Featured

Daun Woka

This is the post excerpt.

4600921202_5852742363_z
nasi Kuning daun woka (sumber gbr flickr)

aku sebenarnya agak kikuk menggunakan nama ini (daun woka) karena maknanya bagi orang Minahasa (menurut kamus marga “fam” minahasa) sangat berkaitan dengan posisi/strata yang dihormati meski orang Minahasa sendiri tidak mengenal pembagian kasta atau kebangsawanan sebelum “kompeni” masuk mencaplok tanah Toar dan Lumimuut diikuti dengan penguasaan oleh kerajaan-kerajaan sekitar yang feodal. menurut kamus itu daun woka yang kuning keemasan adalah dasar munculnya fam TUWO yang melambangkan keperibadian seorang pemimpin yang mulia dan dihormati. tapi aku tak mau menjadi pemimpin yang dihormati aku ingin jadi orang kecil yang terhormat meski hanya menjadi “pembungkus” nasi kuning yang dijual dibeberapa warung pinggiran kota Manado. ya daun woka yang menjadi hiasan di acara-acara…setidaknya itulah kebanggaan yang kumiliki dengan menyandang fam TUWO dari leluhur. menjadi yang dilihat tanpa mata, dirasa tanpa hati namun tetap ada dan memberi. berkarya dalam kesunyian…

DNA

DNA

Oleh Bung Neo

Cinta itu seperti senyawa dalam DNA

Adenina selalu berpasangan dengan Timina.

Guanina pasti dengan Sitosina.

Apabila kromosom memperbanyak diri

maka masing-masing senyawa akan menyebar.

Yang lama merangkul yang baru.

Membentuk rumah tangga yang sempurna.

 

Tidak boleh ada yang salah memilih

pasangan karena akan mengakibatkan

kerusakan gen dan celakanya hidup.

Tapi ada 6 milyar anak tangga dalam

DNA manusia. Risiko untuk salah pilih

sangatlah besar. Aku tidak mau menjadi

salahsatu dari ketidaksempurnaan itu.

 

Tidak semua yang sempurna akan bertahan

di generasi selanjutnya. Ada yang dinamakan

mutasi genetika. Engkau layaknya gen

yang dapat berubah-ubah. Aku tak bisa

memahami rahasia itu. Apakah penyebabnya

adalah sinar-X atau bahan radioaktif?

Perubahan adalah kehendak alam.

 

Bukan! Kitalah yang merusak alam.

Kita adalah sumber ketidaksempurnaan itu.

Tapi kenapa engkau selalu beralasan?

Padahal alam tak perlu penjelasan.

Bahkan dewa proteus pun tak bisa menahan

arus perubahan laut yang adalah istananya.

Engkau masih saja beralasan.

 

Kawangkoan

18 Agustus 2017

Gen-Y & Gen-Z Untuk Indonesia Bagi Dunia

Gen-Y & Gen-Z Untuk Indonesia Bagi Dunia

Oleh Bung Neo

20150802_103144
Gen-Y yang masih bisa menyesuaikan dengan alamnya Gen-Z

Dentang lonceng gereja saling menyahut diiringi suara adzan subuh di masjid menyambut fajar 17 agustus 2017. Tanggal yang cantik di bulan kemerdekaan yang ke-72.

Aku terbangun dan berdoa kepada yang Maha Kuasa: “terima kasih untuk nafas kehidupan di alam kemerdekaan. Bantu aku untuk bangkit, bangkit, bangkit berjalan di jembatan emas kemerdekaan”.

“walaupun banyak negeri kujalani…tetapi kampung dan rumahku di sanalah aku senang”. Petikan lagu ciptaan Ibu Sud sementara berkumandang di saat aku sedang merangkai tulisan ini.

Sejak semalam aku larut dalam suasana perjuangan dan kemerdekaan. Suasana yang menggelorakan nasionalisme lewat lagu-lagu perjuangan dan film biopic yang bernuansa perjuangan.

Kemarin teman bloggerku menulis esai yang tidak biasa tentang arti kemerdekaan. Ia jarang menulis topik-topik berat. Tapi kali ini ia melakukannya. Ia menyoroti tentang simbolisme perayaan kemerdekaan yang sepertinya hanya menjadi upacara formalitas yang melanjutkan tradisi tahunan.

Benar saja banyak yang berkomentar baik sinis, pesimis, dan optimis. Saya adalah salahsatu yang berkomentar sangat optimis. “perayaan itu penting! Sebagai aktualisasi sejarah perjuangan bangsa untuk diingat dan dikenang. Pesta itu perlu! Sebagai ungkapan kebahagiaan atas apa yang sudah dicapai. Setelah itu adalah berkarya dengan semangat perayaan dan pesta yang gembira karena sejatinya karya yang bermutu dan bermanfaat dihasilkan dari hati yang gembira”. Tulisku dalam komentar.

Iringan melodi maju tak gentar sementara berkumandang! Aku teringat beberapa larik sajak Chairil Anwar yang aku baca semalam. Judulnya Diponegoro:

di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dari bara kagum menjadi api

Sekali berarti

Sudah itu mati

Maju

Serbu

Serang

Terjang”.

 

Sekarang ini kita adalah bara, panas tapi tidak berkobar seperti api. Kita hanyalah seonggok daging yang tak bernyawa Indonesia. Hidup dan berkarya di tanah ini tapi menyangkal keindonesiaan.

Apakah perlu menghadirkan kembali Diponegoro, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka dan mereka semua yang telah beristirahat setelah lelah berjuang demi kemerdekaan?

Atau apakah perlu bangsa ini hancur lebih dulu seperti Suriah, Iraq, Afganistan baru kita sadar pentingnya kemerdekaan? Kemudian kita berdoa sampai air mata menjadi tetesan darah memohon agar perdamaian diberikan?

Aku masih optimis karena Tuhan tidak pernah pesimis dengan umatNya. Ia akan terus membimbing umatNya pada jalan kasih. Kecuali umatNya yang gila dan mau jalan sediri.

Entah darimana sifat tegar tengkuk itu bersarang dalam hati mereka. Makan apa  mereka padahal tanah ini dikatakan zamrud katulistiwa yang lautannya bagai kolam susu dan daratannya subur menghijau sampai bangsa-bangsa lain pun memujanya.

Apakah kebutaan membuat mereka salah memilih makanan yang mereka anggap sehat padahal beracun? Tidak! Mata mereka tidak buta. Hati merekalah yang tertutup dengan kegelapan kecurigaan, kedengkian, dan keegoisan. Malaikat iblis seharusnya kalian mati bersama kolonialisme dan imperialisme.

Biarkanlah bangsa ini memasuki senjanya dengan gembira. Sehingga anak-anak yang lahir dari rahimnya adalah generasi yang tidak dinodai dengan bejatnya tingkah laku kalian.

Kalian kaum tua yang keras kepala, pergilah kepada kematian jika hidup adalah mati. Tapi jika hidupmu adalah rahmat, kami akan berdoa kepadaNya: “panjangkanlah umurnya ya Tuhan karena bangsa ini butuh teladan dan nasihat. Jangan biarkan kami kehilangan arah”.

            Puisi Diponegoro rupanya adalah gambaran bagi Indonesia saat ini. generasi milenial atau gen-Y yang lahir 1977-1995 ibarat bara yang menjadi api kembali. Teruslah menjadi terang untuk generasi Z adik-adik kita yang lahir tahun 1996-2010. Jangan rusak hati mereka yang polos dengan keegoisan kita.

Kita beruntung karena jumlah penduduk generasi Z Indonesia berjumlah 68 juta orang. Mereka adalah asset kita di masa depan. Mari kita wariskan nilai-nilai kebangsaan seperti toleransi kepada mereka. Nilai-nilai perjuangan seperti bekerja keras untuk Indonesia raya. Nilai-nilai ketuhanan untuk kemurnian hati dan pikiran.

Mari bekerja bersama tanpa melihat perbedaan untuk kokohnya jembatan emas yang sudah dibangun oleh para pendiri bangsa 72 tahun yang lalu. Maju…serbu…serang…terjanglah abad XXI untuk Indonesia bagi dunia!

 

17 Agustus 2017

Ultima Thule

Ultima Thule

Oleh Bung Neo

20170814_082350
Robert E Peary penemu Kutub Utara tanggal 6 April 1909

Kekuatan imajinasi merangsang orang-orang nekat untuk menaklukkan dunia. tak harus daratan subur yang hijau, bentangan es tak berpenghuni pun dieksploitasi demi sebuah kebanggaan diri dan tentu saja kejayaan bangsanya. Kisah penaklukkan kutub utara oleh para penjelajah dan peneliti tak semata-mata untuk urusan kebanggaan diri saja tapi mereka juga membawa misi ilmiah untuk meneliti sekaligus mencari jalan penghubung antara barat dan timur melewati jalur utara.

Kutub utara menjadi objek khayalan seorang Pytheas (325 SM) untuk melakukan perjalanan dari Yunani menuju utara. Ia mengklaim telah menemukan Ultima Thule  yang dianggap sebagai ujung utara dunia. Pytheas menyebut daerah itu penuh dengan madu, waktu malam hari dipertengahan musim panas hanya dua atau tiga jam. Laporan yang diragukan oleh sarjana Norwegia Fridtjof Nansen yang menyebut daerah yang dimaksud oleh Pytheas sebenarnya bukanlah ujung utara bumi tapi itu adalah Norwegia.

Di tengah-tengah perdebatan tentang benar tidaknya laporan Pytheas ternyata tak membuat khayalan tentang daerah kutub utara menghilang, bahkan hal ini meramba dunia kesusasteraan. Santo Brendan dalam hikayatnya yang sebagian besar adalah rekaan belaka menyebutnya adanya “Istana Kristal Terapung” di laut lepas, sebuah kiasan tentang penglihatan gunung emas yang merujuk pada kutub utara.

Ekspedisi demi ekspedisi pun dilakukan untuk mencari “Istana Kristal Terapung” itu. Erik si Merah yang terusir dari tanah airnya Islandia berlayar mencari tanah yang telah menjadi khayalan selama ratusan tahun tersebut. ia pun memberi nama daerah yang baru itu “tanah hijau” pada tahun 985. Dari tanah hijau inilah dimulailah pencarian akan ujung utara bumi selama berabad-abad.

Kegagalan menjadi kata yang mungkin paling banyak dalam kamus para peneliti bahkan dua diantaranya merupakan tragedy yang tragis dalam sejarah pencarian kutub utara. Sir john Franklin terjebak selama dua tahun dalam tumpukan es bersama 128 anak buahnya. Semuanya meninggal karena penyakit kudis, kelaparan, dan kelelahan. Tragedy berikutnya adalah Letnan George Washington de Long seorang AL Amerika Serikat 1881 dengan 13 anggota sisanya ditemukan tewas setelah bertahan hidup selama 140 hari sejak mereka meninggalkan kapal Jeannete  di tengah Artika karena terbawa oleh bongkahan es. Gambaran penderitaan mereka hanya terekam melalui catatan yang ditemukan disamping mayatnya. “30 oktober, minggu hari ke-140, semalam Boyd dan Gortz meninggal, Collins sekarat”.

Setelah tragedy demi tragedy maka mulailah titik keberhasilan menuju ditemukannya kutub utara. Dr. Nansen dari Norwegia (1893) menjadi orang pertama yang berhasi menembus jantung kutub utara dan setelah pencarian berabad-abad Robert E. Peary akhirnya menjadi orang yang menemukan kutub utara pada tanggal 6 april 1909. Setelah berulang kali kembali selama 20 tahun ia akhirnya mencapai tujuan hidupnya. Sewaktu mencoba untuk terakhir kalinya pada 1908 ia menulis, “kali ini menang, atau kalah selamanya”. Ekspedisi Peary telah menghasilkan prestasi-prestasi setelahnya seperti penerbangan pertama laksamana Richard E Byrd melintasi kutub pulang balik dan penyeberangan kuala kutub oleh Roald Amundsen dengan Zeplin pada tahun 1926.

Dunia bagian  utara akhirnya berhasil ditundukkan setelah 3 abad lebih manusia mengorbankan nyawa dan materi untuk sebuah kemajuan pengetahuan dan eksistensi manusia sebagai makhluk yang memiliki rasa ingin tahu yang besar mengenai alam ciptaanNya. Berawal dari imajinasi berakhir dengan prestasi. Puncak prestasi itu bermuara kepada Robert Peary. Namun kita juga tidak bisa melupakan peran para perintis sebelumnya di masa lalu dalam membuka jalan pada ekspedisi-ekspedisi ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi peradaban manusia.

Kita bangsa yang juga telah menikmati kemajuan ilmu pengetahuan itu telah diberi anugerah 72 tahun kemerdekaan. Selayaknya kita juga menghargai dan memanfaatkan masa ini untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengembangkan daya imajinasi untuk terus berkarya dan menyumbang kepada terciptanya dunia yang modern dan berkeadaban. Dunia yang terus maju tanpa melupakan masa lalu.

72 tahun kemerdekaan ibarat pencapaian penemuan kutub utara, diperlukan berabad-abad lamanya untuk mencapai kemerdekaan. Para perintis pendiri bangsa telah memulainya dengan langkah mantap. Mereka telah meninggalkan segala kenikmatan duniawi rela menderita badan dan kegelisahan menyiksa, seperti yang dirasakan oleh Robert Peary sewaktu bergulat melintasi es kutub utara.

Para pahlawan kita rela hidup sederhana kalau pun bisa dikatakan begitu. Masuk keluar hutan, masuk keluar penjara bahkan mati demi sebuah kemerdekaan. Sebuah kata yang universal bagi terciptanya dunia yang modern dan manusiawi, dunia yang tanpa penindasan manusia atas manusia. Mari bersorak untuk pencapaian-pencapaian yang sudah kita miliki sebagai bangsa. Namun janganlah lupa dengan para pendahulu. Bung Karno selalu mendengungkan “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”.

Seperti kutub utara yang terus menarik para ilmuwan untuk melakukan penelitian, begitulah Indonesia yang akan terus menarik dan menggoda bagi setiap insan untuk menikmati keindahan alamnya. Memuji karya agung sang pencipta di tanah yang kaya-zamrud katulistiwa. Berkarya dan memberi untuk kejayaan ibu pertiwi dan harmonisasi antar bangsa, mengejar dan menggali ilmu pengetahun untuk kemanusiaan.

 

12 Agustus 2017

Sumber: Willy Ley, Kutub. 1984. Tiara Pustaka:Jakarta

Membaca Sejarah

Membaca Sejarah

Oleh Bung Neo

Aku kembali pada ingatan-ingatanku

tentang sebuah peradaban.

Mereka terus berganti seperti bagian demi

bagian gambar film dalam slide kuno

abad delapan belas.

 

Revolusi dari bangsa yang dulunya terusir

kepada induknya yang dulu mengusir

sekarang menguasai.

Semangat puritan menentang monarki

berakhir anarki.

 

Oh rupanya angin revolusi juga dibawa

arus derasnya ombak yang menuntun

kapal uap sampai pada lintasan

kereta api dan cepatnya kabar

telegram menggenggam dunia.

 

Rontoklah segala kekuasaan para raja

yang absolut dalam satu gerakan

rakyat biasa

menyerang bersama jenderal kawakan

kemudian menjadi tirani.

 

mereka yang dulu tertindas

berubah menjadi penindas

ada juga para federalis

yang hampir pesimis

melihat konfederasi yang sinis.

 

Nyawa manusia hanyalah sebatas

industri dan pertanian

Utara dan selatan

Kaya dan Miskin

Abaraham Lincoln dan Jefferson Davis

 

Sejarah adalah perubahan

yang memakan korban.

Setiap jejak api Revolusi

meninggalkan abu evolusi.

 

Kawangkoan

25 Juli 2017

Ancaman dan Ketidaknyamanan

Ancaman dan ketidaknyamanan

Oleh Bung Neo

Mengikuti dinasti Shang yang

Pindah-pindah ibu kota bukan karena

Ancaman tapi karena ketidaknyamanan.

Membuat hati mudah berpindah.

 

P’an Keng memerintahkan rakyatnya

Untuk bermigrasi, meski berat

Ia menumbuhkan kasih sayang

Rakyatnya.

 

Kadang menghindar lebih baik

Daripada bertahan.

Namun tidak bagi Theseus

Seorang pangeran Athena putra Aegeus.

 

Ia memilih maju melawan ancaman

Sekaligus ketidaknyamanan

Ya ia tidak mau berpindah

Ia memilih melawan.

 

Namun malapetaka justru datang

Pada saat kemenangannya.

Ayahnya menjatuhkan dirinya ke laut

Sekarang kita menyebutnya laut Aegea.

 

Dalam hidup tidak semua ancaman

Adalah ketidaknyamanan dan tidak

Semua ketidaknyamanan adalah ancaman.

 

Tidak semua yang diharapkan

Akan didapatkan.

Berpindah kadang bijaksana

Bertahan mungkin lebih baik.

 

Kawangkoan

21 Juli 2017.

Pegangsaan Timur No. 56

Pegangsaan Timur Nomor 56

oleh Bung Neo

 

Aku suka melihat jalan pegangsaan

timur nomor 56.

Tapi aku tidak mau berlama-lama

di situ.

 

Ia mengingatkanku pada sebuah cerita

Sewaktu proklamasi itu dikumandangkan

Engkau tertangkap kamera Mendur bersaudara.

Engkau sedang bersama dia.

 

Ya, sesama pejuang yang rupanya

diam-diam mengagumimu.

Aku tak pernah berpikir kalau

kau pernah memberinya sapu tangan.

 

Jalan itu adalah puncak perjuangan

Namun secepat itu kau mengikuti

tempo yang dimainkan.

Atas nama cinta kau proklamirkan

pengkhianatanmu.

 

Kawangkoan

26 Juli 2017

 

 

Salah dan Bijak

Salah dan Bijak

oleh Bung Neo

 

Setiap langkah penuh risiko

harus dijalani supaya tahu

apa itu kesalahan dan

kebijaksanaan.

 

kesalahan akan selalu

ada meski kebenaran

akan selalu menang

tapi jalan tetap berkerikil.

 

memaksakan kaki untuk

berlari berarti kesakitan

lama kelamaan luka

adalah hal biasa.

 

kebijaksanaan bukanlah hadiah

karena jika demikian

maka setiap orang bisa membelinya

meski orang baik kadang murahan

 

12 Juli 2017

Kawangkoan