Featured

Daun Woka

This is the post excerpt.

Iklan
4600921202_5852742363_z
nasi Kuning daun woka (sumber gbr flickr)

aku sebenarnya agak kikuk menggunakan nama ini (daun woka) karena maknanya bagi orang Minahasa (menurut kamus marga “fam” minahasa) sangat berkaitan dengan posisi/strata yang dihormati meski orang Minahasa sendiri tidak mengenal pembagian kasta atau kebangsawanan sebelum “kompeni” masuk mencaplok tanah Toar dan Lumimuut diikuti dengan penguasaan oleh kerajaan-kerajaan sekitar yang feodal. menurut kamus itu daun woka yang kuning keemasan adalah dasar munculnya fam TUWO yang melambangkan keperibadian seorang pemimpin yang mulia dan dihormati. tapi aku tak mau menjadi pemimpin yang dihormati aku ingin jadi orang kecil yang terhormat meski hanya menjadi “pembungkus” nasi kuning yang dijual dibeberapa warung pinggiran kota Manado. ya daun woka yang menjadi hiasan di acara-acara…setidaknya itulah kebanggaan yang kumiliki dengan menyandang fam TUWO dari leluhur. menjadi yang dilihat tanpa mata, dirasa tanpa hati namun tetap ada dan memberi. berkarya dalam kesunyian…

Pertanyaan Seorang Guru

suasana belajar mengajar (dok pribadi)
suasana belajar mengajar (dok pribadi)

Ini bukan tentang  dikotomi antara guru senior dan guru junior, atau seperti yang tergambar dalam buku “mendidik generasi Z & A” karya J. Sumardianta dan Wahyu K (Grasindo,2018) yang menulis tentang guru kece dan guru geje dalam menghadapi siswa zaman now.

Dalam sebuah pembicaraan lepas di ruang guru, topik tentang pembelajaran sekarang tidak hanya berfokus pada gaya belajar siswa atau mengapa siswa sering dicap nakal dan sulit diatur dalam kelas namun perlu dilihat juga bagaimana cara guru memandang karakter siswa dalam kelas  zaman sekarang.

Apakah ribut di dalam kelas sama dengan riuh  karena sedang berdiskusi atau berdebat tentang topik pembelajaran?

Apakah siswa harus selalu duduk diam dan sama sekali tidak bisa berekspresi di dalam kelas termasuk  tertawa lebar (ngakak) ?

Apakah kelas yang diam selama pembelajaran menandakan mereka sudah paham dengan apa yang mereka pelajari? Atau hanya menunjukkan reaksi siswa yang takut dimarahi kalau mereka banyak bicara.

Guru perlu bertanya pada dirinya sendiri apakah saya masih menjadi tipe guru yang memandang siswa sebagai mesin pabrik yang bekerja sesuai perintah dan tidak bisa menyanggah atau bahkan memberi pendapat yang berbeda dengan apa yang saya pikirkan?

Apakah guru menyadari bahwa ketika guru bertanya kepada siswa tentang suatu topik maka siswa akan berupaya menjadikan dirinya sama seperti cara berpikir gurunya. pada tahap seperti ini siapa sebenarnya yang salah guru atau siswa? Ada kebiasaan bahwa guru menolak jawaban berbeda dari siswa sehingga guru sebenarnya telah membiasakan siswa untuk tidak percaya dengan kemampuan siswa; tidak mengherankan jika kita menemukan siswa yang ragu menyampaikan argumentasinya dengan alasan, takut salah! Siswa tidak  menjadi dirinya sendiri.

Guru seharusnya segera sadar bahwa kita hidup pada masa yang jauh berbeda ketika kita di wisuda sebagai seorang sarjana pendidikan bertahun-tahun yang lalu. Kita harus sadar bahwa terjadi perubahan pendekatan antara generasi kertas pensil dengan generasi paperless yang tidak mau dijadikan objek dengan hanya duduk mendengarkan monolog guru dalam kelas; mereka adalah siswa yang hidup dalam komunitas yang mementingkan kolaborasi dan asyik dengan dirinya sendiri, mereka adalah generasi yang bersuara  sehingga guru semonow (guru zaman old dari generasi kertas pensil) yang kebanyakan berasal dari gen X (yang dibesarkan dalam alam pikiran gen baby boomers) dan gen Y (yang dibesarkan dalam alam pikiran gen X) seharusnya memahami karakter siswa zaman now.

Lalu, apakah guru harus tiba-tiba berubah menjadi sok millennial? Menjadi lebay dan alay hanya untuk mendapatkan perhatian anak millennial? Tidak! Sebenarnya tidak ada yang berubah tentang prinsip pendidikan antara zaman lampau dan sekarang, yang berubah hanyalah platform yang berpindah dari dunia nyata ke dunia maya! Guru cukup memahami saja apa yang sekarang sedang berkembang dan jangan memaksakan siswa berpikir dan menerima tentang “kebesaran masa lalu” sebagai kunci keberhasilan di masa depan! Ingat bahwa besok adalah hari ini! kita hendaknya menjadi guru yang memberi ruang kepada siswa untuk menjadi diri mereka sendiri dan membuat keputusan tentang masa depan mereka sesuai dengan perspektif kekinian.

Lalu apa tugas guru kece yang harus mendidik gen Z dan gen A di era digital ini? mengutip J Sumardianta dan Wahyu K, guru kece adalah….

guru yang tetap menemukan harapan di tengah kegelapan, selalu mencari dan menemukan kreativitas di tengah keterbatasan, melihat persoalan sebagai pintu masuk menuju sebuah jawaban dan bisa berenang di perkembangan teknologi tanpa terseret derasnya arus”.

Manado, 03 April 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Scarlet O’hara

Setelah empat belas tahun

Akhirnya ia datang secara tak terduga

Ia membawa semua masa lalu

Pada sebuah perjalanan tanpa titik

Sadar akan sebuah penantian

Lupa tentang sedikit keabadian

Scarlet O’hara

Mengapa semuanya selalu terlambat?

Dan kata cinta hanyalah sesal

Semuanya pergi seiring angin bertiup

Dan malam ini aku tak’kan terlelap

Scarlet O’hara

Masih ada tempat untukmu kembali

Tanah ini masih memanggil

Dan pulang adalah jalanku kembali

Eragayam, 03 Desember 2018.

C’est La Vie

Shania Twain foto dari akun twitter Shania Twain

Ketika pikiranmu penuh dengan pilihan-pilihan sulit, berhentilah sejenak dan dengarkanlah musik. Engkau mungkin lelah dengan rutinitas yang kadang membosankan; atau jika hal itu memang tidak bisa dihentikan atau bahkan dihilangkan, mungkin engkau bisa mengubah suasananya dengan berpindah ke tempat lain sambil memikirkan apa yang belum diselesaikan.

Kadang mager membuat kita baper sehingga hidup serasa terhenti dan sulit untuk dinikmati. Pada kondisi seperti itu, musik tidak pernah kehabisan energi untuk membantumu memulihkan jiwa. Badan boleh berhijrah namun pikiran tidak perlu hilang. Selama baterai pada gadget masih full dan pulsa data unlimited masih on, maka nyalakanlah spotify dan mainkanlah musikmu.

Mendengarkan kembali musik masa SMP dan SMA mungkin bisa membantumu kembali pada ingatan tentang kebebasan dan ketidakpedulian atau bahkan membantumu menemukan kembali apa yang selama ini dianggap telah hilang—ya musik dapat menguatkan kembali sebuah harapan.

Engkau mungkin tidak menyangka telah melangkah sejauh ini. Ada yang telah menemukan harapan itu dan mungkin ada lebih banyak juga yang tidak sesuai harapan masa lalu. Setidaknya engkau tahu bahwa kakimu telah jauh melangkah. Tugasmu sekarang adalah menjaga harapan yang sudah ada agar tetap bersamamu dan mewujudkannya. Hidup seperti musik yang engkau dengar, silih berganti dalam zaman—telingamu telah banyak mendengar nada dari berbagai macam genre.

Lalu apa yang berubah? Sensasi—sedikit saja pemicu yang dipantik maka sensasi itu bisa datang kembali; dan ia pun bisa pergi kapan saja. Pada saat ia pergi, engkau pun mulai mencari tempat untuk berpindah dan musik siap menyambutmu kembali.

Kawangkoan, 23 Maret 2019

Ke Mana Selanjutnya?

sumber gambar https://medium.com/@chrismichaels/three-reasons-sapiens-and-homo-deus-are-the-best-books-to-help-you-understand-who-we-are-now-56649ffea0fa
sumber gambar https://medium.com/@chrismichaels/three-reasons-sapiens-and-homo-deus-are-the-best-books-to-help-you-understand-who-we-are-now-56649ffea0fa

Aku tidak tahu berapa lama aku berada di sini, semuanya tergantung pada keputusan ‘atasan’; ya aku sudah memilih jalan pedang! “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak pantas untuk dimenangkan” kata Sjahrir. Sementara itu banyak yang mungkin sudah merasa nyaman dengan keamanan abadi mereka baik berupa kepuasan lahir dan batin yang menjelma dalam bentuk uang, kekuasaan dan kasih sayang. Suatu kemustahilan jika ada manusia yang ingin melepaskan semuanya itu hanya karena ingin menjadi seorang petapa. Coba bayangkan jika pilihan itu menghampiri kita; apakah kita mau menggantikan kenyamanan dengan sebuah kehidupan yang  tidak pasti?

Aku memilih untuk tidak menjadi seorang yang ambisius meski kekhawatiran tetap ada dalam diri setiap sapiens yang sedang menghadapi masa ujian dari sebuah seleksi alam.  Setiap kesempatan di dalam kelas—aku selalu mengaitkan sejarah dengan masa kini dan apa yang terbentang pada masa depan umat manusia. Sering aku menyebut tentang perubahan yang begitu cepat pada peradaban Sapiens yang nantinya akan melahirkan homo deus dalam buku karya Yuval Noah Hariri . peradaban yang akan masuk sampai ke ruang kelasku.  Jalan pedang yang kupilih tentunya akan berhadapan dengan kompetensi dan kebijakan. Semoga kebijakan tidak akan menggugurkan kompetensi dan aku tidak akan terlalu membebani pikiranku dengan masalah itu—justru yang menjadi perhatianku adalah bagaimana meningkatkan kompetensi yang pasti akan penuh dengan persaingan di masa depan.

Sebenarnya kita sedang berada dalam lingkungan persaingan dengan robot dalam bentuk algoritma-algoritma yang berwujud pada perangkat teknologi yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari seperti gegawai. Tanpa sadar kita sedang melakukan interaksi dengan ciptaan sapiens yang syukurlah masih bisa kita kuasai sama seperti sapiens mampu menguasai binatang sebuas apapun binatang yang dihadapi. Tapi ingat kelengahan atau kelalaian sedikit pun akan berakibat buruk! Hegemoni sapiens atas binatang telah ratusan langkah lebih maju menuju hegemoni terhadap teknologi dalam bentuk kecerdasan artificial (AI)—manusia mencari keabadian (immortality)

Lompatan sejarah pencarian terhadap keabadian sebenarnya bisa ditelusuri dari zaman ke zaman peradaban manusia mulai dari masa pra aksara sampai peradaban kuno yang membentang dari Mesopotamia sampai Amerika kuno. Mulai dari pemimpin primus interparus sampai para firaun, kaisar dan raja-raja dunia—bahkan sampai sekarang. Sejarah memiliki benang merah dalam merekam ambisi manusia menguasai alam dan bahkan ingin menjadi setidaknya seperti dewa—Homo Deus!  Lalu ke mana selanjutnya peradaban manusia akan melanjutkan perjalanannya?

Kita mungkin bisa membayangkan adegan-adegan dalam film ellysum: keabadian hanya milik kaum “the have”. Benarkah manusia telah mengalahkan penyakit dan meniadakan peperangan dari segi jumlah korban akibat perang? Meskipun penyakit dan perang masih mewarnai peradaban dunia sekarang namun yang perlu diakui adalah manusia semakin menyadari bahwa kebahagiaan dan keabadian adalah kunci untuk menghilangkan perang dan penyakit—dan itulah yang dikejar manusia baik oleh kalangan “the have” maupun “the have not”.  Jadi ke mana peradaban ini akan berlanjut? Persaingan akan keduanya masih akan berlanjut atau bahkan peradaban keduanya akan segera tergantikan oleh peradaban baru: dunia yang dikuasai oleh produk-produk kecerdasan buatan—lalu di mana posisi manusia sepertiku berada? Aku masih pada jalan yang sama dan berupaya untuk memenangkan hidup sehidup-hidupnya manusia ciptaan Tuhan.

Manado, 20 Maret 2019

 

Nomaden dan No-Woman

IMG_20190315_191003

Tiga bulan setelah Papua—aku mungkin tenggelam dengan apa yag disebut orang “pulang kampung”. Sebenarnya tidak ada yang patut dibanggakan dengan kepulanganku kali ini. kepulangan adalah kegagalan. Mengutip kata-kata bekas kepala sekolahku “Aku gagal menjadi superman bagi anak-anak Papua!” ya kepsek yang satu ini sangat berbakat untuk menjadi superman khususnya untuk urusan masak-memasak. Singkatnya tidak ada pencapaian heroik untuk seorang yang bertekad memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anak pedalaman—aku gagal dalam tindakan; meski sering dapat membela diri dengan alasan ideologis: sekolah ini tidak sejalan lagi denganku maka aku keluar!

Sekarang aku benar-benar tidak bersama mereka lagi. Aku pulang—dan catatan ini adalah catatan pertamaku sejak kepulanganku ke tanah Toar dan Lumimuut. Tadi pagi aku mencoba menulis kembali namun langsung mengetiknya pada laptopku seraya menjalankan tugas sebagai pengawas USBN di sekolah baruku. Oh ya sekarang aku sementara menjalani masa magang di salah satu SMA favorit di kota Manado.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya  kutulis tadi pagi karena itu dilakukan sekedar untuk mengisi kebosanan duduk hening berjam-jam mengawasi para peserta didik yang sibuk dengan ujian berbasis komputer. Akhirnya tulisan itu memang tidak selesai karena aku harus melayani peserta didik dalam melakukan “log out”  dari system computer mereka—menurut operator kami saya sedang melakukan tugas sebagai proktor (aku sangat awam dengan istilah ini; maklumlah aku bekas guru dari hutan)

Aku mencoba meneruskan tulisan itu dalam buku ini (aku masih suka menulis di buku konvensional alias kertas karena aku penganut kepercayaan paper magicology)  setelah selesai aku menyalinnya ke komputer. Mungkin anda akan menyebutku orang yang tidak relevan dengan jaman Homo Deus—tapi buatku ini adalah sebuah sensasi suka atau tidak suka; senang atau tidak senang semuanya kita masing-masing yang merasakan!

Oke aku tidak mau berpanjang lebar apalagi berfilsafat! Inti dari semua ini adalah aku hanya ingin memberitahu kalian bahwa aku telah kembali menulis setelah sekian lama vacuum akibat proses nomaden dan no-woman. Semoga nomaden saat ini akan berbuah sedenter dan segera meng-Enter No-Woman berubah tampilan menjadi Now-Move On!

p.s selamat kepada DIRIMU yang menjadi alasan kepulanganku namun ternyata bukanlah MILIKKU lagi!

 

Manado, 15 Maret 2019

Mimpi

Oleh Bung Neo

Sebenarnya aku sangat berbahagia

Kau dengan kebaya putih

Lebih indah dengan kain ungu

Yang menarik fokus mataku

Kau tersenyum dan tertawa

Begitu lucu kepada seseorang

Aku hanya melihat dari seberang

Tak mampu melukiskan tawa

Mulutku terkatup

Mataku tetap terbuka

Tubuhku telentang

Jiwaku terbangun

Aku masih memikirkanmu

Apakah itu cinta?

Eragayam, 28-08-2018