Daun Woka

This is the post excerpt.

nasi Kuning daun woka (sumber gbr flickr)

aku sebenarnya agak kikuk menggunakan nama ini (daun woka) karena maknanya bagi orang Minahasa (menurut kamus marga “fam” minahasa) sangat berkaitan dengan posisi/strata yang dihormati meski orang Minahasa sendiri tidak mengenal pembagian kasta atau kebangsawanan sebelum “kompeni” masuk mencaplok tanah Toar dan Lumimuut diikuti dengan penguasaan oleh kerajaan-kerajaan sekitar yang feodal. menurut kamus itu daun woka yang kuning keemasan adalah dasar munculnya fam TUWO yang melambangkan keperibadian seorang pemimpin yang mulia dan dihormati. tapi aku tak mau menjadi pemimpin yang dihormati aku ingin jadi orang kecil yang terhormat meski hanya menjadi “pembungkus” nasi kuning yang dijual dibeberapa warung pinggiran kota Manado. ya daun woka yang menjadi hiasan di acara-acara…setidaknya itulah kebanggaan yang kumiliki dengan menyandang fam TUWO dari leluhur. menjadi yang dilihat tanpa mata, dirasa tanpa hati namun tetap ada dan memberi. berkarya dalam kesunyian…


I am the happiest and the craziest person in the last few weeks. Only after a week have I bought seven books and enjoyed as if they were substitutes for staple food that was empty in my logistics warehouse – roughly the situation was like the atmosphere of mass riots in Japan in 1918 and the destitute poor people in North Korea after being split into two . That’s the real condition of my finance! But what can I say the book still tempts me to dive into hyperinflation like Indonesia in the era of liberal and guided democracy (1950-1966). Books were like Sukarno’s proyek mercusuar to maintain self-respect and establish a sovereign national character on their own feet, even though at that time the people were in poverty and could not even buy rice.

That’s how I describe myself; not as a Sukarno but as a book nut! I really am a human who has been possessed by the ghost of Tan Malaka who once wrote: “As long as the bookstore is still there, as much as possible to reduce food and clothing!” – INSANE right ???? !!!

Yes I am a madman!

In my head there were two demons who were whispering “not Andre! The bread stock at home is up!

Then an Indie demon slapped my face saying Hey dog! Just buy it, you think this bookstore is still there tomorrow? They will go bankrupt

you bastards made me so hot that I ended up having to prematurely ejaculate

Finally, I pocketed three books with oriental genres and it really became my dinner.

happy international book day (April 24th 2021). Yesterday I spent my time re-reading a row of old books that are still faithful to my concubines and satisfy my lust for reading!

Read diligently because books are expensive!

Thank you to the bookstores that are still surviving in the midst of an invasion of book digitization that frankly changed people’s tastes a little about the joy of smelling paper and flipping page after page.

Thank you because for me conventional books cannot be replaced by electronic books.

Finally, what is the difference between conventional book readers and e-book readers?

Conventional book readers can be happy because they may be free of Covid-19 while e-book readers may catch the virus because their sense of smell has been lost.

Manado, April 24th 2021


Saya adalah orang paling berbahagia sekaligus gila dalam beberapa minggu terakhir ini. Hanya selang seminggu sudah tujuh buku yang saya beli dan nikmati seolah-olah itu adalah pengganti makanan pokok yang sudah kosong di Gudang logistic saya—kira-kira situasinya seperti suasana kerusuhan massal di Jepang tahun 1918 dan melaratnya penduduk miskin di Korea Utara pasca terpecah menjadi dua. Begitulah kondisi perekonomian saya yang sebenarnya! Tapi apa mau dikata buku tetap menggoda saya untuk terjun dalam hyperinflasi layaknya Indonesia di era demokrasi liberal dan terpimpin (1950-1966). Buku ibarat proyek mercusuar Sukarno untuk menjaga harga diri dan membentuk karakter nasional yang berdaulat di atas kaki sendiri padahal kala itu rakyat sedang melarat dan tak sanggup bahkan untuk membeli beras.

Seperti itulah saya menggambarkan diri saya; bukan sebagai seorang Sukarno tapi sebagai seorang gila buku! Saya benar-benar manusia yang telah dirasuki oleh hantunya Tan Malaka yang pernah menulis: “selama toko buku masih ada maka sebisa mungkin untuk mengurangi makanan dan pakaian!”—GILA kan????!!!

Ya saya adalah orang gila!

Dalam kepala saya ada dua setan yang berbisik “jangan Andre! Stok roti di rumah sudah habis!

Kemudian setan Indie menampar wajah saya sambil berkata “woi anjing! Beli jo; ngana kira ni toko buku masih ada besok? Somo bangkrut dorang!”

Setang ley ini dua babi ni dia beking kita nafsu jo sampe capat skali ejakulasi!

(maaf saya menggunakan Bahasa manado melayu untuk dialog imajiner di atas)

Akhirnya tiga buku bernuansa oriental pun dikantongi dan benar-benar menjadi makanan malam saya.

Oh ya selamat hari buku internasional (24 april 2021). Kemarin saya menghabiskan waktu dengan membaca Kembali deretan buku-buku lama yang masih setia menjadi selir-selir saya dan memuaskan birahi saya terhadap membaca!

Rajinlah membaca karena harga buku mahal!

Terima kasih kepada toko buku yang masih bertahan hidup di tengah invasi digitalisasi buku yang terus terang sedikit mengubah selera orang tentang nikmatnya mencium harum kertas dan membolak-balik halaman demi halamannya.

Terima kasih karena bagi saya buku konvensional tak bisa tergantikan oleh buku elektronik.  

Terakhir, apa bedanya pembaca buku konvensional dan pembaca buku elektronik?

Pembaca buku konvensional dapat berbahagia karena kemungkinan dia  bebas covid-19 sedangkan pembaca buku elektronik kemungkinan dapat terserang virus itu karena indra penciumannya telah hilang.

Manado, 24 April 2021

Appreciating Garbage

Since morning I have been made fun of and laughed at by the behavior of Surya and Goffar, two gokil broadcasters who have been chirping with fresh jokes on their radio show Hard Rock FM. I really liked listening to the radio since I was a teenager. Although the last few months have rarely been done because of busy lamenting my fate.

Fate is like a pisang lilin beside me which is beautiful to see, but within seconds I managed to transmigrate in my stomach area and it was only a matter of time to go to the TPA “eternal toilet” aka becoming tai!

I don’t know why the toilet for me is eternal comfort because the eternal is Loss! The toilet is where the Lost is removed without heartache. In the end everything that is beautiful will turn to rubbish.

Seeing how life ends like that, I remember Socrates, who held the view that the virtue of life is good thoughts and before this is done we must be ourselves before trying to get to know other people.

We will all become trash in the end. But that is human fate. After all the trash will also give the best of the organization to figure out which ones can still be used and which ones really need to go.

Oh yeah, don’t you think I’m a reader of Greek philosophy. I am quoting Socrates because I’m reading a school textbook! Tomorrow there is a history class that will discuss the ancient Greek civilization.

Many do not believe that I am a teacher. The biggest group who doubted my career were nephews, rancid boys who had never seen me teach in their “school”! Yes, in their view it is their school! So the person who teaches outside their school is not a teacher!

The ideal teachers in their view are people who are stiff, neat, dignified, with equatorial haircuts, ‘khaki’ and all the forms of a mainstream teacher! What about me??? Uhuyyyyy none of the criteria fit! I am a silly, absurd, sometimes stiff, sometimes clumsy hmmm just look at my behavior when taking pictures at an official event like this:

The photo above is the photo when we attended a teacher friend’s wedding with a Kopassus soldier! I gave a caption for this photo: “Kopassus is flanked by Kopisusu, Kopidarat, and Kopimanaeee ????”. Yes my own style is different and silly!

But, never mind! Hopefully I can still distinguish between formal and casual events; Where’s serious where is Woles, and where are you and where is he ???? Hmmm you already went with him — already trash! Maybe it’s time to collect trash that is still useful.

The radio is still busy singing and reading my textbook is already on page 282 under the subtitles “Olympics”. Since childhood, I have been fascinated by the ancient Olympics and am still quite enthusiastic about seeing and looking for information about the modern Olympics. See the matches and their history. Last year’s Tokyo Olympic Games were postponed due to the pandemic. Hopefully this year the event will be held even though the pandemic is still not looking to give up and go away.

Wow, I just realized that today is the last broadcast of Goffar and Surya on GMHR (good morning hard rock)! It’s sad, but never mind everything will turn out to be trash in the end!

Manado, 20th April 2021

Menghargai Sampah

Sejak pagi saya sudah dibuat sedeng dan ngakak oleh kelakuan Surya dan Goffar, dua penyiar gokil yang sudah cuap-cuap dengan joke-joke segar di acara radio mereka Hard Rock FM. Saya memang suka sekali mendengarkan radio sejak remaja. Meskipun beberapa bulan terakhir sudah jarang melakukannya karena kesibukan meratapi nasib.

Nasib memang seperti pisang lilin di samping saya yang indah dilihat namun dalam hitungan detik berhasil melakukan transmigrasi di territory perut saya dan tinggal menunggu waktu menuju TPA “toilet abadi” alias menjadi tai!

Ntah kenapa toilet bagi saya adalah kenyamanan abadi karena yang abadi adalah kehilangan! Toilet adalah tempat kehilangan dilepas tanpa sakit hati. Pada akhirnya semua yang indah akan menjadi sampah.

Melihat bagaimana hidup itu berakhir seperti itu maka saya teringat Socrates yang berpandangan bahwa keutamaan hidup adalah berbuat baik dan sebelum itu dilakukan kita harus mengenali diri kita sendiri sebelum mencoba mengenal orang lain.

Kita semua akan menjadi sampah pada akhirnya. Namun itu bukanlah nasib terburuk manusia. Toh sampah juga akan memberikan yang terbaik dari darinya untuk mencari mana yang masih bisa digunakan dan mana yang benar-benar harus pergi.

Oh ya jangan kalian pikir saya adalah seorang pembaca filsafat Yunani. Saya mengutip Socrates karena memang sedang membaca buku teks pelajaran sekolah! Besok ad akelas sejarah yang akan membahas tentang peradaban Yunani kuno.

Banyak yang tidak percaya kalau saya adalah seorang guru. Kelompok terbesar yang meragukan karir saya adalah ponakan-ponakan, bocil-bocil tengik yang memang tidak pernah melihat saya mengajar di “sekolah” mereka! Ya di pandangan mereka sekolah itu adalah sekolah mereka! Jadi orang yang ngajar di luar sekolah mereka bukanlah seorang guru!

Guru ideal di pandangan mereka adalah orang-orang kaku, rapih, berwibawa, potongan rambut katulistiwa, ber’khaki’ dan segala bentuk frame seorang guru yang mainstream! Bagaimana dengan saya??? Uhuyyyyy nggak ada yang masuk kriteria! Saya seorang yang konyol, absurd, kadang kaku kadang kikuk hmmm lihat saja tingkah saya sewaktu berfoto di sebuah acara resmi seperti ini:

Foto di atas adalah foto Ketika kami menghadiri acara pernikahan teman guru dengan seorang prajurit Kopassus! Saya memberi caption untuk foto ini: “Kopassus diapit oleh Kopisusu, Kopidarat, dan Kopimanaeee????”. Ya gaya saya saja yang berbeda sendiri dan konyol!

Tapi, never mind! Semoga saya tetap dapat membedakan mana acara resmi mana santai; mana serius mana woles aja, dan mana kamuuuu dan mana diaaaa???? Hmmm kamu sudah pergi dengan dia—sudah jadi sampah! Mungkin saatnya memulung sampah yang masih berguna.

Radio masih sibuk bernyanyi dan bacaan buku teks saya sudah pada halaman 282 di bawah sub judul “olimpiade”. Sejak kecil saya sudah terpesona dengan olimpiade kuno dan masih cukup antusias melihat dan mencari informasi tentang olimpiade modern. Melihat pertandingan dan sejarahnya. Saying olimpiade Tokyo tahun lalu ditunda karena pandemic. Mudah-mudahan tahun ini perhelatan akbar itu akan diselenggarakan meskipun pandemic masih belum Nampak akan menyerah dan pergi.

Wah saya baru sadar kalau hari ini siaran terkahir Goffar dan Surya di acara GMHR (good morning hard rock)! Sedih memang, tapi ya sudahlah semua memang akan menjadi sampah pada akhirnya!

Manado, 20 April 2021

After being vaccinated

Rain with the wind came suddenly and started hitting every corner of my boarding house. It was even more pronounced because the wooden room was on the second floor. The sound of roof starting to come off the nails and the lashing of the windows that did not reveal even more that the weather was changing so rapidly – scorching heat in the afternoon as my friends and I searched after mass noon at the Cathedral; turns to cloudy, windy rain during the day. Luckily I had checked myself out on that scorching day to go to a Singapore bakery to buy some English bread in preparation for dinner because I wasn’t in the mood to eat rice at night.

The electricity went out; I already have to unplug the device charger and turn it on with the new battery status is 60% charged. Hmm I thought by turning on the device I would go through the darkness of the room with a little entertainment. That was not the case! Twitter, Whatsapp, and YouTube cannot easily get status. Internet network is not in good condition.

In the afternoon before the power went out, I had finished reading the last two books out of a total of four new books that I bought last week through an independent bookstore called Post Santa. There was practically no more entertainment besides the electric interest and started working on writing.

Shower is the first thing I do when the electricity is on. After I picked up the guitar and tried to play some songs that became my practice in learning the chords and how to play the guitar.

Finally, pencils and booklets are in the hands of a guitar substitute. Fingers that previously learned to pluck string by string and move frets then produce tones turn into fingers that play a pencil Arrange letters that produce a narrative!

It is already 7:00 p.m., my stomach starts to rumble and asks for English bread smeared with fruit jam. Since I was injected with the vaccine for the first time I really like to be hungry but not hungry for rice! It’s been the third day since being vaccinated, my left arm is still sick, headaches, body cramps and aches, had a fever but it hasn’t been valid since I received the medicine given by the doctor.

After the bread ran out, then I wrote this article at the same time wanted to close it immediately because I didn’t know what to write anymore. The rain still fell even though it was no longer equipped with the wind. Hopefully I can sleep well tonight and wake up tomorrow morning with an arm that doesn’t hurt anymore.

Manado, April 18th  2021

Setelah divaksin

Hujan bersama angin datang tiba-tiba dan mulai menghantam setiap sudut rumah kos saya. Lebih terasa lagi karena kamar kayu itu berada di lantai dua. Bunyi seng-seng yang mulai terlepas dari pakunya serta hantaman jendela yang tak terkunci semakin menegaskan bahwa cuaca begitu cepat berubah—panas terik di siang hari saat saya dan teman-teman mencari makan siang setelah misa di Katedral; berubah menjadi mendung, hujan berangin di sore hari. Untung saja saya sudah menyiksa diri dengan keluar di siang hari yang terik itu menuju ke toko roti Singapura untuk membeli roti Inggris sebagai persiapan makan malam karena saya tidak bernafsu untuk makan nasi pada malam hari.

Listrik pun padam; saya terpaksa harus mencabut kabel pengisi daya gawai dan menghidupkannya dengan status baterai yang baru terisi 60%. Hmm saya pikir dengan menghidupkan gawai maka saya akan melewati kegelapan kamar dengan sedikit hiburan. Ternyata tidak demikian! Twitter, Whatsapp, dan youtube pun tak dapat diperbarui statusnya. Jaringan internet memang sedang dalam kondisi yang tidak baik.

Sore sebelum listrik padam, saya sudah menyelesaikan membaca dua buku terakhir dari total empat buku baru yang saya beli minggu lalu melalui toko buku independen yang bernama Post Santa. Praktis tidak ada lagi hiburan selain menunggu listrik menyala dan mulai memikirkan untuk menulis.

Mandi adalah hal pertama yang saya harus lakukan sewaktu listrik menyala. Setelah mandi saya mengambil gitar dan mencoba memainkan beberapa lagu yang menjadi bahan Latihan saya dalam mempelajari kunci-kunci (chord) serta bagaimana cara memainkan gitar.

Akhirnya pensil dan buku kecil telah berada dalam genggaman menggantikan gitar. Jari-jari yang sebelumnya belajar memetik senar demi senar dan berpindah fret demi fret kemudian menghasilkan nada berubah menjadi jari yang memainkan pensil Menyusun huruf-huruf yang menghasilkan narasi!

Sekarang sudah pukul 19.00, perut mulai keroncongan dan meminta untuk diisi roti Inggris yang diolesi selai buah. Sejak disuntik vaksin untuk pertama kalinya saya memang suka lapar tapi bukan lapar nasi! Sudah hari ketiga sejak divaksin lengan kiri saya masih sakit, kepala pusing, badan keram dan pegal, sempat demam tapi tidak berlanjut sejak saya memakan obat yang diberikan oleh dokter.

Setelah roti habis, maka barulah saya meneruskan tulisan ini sekaligus ingin segera menutupnya karena sudah tidak tahu apa yang harus ditulis lagi. Hujan masih turun meski sudah tak disertai angin lagi. Semoga saya dapat tidur nyenyak malam ini dan bangun besok pagi dengan lengan yang sudah tak sakit lagi.

Manado, 18 April 2021

Liverpool and our Collapsed

When you sing Didi Kempot’s songs at your friend’s wedding, you are the person who is most open to expressing your passion to people. It doesn’t matter if you are usually the quietest person and don’t talk much, finally you can find lyrics that are popular songs, aka according to experience.

For you, this has become a normal thing because hurt feelings are a part of life itself. It is the same with Liverpool supporters — The Kopites who finally had to admit that the hurt came back after a 30-year-old party that was so lively a year ago.

A lot of bullying is aimed at you, but there is no need to worry and there is no need to be ashamed because victories and defeats will always come and go. Said Didi Kempot “if it collapses, just jogetin it”. (kalau lagi ambyar, jogetin aja)

For you Liverpool fans, please watch Gita Wirjawan’s interview with Marty Natalegawa at this link

Just watch it starting from 1:28:36 minutes

I just found out that Marty Natalegawa is a Kopites. I have indeed admired him since he became Minister of Foreign Affairs of Indonesia for the 2009-2014 period. He is a true Liverpool fan who remains loyal despite his team’s ups and downs.

It’s really annoying to see their games lately. But a fan doesn’t just keep asking for victory from his  team. Hope you can, but you have to see the reality too. How about you? Are you part of the person who collapsed because your lover left you or because your main team suffered defeat?

Yes, listen to this song entitled “Don’t Worry my dear”, one of the Korean drama OSTs that I think is really worth listening to and watching; 1988 reply! May we all never think that defeat, heartbreak and sadness is the end of our achievements.

Hopefully we never regret our own choices! Regardless of the fact we have chosen and there are parts of our lives that are black and white in content.

Manado, 17 April 2021

Liverpool dan Keambyaran kita

Saat kamu menyanyikan lagu-lagu Didi Kempot di acara pernikahan teman kamu maka kamu adalah orang yang paling terbuka mengekspresikan keambyaran kamu ke orang-orang. Tak peduli kalau biasanya kamu adalah orang yang paling pendiam dan tidak banyak bicara akhirnya petjah juga dengan lirik-lirik yang lagu yang memang merakyat alias sesuai pengalaman.

Bagi kamu, hal ini sudah menjadi hal yang biasa karena sakit hati adalah bagian dari hidup itu sendiri. Sama halnya dengan pendukung Liverpool—The Kopites yang akhirnya mesti mengakui bahwa sakit hati itu datang Kembali setelah pesta 30 tahun yang begitu meriah setahun yang lalu.

Banyak bully yang Kembali ditujukan ke kamu namun tidak perlu khawatir dan tidak perlu malu karena kemenangan dan kekalahan memang akan selalu datang silih berganti. Kata Didi Kempot “kalau lagi ambyar, ya dijogetin aja”.

Bagi kamu fans Liverpool silahkan nonton wawancara Gita Wirjawan kepada Marty Natalegawa di link ini

Cukup nonton mulai dari menit 1:28:36

Saya baru tahu kalau ternyata Marty Natalegawa adalah seorang the Kopites. Saya memang mengagumi beliau sejak menjadi Menteri luar negeri Indonesia periode 2009-2014. Beliau adalah sosok fans Liverpool sejati yang tetap setia meskipun timnya mengalami pasang surut.

Memang sebel juga sih melihat permainan mereka akhir-akhir ini. Tapi seorang fans tidak hanya terus meminta kemenangan dong pada tim pujaannya. Berharap boleh tapi harus melihat kenyataan juga dong. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah bagian orang yang ambyar karena ditinggal kekasih atau karena tim andalan kamu menderita kekalahan?

Ya, dengarkanlah lagu ini yang berjudul “Don’t Worry my dear”, salah satu OST drama Korea yang menurutku sangat layak untuk didengar dan ditonton; reply 1988! Semoga kita semua tidak pernah menganggap kalau kekalahan, patah hati dan kesedihan adalah akhir dari pencapaian-pencapaian kita.

Semoga kita tidak pernah menyesal dengan pilihan kita sendiri! Apa pun kenyataannya kita sudah memilih dan ada bagian dalam bab kehidupan kita yang isinya hitam dan putih.

Manado, 17 April 2021

Pacar Baru

Dua hari ini saya seperti orang kelaparan yang melahap makanan yang tersaji di hadapanku! Namun kali ini saya lapar bukan pada nasi goreng, tinutuan, nasi kuning atau tahu isi yang biasanya menjadi menu andalan saya—saya lapar akan bahan bacaan ya empat buku kecil terbitan post press yang baru tiba kemarin sore. Tanpa menunggu waktu lagi, segera setelah menerimanya saya langsung melahapnya dan menyelesaikan dua buku saat malam tiba!

Pagi ini saya melanjutkan buku ketiga dan keempat yang ntar lagi akan saya selesaikan juga. Kalau tidak merasa bersalah dengan pembuatan rencana pembelajaran untuk besok, pasti saya sudah menyelesaikan semua buku itu tadi siang. Intinya adalah saya lagi keranjingan membaca setelah hampir sebulan tidak ada buku baru yang masuk ke perpustakaan pribadi saya.

Sebenarnya hampir setiap hari, saya selalu membaca meski sebatas membaca buku teks pelajaran yang akan saya ajarkan di kelas sejarah. Selebihnya saya banyak menonton video dokumenter sejarah—dan yang paling “absurd” adalah menonton drama korea Reply 1988 untuk kedua kalinya! Kisah saya terjebak dalam dunia drakor adalah sewaktu iseng membuat cuitan “siapa yang punya linknya Reply 1988” di twitter eh malah dimention oleh mantan murid saya sekaligus di DM linknya dan jadilah saya terjebak jebakan Batman hahahaha, saya pikir filmnya langsung selesai ternyata harus menghabiskan 20 episode dan sekitar seminggu untuk menyelesaikannya!

Hmm lupakan dulu untuk melanjutkan nonton bagian keduanya! Karena saya sekarang sedang jatuh cinta dengan empat buku yang saya sebut sebagai pacar baru saya! Benar sekali saya menganggap semua buku-buku saya sebagai pacar. Mereka memang terlihat lebih setia dari pada cewek cewek yang pernah menjadi bagian dalam hidup percintaan saya.

Saya memang sering ditanya apakah masih memiliki “rasa” atau “getaran” saat diperkenalkan dengan cewek dengan maksud “khusus”. Hahahaha pertanyaan yang sulit saya jawab dengan jujur karena bagi saya itu adalah urusan pribadi yang tak perlu ditanggapi serius! Saya tidak mau terjebak dalam kisah romansa yang di “keiker-keiker” oleh orang lain hahahaa. Hmmm tapi saya tetap menghargai niat baik teman-teman mengenai nasib percintaan saya.

Ntah kenapa saya begitu tergila gila dengan dunia bacaan yang kadang menenggelamkan saya dalam keasyikan menyendiri dan keheningan. Mungkin memang terlihat aneh meski saya sadar bahwa memang sejak gagal nikah saya cenderung menganggap hubungan serius cewek dan cowok itu sekadar lelucon belaka. Perasaan ambyar dan status jomlo ngenes yang disematkan ke saya justru menjadi lelucon yang sering saya umbar Ketika melempar joke-joke kepada teman-teman dalam berbagai kesempatan Bersama mereka.

Saya memang merasa depresi sewaktu melewati masa-masa ambyar Ketika kepercayaan yang dijaga dibalas dengan penghianatan terselubung di balik “sakit hati” dan “menjadi korban” di-pehapein. Kebutuhan akan literatur dan selera humor ternyata membantu saya melewati masa-masa itu. Buku, film, music, menulis, bergaul dengan teman akan sangat bermanfaat saat hati merasa lelah untuk berharap. Percaya deh kalau kalian merasakan apa yang saya rasakan, coba lakuin salah satu kegiatan yang saya tuliskan sebelumnya.

Kita memiliki kekuasaan pada diri kita sendiri; bagaimana kita ingin bahagia dan apa yang ingin kita lakukan untuk bahagia. Pada akhirnya semuanya itu bergantung sepenuhnya kepada kita bukan kepada orang lain. Kita yang memiliki hidup ini, menjalaninya dan menentukannya! Keputusan ada di tangan kita, oleh karena itu berbahagia dan bersedihlah pada tempatnya, jangan berpura-pura karena hidup sudah penuh dengan kebohongan dan kemunafikan!

Manado, 13 april 2021

Membaca Biografi

Hal yang paling tidak diinginkan dalam hidup adalah Ketika kita pensiun dan tidak bisa lagi produktif dengan hal-hal yang biasa dilakukan semasa muda.

Membaca kisah-kisah senja orang-orang besar tentunya membuat kita bertanya bagaimana dengan kita seandainya usia dan tubuh tak lagi menunjang kita dalam menjalani kehidupan yang begitu berat ini?

Kematian akan menadi penutup dari semua kisah manusia! Ntah bagaimana, di mana, dan kapan ia akan datang! Aku iri dengan pencapaian orang-orang besar itu—mereka telah berbuat sesuatu sebelum ajal menjemput.

Hmmm mungkin rasa inferior ini muncul karena semua buku-buku biografi dianggap sebagai kisah inspiratif; makanya kita kadang berpikir bahwa kita tidak pernah melakukan hal penting di dunia ini!

Cobalah melihat kisah orang-orang kecil di balik layar kehidupan ini! Tukang sapu jalanan; tukang sayur; tukang cilok; sopir angkot; petugas sampah dan banyak mozaik kehidupan yang benar-benar nyata dan tidak dibuat-buat a’la buku-buku biografi orang besar.

Mereka adalah pejuang dan pahlawan setidaknya bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Jangan lupa kalau sedikit dari kebahagiaan kita terukir dari kerja keras mereka!

Contoh, setiap pulang sekolah saya selalu melihat adegan gembira dari anak-anak saya yang sedang makan cilok di pinggir jalanan sekolah! Bayangkan anak-anak berduit yang dimanja orang tua mereka begitu berbahagia dengan jajanan pinggiran jalan yang  tidak semahal makanan yang ada di restoran, café atau bahkan rumah mewah mereka!

Atau bagaimana kegembiraan ibu-ibu kompleks menunggu mas sayur langganan mereka setiap pagi, meski gerimis mereka tetap tertawa sambal gibah tentunya hahaaa. Mas sayur adalah symbol persatuan para ibu tak peduli latar belakang ekonomi dan status, semua Bersatu demi dapur keluarga tetap berasap dan ada yang tersaji di meja makan sepanjang hari itu.

Mereka adalah manusia yang seutuhnya melihat dunia dengan kenyataannya! Dunia yang tak seindah buku biografi. Mungkin sudah saatnya kita membaca biografi cukup sampai bagian bab-bab awal kehidupan sang tokoh saja; bagian prolognya saja. Loh mengapa? Karena sedikit atau banyak kisah nyata sebuah biografi ada pada bagian awalnya saja—mengenai bagian epilog, cukuplah sebagai hiburan!

Manado, 10 april 2021

ketika Jalan Samrat sepi

mungkin mereka bosan dengan pesan yang itu itu saja; selesaikan tugas dan kirimkan; minta remedial untuk nilai-nilai merah yang ada di raport semester lalu, isi daftar hadir eschool dan segala tetekbengek dunia pembelajaran onlen dan sebangsanya hmmmm serasa pengen tahun akademik ini segera berakhir dan berharap mereka semua naik kelas.

mereka sudah berjuang apa pun hasilnya nanti; saya hanya merindukan bertatapan langsung dengan mereka dan mencoba kembali untuk memegang spidol dan menulis di papan tulis seperti pada saat semuanya dalam kondisi normal. tidak lama lagi mereka akan naik kelas dan gilanya mereka tidak pernah merasakan suasana berada di dalam kelas beneran, makan di kantin, berolahraga di lapangan sekolah atau sekadar bersantai di kawasan sambil membuat tugas hari itu

ada yang rindu mas-mas cilok di samping sekolah??? hahhaa saya biasa melihat keramaian anak-anak di jalan samrat dan lorong pondol.

atau apakah kalian mengingat kios barcelona di lorong kampung tondano???? banyak sekali gravity garavity para vandal yang masih menjadi saksi betapa anarkinya lorong itu oleh tangan-tangan para seniman masa depan!

tahun ini tak terasa satu angkatan lagi akan kami lepas–dan sejarah kembali berulang: mungkin kepergian mereka juga akan sama sunyinya seperti angkatan sebelumnya!

pada akhirnya semua akan menjadi sejarah!

kapan ya kelas-kelas dan sudut-sudut sekolah akan kembali seramai jalan samrat?

Manado, 8 April 2021

Sapiens 1986 to Millenium

oleh Christian Andre Tuwo

Bagi saya hal yang paling menyenangkan dari pemanfaatan perangkat teknologi adalah kemampuan untuk membawa penggunanya melakukan “reply”, “back”, “rewind”, atau apalah macam-macam istilahnya; intinya adalah kita boleh Kembali kapan saja kita mau apabila kita merasa rindu atau sekadar ingin melihat Kembali apa yang mungkin sempat terlewatkan.

Semula itu dirancang karena manusia dianugerahkan kemampuan untuk mengingat! Ingatan itu ada dalam sebuah cetak biru yang  bernama memori. Kenangan mungkin terlihat konyol, menyedihkan, dan mengecewakan namun kenangan pada suatu Ketika dapat menjadi semacam “puzzle” dari sebuah “missing link” kehidupan yang mungkin saja membuat kita tahu di mana harus memulai proses penyembuhan luka masa lalu.

Kadang kita mungkin menertawakan hal-hal konyol atau bahkan hal-hal sedih yang dulu pernah kita alami. Apa pun itu waktu hanya mengembalikan kenangan kepada kita! Dan kita tidak perlu repot-repot untuk tinggal di dalamnya.

Memori kita memang memiliki keterbatasan dalam mengingat apalagi untuk sebuah peristiwa yang sudah berlangsung lebih dari 30 tahun. Toh kita sekarang hidup dan menjalani apa yang sedang kita hadapi saat ini dan kita sudah lupa dengan masa lalu itu seolah tidak berpengaruh pada kehidupan kita sekarang.

Namun, ada satu masa saat kita merasa penat, capek dan ingin menyerah dengan kehidupan yang kita jalani sekarang. Kita ingin berhenti sejenak dari rutinitas membosankan itu. Mengapa tidak mencoba dengan melakukan proses “reply” tadi? Bagi saya proses ini berlangsung dalam sebuah imaji yang bersifat “magic”; semacam terapi psikis merasakan sensasi rindu bahkan untuk sebuah perjalanan pahit yang pernah dialami bertahun-tahun silam.

Rindu di sini bukan berarti senang dengan “luka”, tapi ini berhubungan dengan kekuatan yang dulu tak pernah kita sadari bahwa kita pernah melewati masa-masa yang tak kan mau kita ulangi. Toh kita sekarang baik-baik saja! Kita menjadi manusia yang sadar akan berjalannya waktu dan dengan sendirinya semua akan menjadi sejarah.

Saya ingat saat televisi masih jarang ditemukan di rumah-rumah kompleks di kampung saya; kami masih merasakan bagaimana keakraban tetangga yang melakukan “nobar” di jam-jam tertentu biasanya sore sampai malam bergantian acara anak dan orang dewasa bergantian di layar televisi yang waktu itu hanya berjumlah dua siaran dengan televisi hitam putih merek nasional kalau saya tidak lupa ingat. Televisi 14 inch yang tombol “on”nya harus ditarik sampai bunyi klik serta “off”nya harus ditekan sampai bunyi klik hehehe tombol on/off berfungsi juga sebagai tombol volume yang harus diputar seperti tombol-tombol volume radio jadul.

Wah ingat radio membawa ingatan saya pada memori masa SMP dan SMA yang mulai merasakan cinta-cinta monyet yang dikirimkan melalui kartu pilpen (pilihan pendengar) waow adrenalin meningkat sewaktu kartunya dibacakan setiap sore plus lagu pilihan diputar masih pake kaset pita hehehehe. Hmmm hingga pada suatu waktu Kamilah generasi yang menjadi jembatan antara masa generasi X dan Z. ya kami adalah generasi Y yang selama ini dikenal dengan kaum milenial!

Generasi yang masih merasakan indahnya lagu-lagu lebay ala Pance Pondaag, Betaria Sonata sekaligus yang masuk generasi Guns’ N Roses, Bon Jovi, MLTR, Backstreet boys, Westlife, Slank, Dewa, Rossa, Jikustik, Gleen, element, hingga Sheila On 7.

Soal teknologi Kamilah yang merasakan berada di antara generasi walkmen, tetris, kamera roll, Nintendo, ding-dong, mesin tik, computer tabung , playstation, telepon umum hingga hanphone poliponik yang pakai antenna, warnet hingga penggunaan modem internet.

Era komik, novel dewasa picisan sampai buku-buku cerita dewasa, dari kartu gambar kwartet winnie the pooh sampai gambar porno hingga penggunaan video VHS sampai VCD dan DVD, dan berburu poster pemain bola di tabloid Bola, Go dan Soccer yang sekarang sudah almarhum; paling senang kalau hari sabtu sekolahan hanya setengah hari cepat-cepat pulang nonton delta music dan film Vampire yang nggak ada horror horornya hehehe kami merasakan masa-masa transisi itu. Masa-masa yang tetap diselingi dengan permainan tradisional seperti main kelereng, bak-bak sembunyi (petak umpet), mengejar layang-layang, main lompat tali, main gelang karet, cenge dan banyak aktivitas luar rumah yang menggerakkan tubuh kami sehingga jarang ada anak obesitas di masa generasi kami heheee. Bahkan untuk anak berkacamata pun rasanya jarang terlihat meskipun hidup kami juga banyak diwarnai dengan membaca buku.

Kegiatan-kegiatan fisik luar rumah mulai tergeser dengan berkembangnya video game dan perangkat parabola yang mulai menangkap banyak siaran televisi yang beragam juga munculnya penggunaan televisi berwarna yang semakin menarik perhatian anak untuk tinggal di rumah khususnya pada hari minggu—hari yang dinantikan karena sejak pagi sampai siang acara anak mulai dari Doraemon, Unyil, Dragon Ball, Ikyu San, power Rangers, wiro sableng dan banyak lagi yang sudah saya lupa membuat kami lebih betah berada di depan televisi. Seingat saya program-program anak waktu itu memang dirancang untuk mendidik! Seperti Si Komo, Tralala trilili, kring kring ollaala, negeri di atas awan dan masih banyak lagi yang saya lupa hehehee.

Kisah sedih dari masa peralihan 90an ke era milenial adalah mulai munculnya efek negative dari kapitalisme dan konsumerisme yang membuat generasi kami kehilangan rasa kebersamaan dan kerja sama. Dalam pergaulan Mulai terlihat perbedaan kasta antara kaum “having” dan “not having”. Anak-anak kelas atas mulai memisahkan diri dan tidak mau bermain lagi Bersama kami anak anak “proletar” hehehe. Kami hanya dapat melihat mereka bermain game atau menonton video terbaru dragon ball dari luar kaca jendela itu pun kalau ketahuan maka gordennya akan ditutup. Hmmm dasar borjuis laknat!!!

Masa itu juga adalah masa kamu terlihat keren jika menuliskan nomor telepon rumahmu pada formulir biodata yang ditulis dilembaran-lembaran kertas file  yang dibolong bolong di bagian pinggirannya heheee. Memiliki nomor telpon rumah serasa menjadi penguasa feodal di sebuah kompleks kampungan! Kenapa kampungan? Karena telpon hanya untuk gaya-gayaan termasuk menerima telpon gelap kalau sekarang istilanya Cuma missed called doang! Itulah perbuatan kami terhadap telpon umum yang ada di pinggir jalanan kota!

Hal yang paling lucu kalau diingat sekarang adalah bagaimana kami memberikan hadiah kepada yang berhari ulang tahun, zaman itu masih jarang kalau memberi hadiah Dengan envelope, semuanya pasti dalam bentuk kado. Isinya? Shampoo, sabun mandi, dan sikat gigi, sabun mandinya saya ingat sabun Give, shamponya emeroon, sikat gigi dan odolnya merek kodomo hehehe

Sepertinya diperlukan tulisan berjilid jilid untuk dapat merangkum semua ingatan tentang masa lalu! Seolah tak ada yang tak penting dari setiap mozaik kehidupan. Semuanya terawat dalam memori! Sejarah tak melulu mengenai penghianatan dan kesedihan ia bisa saja berbentuk recehan-recehan kisah dari sudut-sudut kampung atau gang yang tak tertampung oleh megahnya sejarah nasional yang lebih banyak berkisah tentang narasi-narasi besar.

Kita semua adalah pembuat sejarah; tak menjadi soal apakah tertulis atau tidak dalam kurikulum sejarah. Kita dapat menuliskan kisah kita masing-masing dalam lembaran sejarah hidup kita. Siapa tahu pada saatnya nanti akan ada kepuasan saat kita Kembali menekan tombol “reply”, “reward”, “back” dalam scene sejarah kita yang penuh memori.

Ingatan memang ada batasnya, jadi bagi kalian yang lahir antara 1986 dan 2000 silakan bantu saya tuliskan hal-hal apa saja yang kalian ingat dari masa-masa itu?

Manado, 27 maret 2021


Oleh Christian Andre Tuwo

Untuk membuka pertemuan kita lewat tulisan ini maka….izinkanlah aku melukis senja dan membasuh lelahmu, mar ngana so bukang senja ley for kita, ngana so sama deng setang tengah malam yang beking kita pe mimpi horror sama deng perang kamboja. Beberapa jam ini kayaknya kita lagi dibuat fokus pada sesuatu yang berhubungan dengan “setang” atau hantu atau Ghost atau apalah yang penting ini bukan berhubungan dengan dunia “lain”, bukan jiwa-jiwa yang sedang ingin dilepaskan dari belenggu api penyucian. Ini kisah soal hantu jadi-jadian yang dapat berbentuk princess dan prince. Ya hantu-hantu yang menurut lagunya Dewa, telah membuat kosong hati yang terus menghantui dan membuat gelisah padahal sebenarnya hanya berniat untuk singgah dan kemudian pergi tanpa kabar. Hantu-hantu ini juga ibarat bayang-bayang foto di folder computer yang terus bercerita dan menyapa padahal banyak kecewa yang sudah terjadi dari sebuah hubungan. Ntah kenapa Skinnyfabs memberi judul lagunya “Ghost” padahal nggak ada sama sekali unsur hantu dalam lagu bucin tersebut.

Intinya rindu, merindu, cinta, mencinta identik dengan hilang, menghilang, sakit, menyakiti, kecewa, dan mengecewakan! Apa pun itu paling sakit memang kalau di Ghostingin. Mungkin memang lebih horror dari cerita horror itu sendiri. Mungkin kalau di manado ghosting itu cocok deng lagu yang berjudul “burung bajingan”. Situasi yang menggambarkan hubungan yang toxic Ketika salah satu pasangan hanya menjadikan pasangannya sebagai tempat persinggahan “tampa ba singgah, tampa ba tera, setelah itu terbang seperti burung yang tidak pernah menetap”. Burung bajingan mungkin sudah bergeser analoginya bukan hanya soal fakboi tapi juga fakgirl, bukan soal sadboi tapi juga soal sadgirl. Dua makhluk ambyar yang sama-sama bucin dan banyak mengonsumsi micin.

Susah memang merealitakan kata you are my guy or you are my girl, stand by my side! Oh what a fuc*** words!. Apakah ada soulmate di dunia ini? Yang ada kalau kita penggal kata itu secara cocokologi etimologi SOULMATE itu dari kata “soul” dan “mate” nah “Soul” itu jiwa sedangkan “mate” kalau “e” diganti “i” maka jadinya “mati”. Jadi soulmate itu dekat dengan jiwa-jiwa yang mati! Sepertinya cocok karena terjemahan Bahasa inggrisnya adalah “belahan jiwa” jelas dong jiwa kalau dibelah pasti mati! Mungkin itulah kenapa Ghosting itu seperti hantu hantu pencabut nyawa! Malaikat saja kalah dengan tipe orang yang suka ghosting itu—dulunya malaikat berubah menjadi malaikat pencabut nyawa.

Apakah kamu pernah menulis puisi untuk dia yang Namanya selalu kau sebut dalam doa?, mungkin waktu itu dia seakan menjadi satu-satunya putri atau pangeran yang mampu mencairkan balok batu es yang mengeras dan membeku dalam hatimu. Puisi-puisi itu teryata hanyalah polisi yang hanya mampu menahan kamu sampai pada sebuah kecerobohan mengakibatkan kamu “tapalisi” pada sebuah penjara yang kamu ciptakan sendiri. Ntah siapa yang ghost dan siapa yang lost!

Mungkin kamu tak cukup mantra untuk mengutuk setiap ghost yang mengghostingin kamu! Diperlukan seribu Harry Potter untuk mengalahkan Voldemort dalam wujud fakboi dan fakgirl! Dua tipe manusia yang tak layak menebar the magic of love. Cinta memang dekat sekali dengan permainan magic yang kadang nggak logic! Bagi yang sedang dighostingin, tenang saja cukup ambil gitar nyanyikanlah lagu Budi Doremi dan berkata: peace, love and thank you! Atau lanjutkan dengan lagunya Ariana Grande: thank you, next!

Manado, 7 Maret 2021

Tiga Masa, Tiga Angkatan

Oleh Christian Andre Tuwo

Tiga masa yang terlewati terdapat benang merah dalam sebuah bangsa yang bernama Indonesia. Semuanya berawal dari diskusi grup Whatsapp antara saya dan mereka, tiga Angkatan yang membentuk satu rantai kesatuan dalam satuan Pendidikan yang bernama Rex Mundi. Apa itu tiga masa dan tiga Angkatan? Tiga masa adalah tiga topik pembelajaran selama minggu 22-26 februari yang dipelajari oleh tiga Angkatan yakni Angkatan 61 (kelas XII), Angkatan 62 (kelas XI) dan Angkatan 63 (kelas X).

Topik pertama untuk Angkatan 61 adalah “masa Reformasi 1998-1999 ketika jatuhnya orde baru dan digantikan oleh B.J Habibie, topik kedua untuk Angkatan 62 mengenai peristiwa sekitar proklamasi dan terakhir topik ketiga untuk Angkatan 63 adalah corak kehidupan masa pra aksara. Tiga Angkatan membahas tiga masa sejarah Indonesia yang terpaut cukup Panjang untuk ditelisik keterkaitannya sebagai bahan refleksi setidaknya bagi saya pribadi yang mengajar mereka.

Saya mungkin dapat memulainya dengan apa yang ada dalam pikiran anak-anak sewaktu diminta menuliskan Analisa mereka tentang topik itu. Misalnya untuk Angkatan 61, mereka banyak tertarik pada kenapa Habibie melepaskan Timor-timur? Sedangkan di Angkatan 62 banyak muncul rasa simpati terhadap Laksamana Maeda yang menyediakan rumahnya untuk kepentingan tokoh nasionalis merumuskan proklamasi kemerdekaan. Bagi anak Angkatan 63 mereka lebih banyak menyoroti mengenai asal muasal manusia Indonesia yang muncul pada masa neolitikum dan kisah lukisan di gua leang-leang Maros Sulawesi Selatan yang ternyata adalah lukisan tertua di dunia.

Sebenarnya topik-topik yang dibahas selama minggu ini belum dapat dikatakan selesai! Karena memang masih akan dilanjutkan minggu depan. Namun ada hal yang dapat saya pelajari Ketika mengajar tiga topik ini ke mereka, yakni mereka yang memilih sendiri apa yang ingin mereka diskusikan! Saya hanya memberikan referensi berupa bahan bacaan dengan deretan halaman dan materi pokok. Sering saya menambahkan beberapa referensi video documenter dan artikel-artikel online yang mendukung materi pembelajaran.

Setelah mereka menentukan sendiri apa yang ingin mereka diskusikan, maka terjadilah percakapan dari berbagai sudut pandang yang serius, kritis bahkan receh sereceh pernyataan, “maaf uncle, masih pagi jadi belum bisa konsentrasi”, ujar seorang siswa  yang saya yakin belum mandi dan mungkin sedang melakukan diskusi grup sambil tidur-tiduran. Ya itulah kelemahan sekaligus kelebihan belajar online! Semuanya serba terbalik; kalau masa kelas normal jam kritis anak ada pada jam setelah makan siang, maka pada saat kelas online jam kritis itu terjadi pada jam pertama dan kedua yang dimulai antara jam 08.00-10.00. wah kenapa bisa begitu? Karena jam bangun anak jaman pandemic adalah jam 11.00 siang!

Jam 06.00 mereka sudah bangun untuk isi daftar hadir eschool, tapi setelah itu mereka tidur Kembali. Untung-untungan kalau mreka bisa ngikutin jam pertama pukul 08.00 kalau ada yang berhasil ikut yaaa tebak saja hasilnya pasti seperti anak yang saya tulis sebelumnya: tidak konsen, menguap-nguap, atau tidak akan meng-ON-kan Kamera saat zoom!

Ada juga yang saking tidak konsennya, memprotes saya karena halaman buku yang saya posting di eschool topiknya tidak sama dengan halaman pada buku mereka. Saya berkata, “coba periksa kembali bukunya!”. “sudah benar pak, nih saya baca buku Sejarah Indonesia”, sambil menunjukkan bukunya ke saya melalui pertemuan zoom. Ya elahhhhh nak nak nak sekarang itu jam pelajaran Sejarah peminatan bukan sejarah Indonesia. “oh maaf pak soalnya sama-sama sejarah”, ucap si anak sambil nyengir.

Yahhh orang manado menyebut kondisi seperti ini: “paka testa” (tepuk jidat), saya hanya bisa mengelus dada plus sabar karena masa pandemic ini membuat semua nggak konsen! Siswa dan guru sama-sama sensitif! Kalau saya sendiri agak sedeng karena menurut saya  bertingkah konyol akan menyelamatkan kita dari krisis mental gara-gara koronces (korona), ya sedikit humor mungkin bisa membantu kita survive!

Wah tulisan ini sudah tidak ada benang merahnya sama sekali, ya untunglah mas Menteri sudah membuat aturan untuk tidak perlu terlalu mengejar ketuntasan materi di masa pandemic ini!. Kalau saya memilih untuk mencoba menggali hal-hal praktis apa yang dapat diambil dari stiap topik yang diajarkan. Misalnya bicara soal masa kepemimpinan Habibie, anak-anak belajar bahwa kadang tidak semua akademisi bisa berhasil Ketika mereka bersentuhan dengan dunia politik, begitu juga saat belajar soal kehidupan masa pra-aksara mereka bisa belajar bahwa Sapiens tidak abadi tapi warisannya abadi maka penting untuk memelihara dan melestarikan warisan budaya itu; Ketika belajar tentang sosok laksamana Maeda siswa bisa belajar tentang sikap moral sebagai seorang ksatria “samurai” sejati: tidak ingkar janji!

Aduh kalau bicara yang terakhir ini, rasanya nyesek sampai ke dada. Orang manado bilang “ta cucu sampe uru hati” hehehe. Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kata sebuah lagu yang tak saya tahu judulnya. Laksamana Maeda tentu bukan tipe orang yang seperti lirik lagu itu, kita semua tahu kesetiaan dan sikap elegannya sebagai prajurit yang berhati Nurani. Itulah jejak-jejak masa lalu yang menjadi warisan bagi kita sekarang. Banyak sisi lain dari sejarah yang dapat membentuk sudut pandang saya sebagai guru begitu pun anak-anak. Mereka bebas menginterpretasikan setiap peristiwa dengan apa yang menjadi tujuan hidup mereka. Setidaknya sejarah membuat mereka tetap  relevan dengan dunia mereka sekarang yang berkelindan dengan susunan susunan algoritma dan permainan kecerdasan artificial.

Manado, 27 februari 2021

Refleksi kegiatan belajar selama sepekan