Istimewa

Daun Woka

This is the post excerpt.

4600921202_5852742363_z
nasi Kuning daun woka (sumber gbr flickr)

aku sebenarnya agak kikuk menggunakan nama ini (daun woka) karena maknanya bagi orang Minahasa (menurut kamus marga “fam” minahasa) sangat berkaitan dengan posisi/strata yang dihormati meski orang Minahasa sendiri tidak mengenal pembagian kasta atau kebangsawanan sebelum “kompeni” masuk mencaplok tanah Toar dan Lumimuut diikuti dengan penguasaan oleh kerajaan-kerajaan sekitar yang feodal. menurut kamus itu daun woka yang kuning keemasan adalah dasar munculnya fam TUWO yang melambangkan keperibadian seorang pemimpin yang mulia dan dihormati. tapi aku tak mau menjadi pemimpin yang dihormati aku ingin jadi orang kecil yang terhormat meski hanya menjadi “pembungkus” nasi kuning yang dijual dibeberapa warung pinggiran kota Manado. ya daun woka yang menjadi hiasan di acara-acara…setidaknya itulah kebanggaan yang kumiliki dengan menyandang fam TUWO dari leluhur. menjadi yang dilihat tanpa mata, dirasa tanpa hati namun tetap ada dan memberi. berkarya dalam kesunyian…

Ancaman Disintegrasi pada masa Revolusi Fisik

Indonesia masih sangat muda sebagai sebuah negara merdeka ketika itu, ibarat pengantin baru yang belum berpengalaman dalam membangun keluarga Indonesia telah menghadapi gejolak yang membahayakan keutuhan sebuah negara yang baru merdeka!

ironisnya bahaya itu justru datang dari anak bangsa sendiri. lihat saja berbagai pemberontakan yang terjadi di awal kemerdekaan atau yang disebut sebagai masa revolusi fisik seperti pemberontakan PKI Madiun 1948, pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil, pemberontakan Andi Azis dan Republik Maluku Selatan.

semua pemberontakan itu dilakukan dengan sadar oleh orang Indonesia sendiri. meskipun dalam beberapa hal keterlibatan asing juga turut memperparah gejolak politik di dalam negeri pada masa itu.

peristiwa pemberontakan oleh bangsa sendiri tentu sangat menyayat hati apalagi dilakukan oleh orang yang selama ini dikagumi atau bahkan dianggap sebagai pahlawan dalam perjuangan memerdekakan Indonesia dari penjajah.

dulu teman seperjuangan sekarang menjadi musuh bebuyutan!

mungkin itulah yang dapat digambarkan mengenai kondisi politik Indonesia pada masa revolusi fisik yang mengancam keberlangsungan negara kesatuan Republik Indonesia.

adakah kalian melihat potensi ancaman yang sama sekarang ini?

Manado, 28 Juli 2021

Christian Andre Tuwo, S.Pd

tulisan ini adalah ringkasan materi sejarah indonesia yang diajarkan di kelas XII IPA dan IPS.

Manusia dalam lintasan sejarah

“satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya”– Winston Churchil

Manusia Sebagai Penggerak Sejarah

Sejarah tercipta karena ada manusia yang menjadi pemain utama dalam sebuah peristiwa. Itulah sebabnya manusia menjadi subjek sekaligus objek dari sejarah. Manusialah yang melakukan perubahan dalam setiap perjalanan hidupnya. Dalam setiap peristiwa selalu ada peran manusia dalam proses perubahan dan keberlanjutan sebuah peristiwa. Jika manusia punah maka sejarah berakhir!

Dalam lintasan waktu yang sangat Panjang manusia telah menciptakan sejarahnya apakah itu berakhir bahagia ataukah berakhir tragis. Kita semua dapat belajar dari sejarah sepanjang waktu selama peradaban masih memberikan ruang untuk kita berkarya dan mengambil manfaat dari masa lalu.

Belajarlah dari masa lalu, namun jangan tinggal di dalamnya!

Manado, 27 Juli 2021
Christian Andre Tuwo, S.Pd

sebuah ringkasan materi untuk kegiatan pembelajaran di kelas X IPS

Dari Supernova sampai Olimpiade

Kumpulan lada hitam itu mulai tenggelam perlahan lahan seraya menghangatnya air dalam gelas kaca yang sekarang terlihat coklat karena warna airnya telah bercampur dengan komposisi gula, jahe merah, lada hitam, cabe jawa, gula aren, habbatusauda,secang, madu dan ginseng. Minuman instan herbal yang katanya sehat menurut tulisan pada pembungkusnya.

Mungkin saja demikian, karena artis komedi terkenal nasional menjadi semacam brand ambassadornya. Tapi saya tidak sedang ikut promosi dengan produk ini, saya sementara duduk di teras rumah kos sambil membaca buku Kepingan Supernova karya Dee Lestari dan menikmati secangkir minuman herbal, sementara itu tatapan saya sesekali tertuju pada lada hitam yang sementara tenggelam itu.

Pikiran saya Kembali teringat dengan materi pembelajaran yang sementara saya ajarkan di kelas XI sejarah Indonesia mengenai latar belakang lahirnya kolonialisme dan imperialism di Nusantara. Salah satu yang menjadi rebutan adalah rempah-rempah! Sebenarnya ini bukan hal yang baru bagi saya karena sebagai guru sejarah setiap tahun saya harus berkutat dengan materi ini.

Saya berefleksi kalau komoditi seperti rempah-rempah salah satunya adalah lada pernah menentukan jalannya sejarah dunia dan Indonesia. Sejarah kelam yang dibungkus dalam istilah kolonialisme dan imperialisme di buku-buku sejarah di Indonesia.

Sewaktu membaca tentang madu dan ginseng yang ada dalam komposisi minuman herbal itu, pikiran saya sepertinya sangat menyatu dengan kutipan dalam buku Supernova yang sedang saya baca. Saya tuliskan Kembali kutipan yang ditulis oleh Dewi Lestari dalam topik yang berjudul partikel,

“ada bagian dari otakmu yang akan selalu merasionalisasikan kebinatanganmu, Hasrat tubuhmu yang sudah matang dan memang siap dan ingin disetubuhi, dengan banjiran konsep muluk seperti jatuh cinta, asmara, dan entah apa lagi”.

Manusia adalah binatang terdidik yang hanya dapat dilemahkan oleh yang Namanya nafsu entah disukai atau pun tak disukai. Pikiran melayang pada setiap aktifitas di sekitar manusia yang tetap sama dari abad ke abad dan dari sejarah ke sejarah yang berikutnya.

Aktifitas yang bergerak di seputaran Hasrat untuk berkuasa, bersenang-senang, mengalahkan, memperebutkan, meninggalkan, dan membuang apa yang sudah usang. Selalu saja ada aktifitas yang berhubugan dengan keinginan untuk tetap eksis mekipun kadang menghalalkan segala cara.

Namun di tengah krisis kepribadian seperti itu mata kita dipaksa untuk dialihkan ke sejumlah orang yang ingin menunjukkan eksistensi mereka dalam semangat sportifitas dan persatuan. Saya sangat-sangat antusias dengan gelaran olimpiade yang sementara berlangsung di Tokyo, Namanya sih menggunakan angka tahun 2020 sama seperti piala eropa kemarin; karena memang ini adalah even olahraga yang tertunda setahun karena pandemic covid-19.

Saya memang sangat antusias dengan pesta olahraga empat tahunan ini. Pertama kali saya menonton dan mengikuti berita-berita seputar olimpiade adalah sewaktu tahun 2000 di Sydney. Hampir setiap hari saya mengikuti perkembangannya melalui televisi. Apalagi waktu itu Indonesia merebut medali emas dari cabang bulu tangkis ganda putra Candra Wijaya dan Tony Gunawan.

Semoga saja di olimpiade Tokyo ini Indonesia dapat melanjutkan tradisi emas cabang bulutangkis dan semoga akan ada kejutan-kejutan di cabang olahraga lain seperti angkat besi, panahan, atletik dan surfing.

Kali ini sejarah Indonesia tidak hanya ditentukan oleh lada atau jalur rempahnya, tapi oleh para olimpian yang siap mengharumkan nama Indonesia di ajang olimpiade. Semoga ibu pertiwi yang sedang tidak baik baik saja ini dapat segera pulih Kembali setidaknya terhibur oleh perjuangan para atletnya di Tokyo.

Mungkin para atlet Indonesia perlu meminum ramuan-ramuan herbal khas Nusantara untuk membantu menjaga imun saat berada di Tokyo.

Manado, 24 juli 2021

The collection of black pepper began to sink slowly as the water in the glass warmed up, which now looks brown because the color of the water has been mixed with the composition of sugar, red ginger, black pepper, Javanese chili, palm sugar, habbatusauda, ​​secang, honey and ginseng. Herbal instant drink which is said to be healthy according to the writing on the packaging.

Maybe so, because a famous national comedy artist became a kind of brand ambassador. But I’m not promoting this product, I’m sitting on the terrace of the boarding house while reading the book Kepingan Supernova by Dee Lestari and enjoying a cup of herbal drink, meanwhile my gaze is occasionally fixed on the black pepper that is temporarily sinking.

My thoughts went back to the learning material that I was currently teaching in class XI of Indonesian history regarding the background of the birth of colonialism and imperialism in the archipelago. One of the things that has become a bone of contention is spices! Actually this is nothing new to me because as a history teacher every year I have to deal with this material.

I reflect that commodities such as spices, one of which is pepper, have determined the course of the history of the world and Indonesia. A dark history that is wrapped in the terms colonialism and imperialism in history books in Indonesia.

While reading about the honey and ginseng in the composition of the herbal drink, my mind seemed to be very much in tune with the quote in the Supernova book I was reading. I rewrite the quote written by Dewi Lestari in the topic entitled particle,

“There is a part of your brain that will always rationalize your animality, the desire of your body that is ripe and ready and wants to have sex, with a flood of grandiose concepts such as falling in love, romance, and who knows what else.”

Man is a well-educated animal which can only be weakened by the name of lust, whether it is liked or disliked. Thoughts drift to every activity around man which remains the same from century to century and from history to history.

Activities that revolve around the desire to power, have fun, beat, fight, leave, and throw away what is obsolete. There are always activities related to the desire to exist even though sometimes it justifies any means.

But in the midst of a personality crisis like that our eyes are forced to turn to a number of people who want to show their existence in the spirit of sportsmanship and unity. I am very, very enthusiastic about the Olympics which are currently taking place in Tokyo. The name still uses the 2020 numbers, the same as yesterday’s European Cup; because this is a sporting event that has been postponed for a year due to the COVID-19 pandemic.

I am very enthusiastic about this quadrennial sporting event. The first time I watched and followed the news about the Olympics was in 2000 in Sydney. Almost every day I follow developments on television. Moreover, at that time, Indonesia won the gold medal from the men’s doubles badminton, Candra Wijaya and Tony Gunawan.

Hopefully, at the Tokyo Olympics, Indonesia can continue the golden tradition of badminton and hopefully there will be surprises in other sports such as weightlifting, archery, athletics and surfing.

This time, the history of Indonesia is not only determined by the pepper or the spice route, but by the Olympians who are ready to make Indonesia proud in the Olympics. Hopefully this motherland who is not doing well can recover soon. At least she will be entertained by the struggles of her athletes in Tokyo.

Maybe the Indonesian athletes need to drink herbal ingredients typical of the archipelago to help maintain immunity while in Tokyo.

Cinta Bukan, bukan!

Pada waktunya cinta akan menggetarkan hati manusia. Kapan dia akan datang itu tak pernah dibatasi oleh waktu. Bahkan untuk cinta yang tak mungkin diperbaiki lagi tak akan pernah bisa melawan waktu yang tak berbatas itu. Jika cinta adalah gleyser yang berabad abad tak mungkin meleleh pada akhirnya ia pun luluh!

Batas hanya bisa dipastikan Ketika cinta berujung pada jalan pilihan: jatuh cinta atau patah hati? Keduanya adalah bagian dari permainan yang harus diselesaikan, kemudian akan berulang Kembali pada pertandingan-pertandingan selanjutnya ntah dengan pemain yang sama atau mungkin dengan pemain yang baru.

Semua yang berhadapan dengan cinta akan luluh pada akhirnya. Kalau pun tidak pasti cinta akan meninggalkan bekas bekas terkoyak dalam hati. Mungkin itu yang bisa kita tanyakan kepada Tan Malaka atau Soe Hok Gie seandainya diberikan kesempatan.

Atau dari pada ribet mikirin bagaimana caranya bisa ketemu mereka di alam lain lebih baik langsung aja tanyakan ke Nicholas Saputra apakah ia merasakan hati yang terkoyak karena cinta yang mungkin tak kunjung berujung pada batas pilihan?

Hhmm lebih baik jangan ditanyakan karena siap-siap akan terjadi gelombang sakit hati nasional bagi kaum hawa hehehe

Mungkin benar bahwa cinta memang tidak harus memiliki tapi cinta sangat mungkin dapat menyakiti! Tapi cinta juga bisa hanya sekadar mood booster belaka heehe

Sekedar melihat wajah Emma Raducanu, Natalie Portmann, Dian Sastro, Emma Stone,Maria Sharapova sudah cukup buat saya untuk jatuh cinta ehhh maksudnya jatuh hati. Emang apa bedanya jatuh cinta dan jatuh hati? Nggak ada bedanya karena dua-duanya sama-sama jatuh!

Tapi cinta memang selalu menghadirkan sesuatu yang unik karena hanya cinta yang mampu mengoyak bukan hanya rambut, dan pakaian tapi jauh sampai pada sendi-sendi rasa pada tubuh dan jiwa sehingga melahirkan sensasi sensasi aneh seperti depresi, stress dan gila. Mulai dari tertawa sendiri, bicara sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, cuci baju sendiri hehehee mulai ngawur tulisan ini

Tapi kalian paham kan??? Kalian pernah jatuh cinta kan??? Apakah kalian merasakan kalau kalian pernah menjadi orang paling gila setelah jatuh cinta?

Cinta itu seperti vaksin yang kita terima selama masa pandemi ini, bedanya kalau vaksin itu disuntikkan kalau cinta itu disilaukan melalui mata hehehe

Sering kita mendengar kata-kata bijak tentang cinta:
Cinta itu bukan nafsu…cinta itu bukan materi…cinta itu bukan soal fisik…cinta itu bukan blab la bla

Kalau begitu jika ditanya apa itu cinta? Ya saya jawab saja cinta itu bukan, bukan hahaha

Sama seperti tulisan ini catatan bukan-bukan

Manado,15 Juli 2021

Inggris Tragis

Hahaaha betapa gembiranya saya melihat kesombongan dan kecurangan berakhir tragis! Semangat tidak sportif dari fans Inggris selama semifinal lawan Denmark serta kebanggaan nasional yang berlebihan membuat mereka menelan pil pahit di rumah mereka sendiri.

Sebagai pendukung Denmark saya sebenarnya sangat menerima kekalahan di semi final! hanya saja hal hal teknis di luar 22 pemain seperti panitia, wasit dan penonton membuat saya muak akan sepakbola kotor yang tidak sportif! bahkan tidak menjunjung fair play!

Sebelum ketemu Inggris di semifinal saya sebenarnya menjagokan Inggris juara tahun ini, tapi perlakuan mereka terhadap Denmark sungguh menjengkelkan!

Saya sebenarnya tidak punya latar historis dengan tim Italia tapi di final saya harus dukung azzuri karena mereka harus datang main ke Wembley!

saat pertandingan memasuki babak ekstra time saya mulai khawatir kalau kejadian semifinal yang menimpa Denmark bisa terulang!

Syukurlah adu penalti dimenangkan oleh Italian 3-2.

horeeee akhirnya kekalahan Inggris ini bagai kisah dongeng yakni tokoh jahat selalu berakhir dengan kekalahan 😆😆😆

Sedangkan Denmark menyelesaikan dongengnya dengan manis 😊😊😊

Meski kalah Denmark mendapat pujian di mana-mana.

Sedangkan Inggris harus dibully lagi karena motto It’s coming home berubah menjadi it’s coming Rome 😄😄😄

Dongeng Inggris berakhir tragis!

catatan saya fans Liverpool alias the Kopites, tapi saya harus dukung fair play!

Manado, 12 Juli 2021

Nostalgia anak 90-an

Emma Raducanu, sumber foto Twitter Wimbledon

Salah satu kebiasaan saya sewaktu membaca buku baru adalah menghirup bau kertasnya. Ntah kenapa bau kertas dari buku baru itu sering membuat saya semacam jadi sakau. Hal yang sama juga saya rasakan sewaktu menjadi pembaca tabloid BOLA di masa jayanya segala informasi olahraga terlebih khusus sepak bola dapat dinikmati dengan memiliki tabloid yang terbit seminggu dua kali itu.

Saya mulai ‘berlangganan’ tabloid BOLA sejak piala dunia 1998. Saya ingat cover depannya adalah pemain Belanda Dennis Bergkamp dengan seragam oranye. Waktu itu Belanda mengalahkan Argentina di perempatfinal. Sejak saat itulah saya mulai rajin membaca tabloid BOLA dan menanti-nantikan terbitnya pada hari selasa dan jumat.

Dapat dikatakan kalau hobi membaca saya berawal dari kegemaran membaca tabloid BOLA. Sebenarnya bukan hanya BOLA yang menjadi sumber referensi saya menjelang pertandingan liga Italia (waktu itu liga Calcio memang sedang top-topnya), tabloid GO yang kualitas cetak dan kertasnya setingkat di bawah BOLA juga sering menjadi andalan apabila saya tidak sempat membeli BOLA karena kehabisan. Saya ingat ada juga tabloid SOCCER.Tapi saya sudah terlanjur jatuh cinta sama BOLA! Sebagian koleksi BOLA masih saya simpan di perpustakaan pribadi saya. Saya sampai masih ingat nama penjual tabloid itu: tanta Dien dan om Mansur! Saya bahkan sempat mengirimkan tulisan-tulisan opini dalam kolom suara Tifosi, seingat saya pernah ada tulisan saya yang dimuat dan saya mendapat cenderamata dari BOLA berupa tshirt bertuliskan BOLA.

Nah menyambung apa yang saya tulis di awal tulisan ini mengenai kertas, sewaktu saya dapat membeli tabloid BOLA hal pertama yang saya lakukan adalah menghirup aromanya; halaman demi halaman sambil menikmati ulasan-ulasan yang berbobot mengenai olahraga oleh wartawan-wartawan handal BOLA.

Sayang sekali tahun 2016 BOLA tidak terbit lagi seiring dengan mulai berbunyinya lonceng kematian bagi koran, majalah dan tabloid konvensional karena pesatnya perkembangan internet dan media online. Masa-masa romantisme anak-anak 90an tentang informasi olahraga melalui media cetak berganti ke media online yang bagi saya tak semenarik media cetak.

Memang kami masih menikmati tayangan-tanyangan informasi olahraga di televisi, tapi nostalgia akan tabloid legendaris itu tak kan pernah terlupakan.

Kembali ke soal informasi olahraga zaman 90an mungkin kalian masih ingat kalau selain media cetak kami pun sering menghabiskan waktu akhir pekan kami di depan televisi karena akan ada tayangan menarik seperti Planet Football setiap hari sabtu siang yang dibawakan oleh Dik Doank kemudian setelah itu ada Higlights Liga Italia yang dibawakan oleh Wulan Guritno hmmm luar biasa memang kesenangan kami waktu itu melihat prediksi atau review pertandingan Liga Calcio dari artis cantik itu (sekarang juga masih cantik hehehe)

Setelah menonton dua program itu maka kami anak-anak sekompleks langsung turun lapangan bola untuk memainkan bola plastik dengan semangat seolah-olah roh para pemain bola yang kami lihat dalam poster dan di televisi merasuki jiwa kami sehingga hidup waktu itu terasa begitu bahagia.

Ada juga program lain seperti Raket Mania dan Boom Basket yang menghibur saya di akhir pekan sewaktu menonton televisi, Boom Basket pembawa acaranya adalah Iwa K dan Tamara Geraldine juga ada Ari Sudarsono yang menjadi pemandu acara pertandingan Basket di RCTI tahun 90an. Untuk basket saya memang lumayan suka meski nggak sebesar Bulutangkis dan Sepak Bola, mungkin karena memang basket di kampung saya tidak begitu popular di masa itu kecuali Michael Jordan dan Chichago Bullsnya hehehe dan memang klub basket yang saya suka adalah Bulls; kalau di Indonesia saya suka Aspac, tapi jangan kalian tanya ke saya perkembangan mereka sekarang ya soalnya saya tidak mengikuti perkembangan basket sama halnya dengan tenis lapangan saya lumayan suka karena ada Angelique Widjaya, Winne Prakusya dan Maria Sharapova. Wah sekarang di tengah semaraknya Euro 2020, turnamen Wimbledon sedang berlangsung dan mata saya tertuju pada petenis Inggris Emma Raducanu seorang remaja campuran Rumania-China yang sewaktu saya menulis tulisan ini Emma berhasil lolos ke babak ketiga Wimbledon. Hmmm sepertinya calon pengganti Sharapova!

Nah untuk bulutangkis jangan tanya betapa saya sangat suka dengan olahraga tepok bulu itu. Saya sangat tergila-gila dengan pebulutangkis Denmark Peter Gade Christensen apalagi melihat pacarnya yang juga pemain bulutangkis Camilla Martin. Sayang mereka tidak jadian sampai ke pelaminan. Kesukaan saya kepada Liverpool berawal dari saya membaca profil Peter Gade di tabloid BOLA yang menulis bahwa Peter sangat menyukai the Reds, ya Peter adalah seorang Kopites!

Saya pun resmi mendukung Liverpool sejak 2006 sewaktu Steven Gerrard cs menang dramatis dari West Ham United pada final piala FA. Sebelumnya saya adalah tifosi (fans) dari tim La Viola Fiorentina karena ada Gabriel Omar Batistuta di sana. Cukup lama saya menjadi tifosi sejak 1998 sampai 2006 saya meninggalkan Fiorentina bukan karena Batistuta pindah ke AS Roma tapi karena waktu itu liga Calcio terjerumus dalam skandal calciopoli sehingga atmosfer dan pamor liga Italia mulai menurun.

Hmm sampai sekarang jika ingin bernostalgia dengan klub-klub Italia maka saya masih memilih Fiorentina untuk di dukung hehehe. Dulu bahkan saya pernah suka sama klub gurem di Italia yang Namanya Bari kalau tidak salah lambangnya kepala ayam hehehe. Tapi sudahlah itu masa lalu karena saya sudah menambatkan hati pada Liverpool dan mereka adalah klub terakhir saya.

Oh ya sebenarnya kesukaan saya terhadap tim sepakbola Denmark ada hubungannya dengan kesukaan saya pada pemain-pemain bulutangkis Denmark loh. Hal ini sampai terbawa bukan hanya terhadap tim sepak bola, pokoknya apa saja yang berhubungan dengan Denmark saya akan tertarik untuk mengikutinya mulai dari dongeng-dongeng H.C Andersen sampai pada atlet-atlet Denmark dari berbagai cabang olahraga apalagi di olimpiade. Tentunya setiap olimpiade saya juga sangat antusias mengikuti perkembangan atlet-atlet Indonesia dalam merebut medali.

Lain dulu lain sekarang; bagi saya nostalgia anak-anak 90an dengan program olahraga sangat berbekas sehingga anak-anak 90an kalau ditanya kenapa jadi fans tim tertentu pasti ada alasan kuat yang kebanyakan berawal dari sulitnya mengakses informasi karena semua harus menunggu terbitan media cetak juga tayangan mingguan di televisi. Tapi itu semua yang membuat anak 90an sangat militan dalam mendukung tim olahraga mereka atau atlet favorit mereka!

Manado, 3 Juli 2021

Mengapa Saya Suka Denmark?

Banyak yang heran sewaktu saya menyebut tim nasional Denmark adalah favorit saya di Euro 2020 ini 😂. Denmark??? Nggak salah? Kata mereka.

Ya memang benar! Saya suka sama tim berjuluk dinamit itu sejak piala dunia 1998 di Perancis. Waktu itu Michael Laudrup dkk berhasil lolos sampai babak perempat final dan harus kalah dramatis 2-3 dari tim samba Brazil yang difavoritkan untuk juara dunia waktu itu. (akhirnya Brazil dicukur 3-0 oleh Perancis di final 😂)

Sebenarnya tahun 1998 itu ada dua tim yang saya dukung yakni Tango Argentina dan Dinamit Denmark. Ya karena saya bosan lihat banyak teman mendukung tim tim besar, akhirnya feeling kelas bawah saya menggerakkan saya untuk mendukung Denmark sampai sekarang.

Di setiap perhelatan piala dunia atau euro saya selalu dukung mereka. Kalau pun mereka tidak lolos di turnamen maka saya memutuskan untuk jadi penonton saja dan tidak mendukung tim lain yang lolos!

Lolosnya Denmark ke 16 besar euro 2020 memang bak fairy tale sebagaimana julukan lain bagi negeri mereka: negeri dongeng!

Saya tidak berharap banyak pada tim ini, yang penting bermain dengan sportif dan tetap menjaga semangat olahraga sepak bola yang menghibur para fans itu sudah cukup!

Juara? jika demikian ya harus dipestakan 😂😂😂

Melihat hasil yang ada sejak babak penyisihan sampai 16 besar memang tim-tim ‘underdog’ banyak membuat kejutan! jadi who knows???

Tidak ada yang tidak mungkin di lapangan bola!

Manado,

28 Juni 2021

Denmark dan Finlandia

Beberapa hari ini saya sangat bahagia karena tim sepakbola favorit saya berhasil lolos ke babak 16 besar euro 2020. Tim Dinamit Denmark yang sebelumnya sudah kehilangan harapan akhirnya dapat membalikkan keadaan dan menjadi kisah dongeng tersendiri seperti yang mereka lakukan tahun 1992 ketika mereka menjadi juara Eropa padahal status mereka hanyalah sebagai tim pengganti Yugoslavia.

Denmark memang negeri dongeng! Tapi sepakbola mereka bukanlah sebuah dongeng belaka. Setelah kalah dari Belgia di pertandingan kedua saya langsung menulis cuitan di twitter kalau saya tidak akan mendukung tim lain setelah peluang tim Denmark semakin sulit untuk melewati babak penyisihan!

Dongeng Denmark akhirnya menjadi kenyataan setelah mereka berhasil lolos dari lubang jarum dan dengan anggun bak kisah putri duyung karya H.C Andersen; Denmark menduduki peringkat kedua di bawah Belgia dan berhak lolos ke babak 16 besar.

Dua hari ini saya mengunjungi toko buku dan membeli dua buku yang menambah koleksi perpustakaan pribadi saya. Salah satu buku cukup menarik perhatian saya karena judulnya langsung mencantumkan nama sebuah negara yang menjadi pesaing tim Denmark di grup B Euro 2020. Negara ini adalah Finlandia, negara serumpunnya Denmark dalam keluarga besar bangsa Viking!

Ada dua alasan mengapa saya membeli buku itu, pertama alasan klasik sebagai seorang guru yang tak lama lagi akan mengikuti rapat kerja awal semester! What?! Bukannya sekarang sedang masa liburan sekolah? Hohohoho sepertinya tak akan ada liburan yang bermakna di akhir tahun akademik ini selain melihat Denmark akan melangkah maju di Euro 2020 hehehehehe

Kembali ke alasan pertama tadi, buku itu memang membahas tentang pengalaman seorang ibu mengenai sistem Pendidikan di Finlandia. Maaf saya tidak dapat menuliskan rincian mendalam tentang buku itu karena saya baru menyelesaikan 46 dari 249 halaman buku, yang berarti saya masih pada bagian awal buku! Yalah saya memulai tulisan ini karena sedang jedah di halaman 46.

Alasan kedua saya membeli buku ini hanyalah karena nama Finlandia tertulis di bagian sampul bukunya! Hehehe alasan yang nggak beralasan ya! Hmmm maksud saya adalah saya masih belum dapat melupakan bagaimana Christian Eriksen pingsan di tengah lapangan karena serangan jantung saat menghadapi tim Finlandia! Apesnya lagi gara-gara itu, Simon Kjaer dan kawan kawan harus menelan kekalahan pahit di laga perdana Euro 2020!

Sebenarnya saya mau menulis apa sih ini?

Terserah saya yang penting menulis saja! Oh ya ternyata selain Pendidikan, Finlandia juga sangat peduli dengan olahraga, ini dibuktikan dengan didirikannya kampus khusus untuk olahraga yang melahirkan atlet-atlet professional yang berprestasi! Mungkin itu juga yang membuat timnas sepakbola mereka membuat kejutan dengan lolos ke euro 2020. Biasanya tim-tim viking yang punya tradisi bola itu selain Denmark ya Swedia dan Norwegia. Sayang sekali tim Norwegia tidak lolos untuk Euro tahun ini!

Kalau saya mau sekadar merangkum buku yang saya beli itu sepertinya hanya ada satu kata yang dapat mewakili mengapa negeri-negeri viking mendominasi peringkat dalam Pendidikan dan kesejahateraan? Kuncinya adalah kebahagiaan!

Semoga kebahagiaan saya dalam beberapa hari ini dapat menyumbang pada produktivitas kerja di masa liburan ini. Semoga demikian juga untuk kalian ya teman-teman pembaca.

Manado, 23 Juni 2021

Denmark and Finland

These days I am very happy because my favorite football team has made it through to the round of 16 at euro 2020. The Danish Dynamite team that previously had lost hope can finally turn things around and become a fairy tale like they did in 1992 when they became European champions despite their status as they are just a substitute team for Yugoslavia.

Denmark is a fairy tale! But their football is not a fairy tale. After losing to Belgium in the second match I immediately tweeted that I would not support the other team after the Danish team’s chances of getting past the preliminary round were getting more and more difficult!

Danish fairy tales finally come true after they escape the eye of a needle and gracefully resemble H.C Andersen’s mermaid tale; Denmark is in second place behind Belgium and has the right to qualify for the round of 16.

The past two days I visited a bookstore and bought two books that added to my personal library collection. One of the books caught my attention because the title immediately included the name of a country that was a competitor to the Danish team in group B Euro 2020. This country is Finland, a cognate of Denmark in the big Viking family!

There are two reasons why I bought the book, the first is the classic reason as a teacher who will soon be attending the beginning of the semester work meeting! What?! Isn’t it time for school holidays now? Hohohoho it looks like there won’t be a meaningful holiday at the end of this academic year other than seeing Denmark step forward in Euro 2020 hehehehehe

Returning to the first reason, the book does discuss the experience of a mother regarding the education system in Finland. Sorry I can’t go into in-depth details about the book as I’ve only finished 46 of the 249 pages of the book, which means I’m still at the beginning of the book! Well, I started this post because I was pausing on page 46.

The second reason I bought this book was simply because the name Finland was written on the cover! Hehehe, what an unreasonable reason! Hmmm what I mean is I still can’t forget how Christian Eriksen passed out in the middle of the pitch from a heart attack against the Finns! Unfortunately, because of that, Simon Kjaer and his friends had to suffer a bitter defeat in the inaugural match of Euro 2020!

What do I really want to write about?

It’s up to me, the important thing is to just write! Oh yes, besides education, Finland is also very concerned with sports, this is evidenced by the establishment of a special campus for sports that gives birth to professional athletes who excel! Maybe that’s also what made their football national team surprise by qualifying for euro 2020. Usually, the viking teams that have the ball tradition besides Denmark, Sweden and Norway. sadly the Norwegian team didn’t qualify for this  Euro 2020!

If I want to just summarize the book I bought, it seems that there is only one word that can describe why the Viking countries dominate the rankings in Education and Welfare? The key is happiness!

Hopefully my happiness in these few days can contribute to work productivity in this holiday period. I hope the same is true for you, dear readers.

Diskon 70%

setelah cukup lama tidak ke toko buku akhirnya kesempatan itu datang lagi setelah semester yang melelahkan akhirnya usai. tekanan yang terus menerus selama menjadi wali kelas sangat menguras tenaga dan pikiran saya sampai sampai harus “tepar” juga alias kolaps.

memang secara fisik saya belum benar-benar sembuh namun berkunjung ke toko buku kembali memberikan kesegaran dan kebugaran dalam tubuh ini termasuk mental yang semakin membaik. buku memang seolah menjadi candu bagi saya.

pikiran dan hati semakin senang setelah layar mesin kasir memampang harga Rp. 28.000 untuk sebuah buku yang harusnya berharga Rp. 96.000 pada bagian pricenya. wow saya sampai harus bertanya sekali lagi ke kasirnya.

“ini beneran???”

“ya kak buku ini ada diskonnya”.

saya tidak melihat ada tanda-tanda diskon pada buku itu sewaktu saya mengambilnya di rak buku-buku biografi. setidaknya buku ini sudah lama ada dalam incaran saya namun karena harganya ehhh sebenarnya bukan cuma karena harganya tapi karena saya kurang sreg dengan penulisnya saja hehehe

akhirnya nasi goreng spesial dan beberapa snack dapat dibawa pulang karena diskon buku yang wow itu membuat isi kantong cukup untuk memanjakan perut.

Manado, 20 Juni 2021

After a long time of not going to the bookstore, the opportunity finally came after a tiring semester was finally over. The constant pressure as a homeroom teacher drained my energy and mind to the point that I had to "spoil" or collapse.

indeed physically I have not completely recovered but visiting the bookstore again provides freshness and fitness in this body including mental which is getting better. Books are like an addiction to me.

mind and heart more happy after the cash register screen displays the price of Rp. 28,000 for a book that should cost Rp. 96,000 in the price. wow I had to ask the cashier one more time.

"this is real???"

"Yes, this book has a discount."

I saw no sign of a discount on the book when I picked it up on the biographical bookshelf. at least this book has been on my mind for a long time, but because of the price, it's actually only open because of the price but because I'm not comfortable with the author hehehe

Finally the special fried rice and some snacks can be brought home because the book discount wow that makes my wallet enough to pamper the stomach.