah ibu yang ingin tetap setia kepada suami yang keras kepala dan bodoh—tetap saja berkeras kalau dialah yang paling benar dari semua kerusakan ini. Mungkin situasi manusia dipandangan alam semesta layaknya “nawaksara” yang ditolak dua kali sehingga “supersemar” mulus menjadi apa yang disebut “orde baru”.

Dari kejadian alam akhir-akhir ini apakah memang benar telah terjadi transisi antara yang lama dan yang baru? Apakah hubungan manusia dan alam sudah sampai pada tahap yang mirip antara putusnya orde lama dan mulainya orde baru? Atau manusia Kembali berubah dan mewujud menjadi imperialis-imperialis yang merusak alam semesta lebih parah dari pada kolonialis yang memecah belah?

Peradaban manusia yang tercatat pada batu dan gua menyadarkan kita bahwa kemampuan sapiens dalam menyesuaikan diri dengan alam tak pernah sekali pun ia melukai alam tempat ia berkembang biak. Ia justru belajar dari alam yang membawanya pada zaman yang paling sempurna dalam sejarah manusia.

Sayang sekali, puncak pencapaian manusia pada peradaban adalah penghancuran semesta dan kemanusiaan. Hal ini tak ada bedanya dengan revolusi-revolusi, imperialism dan pemanasan global : semuanya adalah hasil kejahatan terbesar manusia pada ibu bumi, ibu peradaban dan sesame manusia.

Manado, 24 Januari 2021

Sebuah refleksi pembelajaran Sejarah Indonesia dan Peminatan

Topik: Orde Baru, Jepang di Indonesia dan Manusia Purba

Liburan baca buku

Sepertinya sudah menjadi tradisi setiap akhir atau awal tahun aku sangat senang jika pergi ke toko buku apalagi kalau sampai membawa pulang belanjaan berupa buku. (ya masak ke toko buku beli sate 😂). Hal ini terjadi pada sore tanggal 31 desember ketika aku merasa garing berada di kamar kos.

Setelah mandi dan berpakaian ala anak gunung tahun 60an 😂 aku langsung mengunjungi toko buku Gramedia yang hanya berjarak sepelempar bola kasti dari kos aku 😀. Memang unik juga di saat orang-orang mengunjungi pusat perbelanjaan untuk menghabiskan hari terakhir tahun 2020, aku malah pergi ke tempat paling konservatif yakni toko buku.

Suasananya sunyi, tapi bukan berarti aku adalah satu-satunya pengunjung sore itu. Keberadaanku di toko itu hanya sekitar satu sampai dua jam. Hasilnya adalah dua buku sekaligus masuk keranjang ehhh plastik 😂 pertama buku biografi Gus Dur karya Greg Barton dan biografi Fidel Castro karya Wahyu Budi Nugroho.

Kenapa hanya dua jam di toko buku? Karena saya sudah tidak tahan untuk segera menggeranyangi buku-buku itu di malam tahun baru 😂 lagi pula kegiatan masyarakat di tempat umum memang dibatasi hanya sampai pukul 18.00 waktu itu karena pencegahan covid-19.

Jadilah sesampai di kos aku langsung melahap buku Gus Dur, dan sampai hari kedua tahun baru aku sudah membaca 295 dari 500 halaman buku tersebut. Itu pun dengan posisi baca yang berpindah pindah mulai dari kasur, lantai, kursi sampai toilet 😂

Lumayanlah untuk mengisi liburan di awal tahun sebelum disibukkan dengan tugas pekerjaan sekolah. Hmmm awal tahun ini memang membuatku malas karena sejak tanggal 30 desember perutku melakukan revolusi mencret mencret yang sangat mengganggu kestabilan liburanku.

Hal ini lebih diperparah karena pada malam tahun baru aku kelebihan minum bir sambil bermonolog bersama biskuit dan buku Gus Dur.

Selain membaca tentunya saya menulis tulisan ini sebagai selingan untuk mengguratkan apa yang ada dalam kepala yang sedang pening ini supaya sedikit meninggalkan jejak mengenai apa yang kulakukan menjelang berakhirnya 2020 dan awal 2021.

Salah satu jejak yang mungkin di luar tradisi adalah natal tahun ini aku sama sekali tidak merasakan enaknya nasija (makanan yang terbuat dari beras ketan dan santan dibungkus daun pisang dan dibakar dalam bambu) secara tradisional makanan ini selalu ada di meja orang Minahasa pada saat natal tahun baru. Namun disaat bersamaan aku akhirnya dapat makan daging asam manis buatan sendiri sejak terakhir membuatnya mungkin sekitar natal 10 tahun yang lalu.

Akhirnya aku sampai juga pada titik kehabisan bahan untuk melanjutkan tulisan ini karena buku Gus Dur jauh lebih menarik untuk dibaca terus 😂😂😂 dan perut saya mulai melakukan revolusi lagi sehingga saya harus segera ke toilet dan melanjutkan membaca dari surga yang tak diingini 😂😂😂

Selamat tahun baru 2021

Gloria In Excelsis Deo

Wah, 2020 ini memang hening se hening heningnya 😂 sampai aku lupa kalau sudah terlalu lama aku tidak nulis di kolom ini. Mungkin aku terlalu menghayati pesan adven dari bapak uskup “berhenti sejenak”. ya masa adven kemarin memang banyak yang aku resapi dalam sisa perjalanan di tahun ini.Ada banyak hening di tahun ini yang mungkin membuat kepala menjadi pening. Ada banyak perhentian di tahun ini yang mungkin membuat detak jantung hampir berhenti 😃 syukur berhentinya nggak lama.Semua begitu berbeda tahun ini! Hanya satu yang tetap sama: IMANUEL! allah beserta kita. apa pun keadaan kita, bagaimana pun suasana perayaan natal kita, Allah tetap sama dulu, sekarang dan selamanya.Aku mungkin bukan orang yang paling bahagia tahun ini, tapi tidak perlu menguraikan semua kesusahanku seperti layaknya daftar hutang yang membebani pikiran.Siapa bilang kalau aku benar-benar bahagia? Tidak! Kita semua tahu kalau tahun ini penuh dengan kekhawatiran dan kegamangan! hal yang sama mungkin saja berlanjut pada tahun depan.Namun sekali lagi, dibalik kekhawatiran manusiawi itu Tuhan mengajarkan kepadaku tentang kehinaan yang menjadi kemuliaan. Kehinaan sebuah kandang menjadi kemuliaan harga diri setiap manusia.Mungkinkah itu disebut sebuah kebahagiaan? atau apakah itu yang dinamakan sukacita 😊 ya saya yakin saya bukanlah orang yang berbahagia, tapi saya adalah orang yang bersukacita karena Dia sang Imanuel terus bersama dan tinggal dalamku.Selamat natal 25 Desember 2020Selamat tahun baru 2021Semoga Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria menolong 🙏🙏🙏

Nyari Makan

Ketika aku lapar maka ku ambil masker, sanitizer dan topiku kemudian meluncur mengikuti trotoar jalan Sam Ratulangi sambil bergumam sendiri, “beli nasgor batavia aja”, “ah beli air mineral aja” oh beli roti singapura aja” sambil mikir aku nyebrang jalan pas di depan gramedia aku berhenti sejenak dan langsung belok kiri naik tangga, semprot semprot tangan dengan sanitizer, mendekati security untuk diukur suhu tubuh, masuk lihat-lihat rak buku dan jadilah dua buku dalam genggaman yang berjudul “humor seru bikin nyengir” karya Momo Yongs dan satunya lagi “gitu aja kok repot” karya Abdur Rahman (namanya saja mirip tapi penulis bukan Gus Dur ya) hanya saja isinya memang kumpulan humornya Gus Dur.

Setelah merasa cukup kenyang melihat lihat termasuk melihat seorang cewe cerdas yang lagi meluk puluhan buku sambil nyari nyari di rak yang sama tempat aku berdiri. “wow anjimmm udah cantik, gila baca juga… Ini mau baca apa mau jualan neng…banyak skali bukunya… Emang buku….buku…, uda dibeli dipeluk mmmm menang banyak tuh buku buku itu 😆

Mau dong dipeluk kayak buku 😆 setelah membayar di kasir akhirnya aku teringat akan misi awal aku keluar kos yakni mau nyari makan. Tapi karena sudah terlanjur kenyang sama buku akhirnya aku membeli air mineral saja sesuai list belanjaan awal!

Jadilah makan malam bersama buku!

Nah untuk menutup tulisan receh ini aku kutip satu humor yang ada dalam buku yang baru saja kubeli

Pak guru: Tole! Kenapa kamu selalu mengerjakan PR di sekolah? Itu kan pekerjaan rumah bukan pekerjaan sekolah?

Tole: aduh gimana ya pak, masalahnya sekolah ini sudah terlanjur saya anggap seperti rumah sendiri”.

Kanan

Ada yang menolak bintang karena merindukan bulan. Mungkin supaya sempurna kanannya. Ada kanan yang balik ke sangkar karena diusirdari kampung aslinya. Kok bersamaan ya?

Jangan jangan mereka mau bersatu menjadi crewmate menuju 2024?

Wah padahal dua-duanya adalah impostor!

Ngeri sekali kalau sampai mereka melakukan percabulan!

Aduh bisa bisa rombongan impostor dari planet Trump berekspansi ke sini!

Hati-hati bahaya laten kanan!

Minta linknya dong

Animale rationale? Saya rasa manusia cenderung bersikap seperti binatang Ketika hal-hal cabul atau ngeres berkelindan di otak yang nggak rasional. Apa?! Bukankah berfantasi mengenai hal-hal “bercocok tanam”  adalah hal yang rasional? Coba deh bayangkan, sewaktu kita disodorin cerita atau video yang berhubungan dengan yang anjay anjay seperti itu bagaimana reaksi spontan otak kita? Apakah kita akan bertindak seperti kucing yang menolak ikan berdansa di depannya atau seperti bayi yang menyadari kehadiran tetek ibunya?

Beberapa jam sebelum saya menulis, saya memperhatikan kelakuan warga twitter Indonesia yang gempar dengan trendingnya sebuah peragaan mesum seorang yang mirip dengan pesohor tanah air. Semua jatuh dalam dosa ‘berjamaah’ bahkan untuk mereka yang terbiasa mengucapkan kata ‘astaf***ah’, ‘as***ga’ , ‘am*n’, dan ahhhhh sudahlahhhh mereka juga pasti sempat melihat sebelum kemudian menghujat hehehehe. Saya dapat membayangkan bagaimana wajah mereka yang innocent itu.

Marx dan Sartre pernah mendefinisikan humanitas manusia itu munculnya justru dari animalitas! Saya mendefinisikannya sebagai sisi kebinatangan dalam kemanusiaan manusia. Halooooo??? Mau mengelak???

Nah siapa yang berlomba-lomba menjadi orang bodoh hanya untuk meminta “link Gissel” di twitter dengan syarat follow dulu akunnya atau retweet dulu postingannya nanti diberi full video 8 menit dan ternyata yang muncul adalah video tutorial make up hahaha anjrit.

Ngeres, horny, en segala nafsu-nafsu binatang memang dekat dengan yang Namanya bogo-bogo  alias sakau biologis! Dan itu semua rasional sekaligus manusiawi! Silakan tuliskan pendapat kalian pada kertas suara kemudian kirimkan ke amrik untuk membantu Trump mempertahankan kursinya hehehehe kok malah bahas pilpres amrik???????

Saya bingung kenapa saya menulis tulisan receh ini! Padahal saya sementara menonton ‘gissel’ ehhhh ssalah maksud saya sementara membaca sebuah jurnal ilmiah yang berjudul “Setelah lima ratus tahun, berakhirkah humanism?” karya M. Sastrapratedja. Wah wah wahyudin hehehee. Benar-benar sedeng memang pikiranku!

Bayangkanlah kata-kata dalam jurnal itu seperti “animalitas”, “Sartre”, “moralitas”, “kebebasan”, “nafsu” dan “seksualitas” mampu membawa imajinasi liar saya seliar anak-anak twitter yang sedang puber multi tahapan hehehe. Gisel gisel…..parah memang!

Dari pada semakin liar lebih baik saya akhiri tulisan saya ini—pada akhirnya manusia hanyalah manusia; sentuhannya dengan teknologi dan kerapuhan jasmanianya membentuk manusia sebagai subjek sekaligus objek dari kelemahan. Kita hanya mampu mereduksi insting kebinatangan itu; membuatnya jauh lebih manusiawi  dan sakral bahwa seksualitas adalah anugerah Tuhan untuk kita nikmati hanya oleh dengan pasangan sah dan tentunya dalam ruang privat! Bukan di “trendingkan” di twitter dan dinikmati Bersama oleh mata-mata rames berbulu domba atau bahkan oleh bocil-bocil tanggung yang belajarnya masih belajar online hehehehe

Di teras tempat kos

07 November 2020

Tikus

Di depan pintu kamar tergeletak kepala tikus yang sedang dikelilingi oleh kumpulan semut merah dengan yel yel kemenangan. Tidak mungkinlah si tikus yang tak lagi memiliki badan itu dikalahkan oleh kelompok semut.

Saya curiga dengan kucing abu-abu yang sering melakukan operasi rahasia pada tempat sampah yang ada di depan kamar. Mungkin sang tikus sedang apes pas lagi melakukan operasi yang sama.

Saya mengambil sapu kemudian mengangkat kepala tikus dan membuangnya sambil berkata selamat tinggal.

Kata selamat tinggal begitu keramat beberapa jam ini, mulai dari berakhirnya kisah asmara teman-teman saya dengan pacar mereka sampai pada ungkapan ‘good bye Trump’ di twitter yang mulai muncul seiring penghitungan suara pemilu Amerika begitu ketat hingga sampai saat saya menulis tulisan ini belum diketahui siapa pemenangnya!

Saya sih lebih memilih Biden! 😆 kenapa? Karena 4 tahun lalu emang lebih memilih Hillary😊 tapi saya bukan orang amerika ya, jadi ini hanya sekadar ikutan dukung mendukung dari orang yang jangankan hak pilih, hak untuk menghakimi Trump saja nggak ada 😆

Semoga ia tidak bernasib seperti tikus yang apes ketemu kucing di tempat sampah yang sama 😆

Cerita kecil setelah misa

Ada banyak hal yang mestinya dirasakan setiap kali mengikuti misa harian di katedral. Sebagian sering saya tuangkan dalam cuitan cuitan di twitter saya.

Selalu ada yang baru dari injil yang dibacakan setiap harinya, meski kadang homili pastor tidak terlalu jelas bukan karena nggak menarik tapi karena sound yang sepertinya nggak terlalu cocok dengan ukuran katedral yang besar, oh ya satu lagi sejak korona penggunaan masker membuat apa yang disampaikan sering tak jelas terdengar.

Tapi tidak masalah, saya dapay mengatasinya dengan melakukan tips berikut

1. Bacalah lebih dulu bacaan kitab suci di malam sebelumnya.

2. Datanglah lebih awal di gereja, selain untuk saat teduh di depan altar, tapi ini juga dapat digunakan untuk membaca kembali kitab suci yang akan dibacakan hari itu.

Nah, sekarang manfaat lainnya adalah cobalah menuangkan apa yang kita dapatkan dari misa ke status, cuitan atau platform medsos kita agar apa yang dialami hari itu tak sekedar lewat tanpa bekas. 😊 ya seperti mereview buku 😀

Semua yang dialami bersama Tuhan memang adalah milik sendiri. Namun alangkah baiknya apabila kita membagikannya layaknya hosti yang dipecah-pecah untuk semua orang.

Semoga kita menjadi pewarta kabar baik dengan tetap berpegang pada panggilan “ini aku utuslah aku”.

Susah memberi judul!

Kemarin aku ditegur oleh bacaan injil agar tidak meminta minta tanda mengenai siapa itu Tuhan Yesus karena Ia sudah jelas Tuhan dan penyelamat tidak perlu dipertanyakan lagi! 😊

Nah untuk hal meminta tanda, untungnya saya tidak diminta berhenti meminta tanda apakah kamu jodoh aku atau tidak 😆

Sekarang aku tanya sama kamu: tolong jawab jujur; kamu itu fakta atau fiksi sih? Ayo jawab! Jangan mentang-mentang cantik enaknya main hilang hilang saja.

Eh tahukah kamu, kalau hari ini aku ditegur lagi oleh injil bahwa yang paling penting dan utama itu adalah kondisi hati seseorang bukan hal hal lahiriahnya.

Kamu memang cantik, tapi sering buat luka. Aku tidak mau kalau cantik itu luka, yang aku mau cantikmu adalah lakumu.

Atau jangan-jangan aku disuruh untuk mencintaimu secara rohani? Gileee gimana ya rasanya mencintai secara rohani? Itu ibarat kamu nanyain anak anak yang belajar onlen dehhh gimana rasanya bicara bicara sendiri di depan layar.

Semoga batin kita yang merdeka ini mampu melihat mau dibawa ke mana perasaan ini. Setidaknya ada kontak antara rasamu dan rasaku 😆

Kewajiban karyawan: Dimarahi!

Melihat judulnya sudah pasti penulisnya adalah korban atau pelaku!

Ah bukan, saya bukan pelaku karena saya hanya kuli, ya kuli dalam bidang yang katanya sangat sangat humanis!

Tempat di mana orang orang terdidik berkumpul untuk mendidik, meski banyakan sih hanya mengajar saja hehhee

Tahu kan bedanya ngajar sama mendidik?

Ah saya nggak mau bahas hal-hal teori! Seperti mereka yang mendewakan perangkat pembelajaran dan administrasi pendidikan lebih penting dari pendidikan itu sendiri!

Sudah jadi kebiasaan kalau pertengahan semester pasti ada pemeriksaan perangkat administrasi pembelajaran dan segala tete bengeknya

Satu yang pasti adalah semua administrasi harus ada print outnya! Alias harus ada bukti fisik berupa dokumen.

Artinya harus buang kertas dong

Nah tahu kan ujung-ujunganya tumpukan kertas kertas itu mau diapakan

Untuk arsip!

Biasanya sih itu alasan wajib nan klise!

Ironinya dokumen-dokumen itu tidak pernah digunakan oleh kami pada saat pembelajaran.

Saya heran semua proses akademik telah terprogram dan terintegrasi dalam satu sistem aplikasi yang mempermudah guru dan siswa. Tujuannya untuk lebih efesien, efektif dan tentunya paperless.

Tapi yaaaaa tetap saja gaya abad pertengahan masih digunakan.

Dokumen harus dicetak!

Sungguh tak berguna!

alhasil saya pun dimarahin bukan karena tidak membuat perangkat tapi karena malas mencetak perangkat!

Yah untungnya saya sudah siap mental dalam menghadapi siklus tahunan ini.

Sebagai karyawan tugas kita adalah menerima teguran atau kemarahan atasan. Syukurlah kalau diberikan kesempatan menjelaskan. Bagaimana kalau tidak?

Terima saja, dan buatlah evaluasi diri. Sebaiknya juga pemimpin melakukan hal yang sama.

Mari kita berolahrga dan makan teratur supaya imun tetap kuat menghadapi tekanan pekerjaan di masa pandemi yang sangat menguras tenaga dan pikiran tapi minus dari segi pemasukan 😀😀😀

Bersyukurlah untuk hari ini!