Istimewa

Daun Woka

This is the post excerpt.

4600921202_5852742363_z
nasi Kuning daun woka (sumber gbr flickr)

aku sebenarnya agak kikuk menggunakan nama ini (daun woka) karena maknanya bagi orang Minahasa (menurut kamus marga “fam” minahasa) sangat berkaitan dengan posisi/strata yang dihormati meski orang Minahasa sendiri tidak mengenal pembagian kasta atau kebangsawanan sebelum “kompeni” masuk mencaplok tanah Toar dan Lumimuut diikuti dengan penguasaan oleh kerajaan-kerajaan sekitar yang feodal. menurut kamus itu daun woka yang kuning keemasan adalah dasar munculnya fam TUWO yang melambangkan keperibadian seorang pemimpin yang mulia dan dihormati. tapi aku tak mau menjadi pemimpin yang dihormati aku ingin jadi orang kecil yang terhormat meski hanya menjadi “pembungkus” nasi kuning yang dijual dibeberapa warung pinggiran kota Manado. ya daun woka yang menjadi hiasan di acara-acara…setidaknya itulah kebanggaan yang kumiliki dengan menyandang fam TUWO dari leluhur. menjadi yang dilihat tanpa mata, dirasa tanpa hati namun tetap ada dan memberi. berkarya dalam kesunyian…

Pandemi Cinta

IMG_20200320_150419

Ada hal yang perlu dikhawatirkan dengan pandemi yang sedang melanda dunia saat ini. namun tak ada yang bisa menyangkal bahwa ada yang bisa kita syukuri di tengah ketidakpastian hidup. Bumi seolah kembali pada hakikatnya sebagai ibu yang melindungi, ibu yang tetap memberi makan anak-anaknya yang durhaka dan tamak. Bumi kembali menyembuhkan apa yang tak mampu disembuhkan manusia. Dalam keheningan universal, manusia diajak untuk berkontemplasi tentang makna hidup dan kehidupannya. Manusia diajak untuk memahami bahwa semua yang dilakukan tanpa cinta adalah kesia-siaan. Dalam kesunyian manusia mencari suara Tuhan yang sering diabaikannya.

Pada saat kritis seperti ini manusia mulai belajar bagaimana memahami makna cinta yang sebenarnya. Cinta memiliki banyak penafsiran dalam banyak wajah yang berbeda. Sepertinya Tuhan mengajarkan manusia untuk sadar bahwa pandemic terbesar yang perlu ditakuti sekarang adalah hilangnya cinta dalam hati manusia. Dalam hening manusia mencari makna cinta sebenarnya. Ada yang pergi dan ada yang memilih untuk tetap tinggal. Semuanya bagaikan siklus yang entah kapan akan kembali pada porosnya. Semuanya bagaikan virus yang begitu cepat menghapus segala kebahagiaan bahkan merusak segala kenangan.

Namun manusia masih saja diberikan rahmat oleh Tuhan, bahwa Tuhan tidak pernah merancang otak manusia untuk melupakan. Apa pun itu kenangan akan tetap tinggal meski dalam bentuk dan wajah yang berbeda. Pandemic terbesar dalam sejarah cinta manusia adalah membenci apa yang pernah ia katakan indah. Mengutuk cinta yang pernah membuatnya menjadi orang paling berbahagia di dunia. Cinta penuh dengan bahasa symbol yang diterjemahkan dalam sebuah puisi. Semua orang pernah menjadi bagian dari puisi cinta yang universal itu. Semoga apa yang dialami manusia sebagai makhluk pencinta tidak pernah membuat mereka menyesal atau bahkan melupakan segala kenangan yang pernah membuat manusia merasakan kebahagiaan. Seburuk dan sejahat jahatnya manusia pertama—mereka telah mengajari kita untuk tidak saling menyalahkan ketika cinta disalahtafsirkan sebagai dosa.

Setiap manusia akrab dengan dosa, dan tidak ada yang berani mengatakan bahwa ia tidak pernah berbuat dosa. Pada saat cinta dianggap sebagai dosa, disitulah manusia harus berani bertanya kepada sang maha pemilik cinta, ada apa dengan cinta? Mengapa cinta datang dan pergi begitu saja meninggalkan jasad jasad rapuh dari mereka yang telah menghirup virus itu? Tidak katanya, cinta bukan virus! Ia hanyalah zat yang berubah menjadi ganas ketika kalian mengabaikan hati nurani. Cinta menjadi dosa karena ada yang tidak diselesaikan dengan hati manusia. Semakin pandemi ini mewabah, cinta tak bisa diselesaikan hanya dengan social distancing. Kalian tahu tidak kalau semakin manusia menjauhi cinta, maka ia akan menjadi semakin mewabah dan menjadi pandemi yang mematikan. Seperti kata seorang pujangga bahwa cinta lebih kuat daripada maut. Semakin kuat kalian berusaha memadamkannya maka cinta akan semakin menggila sampai akhirnya ia mati oleh cinta itu sendiri.

Manado

22 Maret 2020

 

Tanggal yang Tetap Tinggal

Semua hari memilih lari

Semua bulan memilih pulang

Tapi ada tanggal

Yang ingin tetap tinggal

 

Hari ini, tanggal itu masih menetap

Dalam kenangku. Meski kening kita

Terpisah antara kenang yang sama

 

Tanggal itu masih tinggal

Pada semua ruang kalenderku

Kau masih mewarnai rencana

Masa depanku

 

Kau pantas berbahagia sekarang

Tapi jangan berbohong

Karna tanggal itu tak pernah

Meninggalkan pahit pada ingatan

 

Izinkan aku mengucapkan kata

Bahagia ini; kata yang kau tunggu

Beberapa tahun silam

Kata yang tak terucap

Dan tak pernah tersampaikan

 

Waktu kembali dengan nuansa

Berbeda, tapi rasa masih sama

Seperti waktu kita memulai

Perjalanan ini

 

Selamat ulang tahun sayang

Rindu akan selalu dikenang

Sendu dibuang saja

Jika rindu itu berat

Cukup ungkapkan saja

 

Entah kapan kita bisa bermanja

Setidaknya sekali saja

Maka semuanya tampak

Luar biasa

 

Jika suatu saat nanti kau menyesal

Ingatlah kalau aku tak pernah

Salah memilihmu!

 

Waktu tak pernah salah

Dan kita tidak saling menyalahkan

Di hari ulang tahunmu ini

Aku masih mendaraskan doa yang sama

Semoga kau bahagia

 

Semoga ada banyak cinta yang lebih

Mewarnai hidupmu nanti

Bersama mereka, aku yakin

Hidupmu bermakna

 

Namun bersama semesta

Aku masih memujamu

Secantik Sarinah

Selembut sutra dewangga

 

Izinkan aku memilikimu

Dalam cakrawala yang kulihat

Dalam puisi yang kutulis

Dalam buku yang kubaca

Dalam setiap kata

Yang kukirim berulang-ulang

Kala kita terpisah

 

Di hari ulang tahunmu ini

Izinkan aku kembali mengucapkan

Mantra abadi itu

Love you gorgeous

 

Warunk Bendito

20 Maret 2020

Sehari menjelang ulang tahunmu

 

 

Lari, Kopi, buku dan upaya menyembuhkan luka

Lari, kopi, buku dan upaya menyembuhkan luka

Untuk rekan terjuaraku

Sebenarnya dia tak mau berlari waktu itu

Bukan karena malas, tapi menurutnya lari hanya membawa pada tapak yang sama seperti pada mulanya

Aku pun tak tahu apakah ia menikmati secangkir kopi hitam yang menghitam di depan senyuman wajahnya.

Tapi mungkin kopi itu menggambarkan pahit yang sedang ia teguk sampai hatinya hanya menolak manis yg bersetubuh dengan pahitnya arabika

Sampai akhirnya aku tahu semuanya setelah buku-buku pada rak yang menyembuhkan luka itu menarik perhatiannya.

Kawan, kadang luka itu bisa sembuh dengan upaya sendiri

Belajarlah menikmati kesendirian, toh ramai tak selalu membantu selain sekedar tertawa untuk selanjutnya kembali pada kekosongan

Bukankah dalam kesunyian kita bisa mendengar suara semesta yang berbicara jernih pada kita?

Warunk Bendito

14 Maret 2020

Seandainya Tuhan main Twitter

Tuhan membuat status twittermu sebagai penghiburanku

Karena Tuhan tahu kau adalah kebahagiaanku

Tuhan mengizinkan sebuah ruang dalam twittermu sebagai ruang rinduku

Karna Tuhan tahu kau masih merindukanku

Sayang sekali

Tuhan melarangku mengucap

“aku cinta kamu”

Padahal memang benar

“aku masih cinta”

Seandainya Tuhan main twitter

Mungkin semua doaku tentang kamu sudah Ia retweet

Dan pasti

Kamu sedang mengirim beribu curahan hati pada kotak DM nya Tuhan

“aku juga masih cinta”

Manado, 12 Februari 2020

Sajak Tentang Semesta

 

Sebuah puisi essay tentang aku, kamu, buku dan alam.

Hujan membawaku pada sebuah keheningan semesta,

bersama sedikit rasa manis dan pahit

dari kisah sebuah buku dan secangkir capucino.

 

26˚

Hujan yang menahan semua kesibukan

Kecepatan

Dan keterburu-buruan

Menjadi

Keheningan

 

Menepi untuk menyepi

Mengumpulkan yang hilang

Hanya berselang

Untuk disapih

 

Akan tiba masanya ketika

Ketidaknyamanan

Berubah menjadi

Kenyamanan

Kebahagiaan

Yang patut kau syukuri

Karena menjaga keseimbangan

Dengan semesta

 

Kala semesta menjauh

Tanda manusia mesti berhenti

Berpesta.

 

***

 

Aku berhenti sejenak menepi di sebuah tempat yang membuatku nyaman saat hujan mencegatku untuk mengambil jeda sejenak. Kala ini adalah kesempatan terbaikku untuk menyelesaikan apa yang belum terselesaikan—sebuah buku misalnya.

Setelah jeda di sebuah bioskop, aku memalingkan perhatian pada beberapa tempat yang muncul di dalam film semesta: Kalimantan, Yogyakarta, Sumatera, Bali, Papua dan Nusa Tenggara Timur; tidak ada hubungan yang jelas antara isi buku dan film dokumenter itu. Mungkin hanya sekedar melakukan cocokologi dan sedikit permainan imajinasi bahwa semesta bukan semata soal tempat tapi soal manusia dan hubungannya dengan alam; dan terutama ia juga bercerita tentang kisah kamu dan aku.

Sesekali aku menyeruput kua indomi hangat yang baru saja disajikan di hadapanku setelah secangkir capucino tak lagi hangat di pandang tapi telah bersetubuh dengan jiwaku yang dingin.

Sajak tentang semesta telah berkonspirasi membawa segala yang hilang pada sesuatu yang dikenang. Semesta akan selalu ada—ia tidak ke mana-mana, kita saja yang berubah seiring memanasnya bumi dan mengamuknya fauna yang merana karena ulah manusia.

Kita pun tak bisa mengubah lara menjadi cara untuk berdamai dengan alam. Sama halnya hatiku dan hatimu yang tak kunjung menemukan pintu yang sama untuk masuk pada lorong masa depan bersama . sepertinya kita membutuhkan semesta yang harus berkonspirasi lagi agar mempersatukan kita sebagaimana ia mempertemukan kita beberapa purnama yang telah lewat.

Seperti sakitnya alam; kita berdua memang salah karena tidak merawat perasaan yang telah diberikan semesta pada kita. kita telah merusaknya dengan ketamakan dan keegoisan masing-masing.

Sekarang kau dan aku bagaikan bumi yang sedang sakit; menghela napas terakhir sebelum harapan itu hilang. Salah satu dari seribu pertanyaan kecil yang muncul kini adalah maukah kita berkomitmen menjaga agar harapan itu tetap ada?

 

Café Bendito

02 02 2020

Rindu

Rindu memang sendu

Pahit atau manis

Rindu akan selalu dikenang

Rindu adalah senja

Tak rela dijemput malam

Masih ingin bermanja

Katamu “selamat malam”

Rindu itu pahit

Kenyataannya sakit

Tidak ada ruang untuk rindu

Karena setiap ruang adalah pilu

Sedikit kopi untuk menahan malu

Dan mengusir ragu

Untuk mengirim pesan singkat

Apakah kamu merasakan hal yang sama?

02 02 2020

Berhenti bercerita, mari kita bercinta

Hal yang paling ku rindukan dari akhir pekan adalah duduk bermalas-malasan dikelilingi oleh buku bacaan, membukanya lembar demi lembar kadang aku sama sekali tidak membaca melainkan hanya sekadar menyentuh wujud kertas itu; semacam melakukan sebuah ritual mengembalikan energi yang hilang.

Energi itu semakin sempurna ketika daya imajinasiku dipompa oleh alunan musik yang ‘ngebit’ mencubit khayalanku tentang apa saja yang berkelindan dalam pikiranku dan membuatku tersenyum seraya menggapai pensil dan buku catatan, memulai menggoreskan apa saja yang ingin dikenang sebagai kenyataan.

Semua yang nyata membawaku pada tingkat tertinggi halusinasi bahwa kamu menyeduh secangkir kopi untukku. Kamu lebih memilih teh hangat karena menurut filosofi yang kamu sering katakan, “ada begitu banyak yang bisa diceritakan sambil menyeruput secangkir teh”.

Aku tidak bisa menyangkalnya karena sekarang pun kita telah menikmati percakapan yang begitu berkualitas sambil lagu ‘a thousand years’ Christina Perri mengaduk emosi kita berdua. Tangan kita saling menyatu di antara jari jemari yang menggenggam komitmen untuk terus bersama.

Mata kita tidak saling memandang tapi kita melihat pada tujuan yang sama; sambil tersenyum aku melanjutkan membaca buku dan pada penghujung waktu kamu berkata, “tolong, untuk kali ini saja letakkan sejenak buku itu, karena aku ingin menikmati suasana damai ini”—hening, tanpa harus bercerita kita larut dalam bercinta.

Manado, 11 Januari 2020

Sumber foto: twitter history lovers club. “Woodstock 1969”.