Istimewa

Daun Woka

This is the post excerpt.

4600921202_5852742363_z
nasi Kuning daun woka (sumber gbr flickr)

aku sebenarnya agak kikuk menggunakan nama ini (daun woka) karena maknanya bagi orang Minahasa (menurut kamus marga “fam” minahasa) sangat berkaitan dengan posisi/strata yang dihormati meski orang Minahasa sendiri tidak mengenal pembagian kasta atau kebangsawanan sebelum “kompeni” masuk mencaplok tanah Toar dan Lumimuut diikuti dengan penguasaan oleh kerajaan-kerajaan sekitar yang feodal. menurut kamus itu daun woka yang kuning keemasan adalah dasar munculnya fam TUWO yang melambangkan keperibadian seorang pemimpin yang mulia dan dihormati. tapi aku tak mau menjadi pemimpin yang dihormati aku ingin jadi orang kecil yang terhormat meski hanya menjadi “pembungkus” nasi kuning yang dijual dibeberapa warung pinggiran kota Manado. ya daun woka yang menjadi hiasan di acara-acara…setidaknya itulah kebanggaan yang kumiliki dengan menyandang fam TUWO dari leluhur. menjadi yang dilihat tanpa mata, dirasa tanpa hati namun tetap ada dan memberi. berkarya dalam kesunyian…

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

Are you new to blogging, and do you want step-by-step guidance on how to publish and grow your blog? Learn more about our new Blogging for Beginners course and get 50% off through December 10th.

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Ghosting

Oleh Christian Andre Tuwo

Untuk membuka pertemuan kita lewat tulisan ini maka….izinkanlah aku melukis senja dan membasuh lelahmu, mar ngana so bukang senja ley for kita, ngana so sama deng setang tengah malam yang beking kita pe mimpi horror sama deng perang kamboja. Beberapa jam ini kayaknya kita lagi dibuat fokus pada sesuatu yang berhubungan dengan “setang” atau hantu atau Ghost atau apalah yang penting ini bukan berhubungan dengan dunia “lain”, bukan jiwa-jiwa yang sedang ingin dilepaskan dari belenggu api penyucian. Ini kisah soal hantu jadi-jadian yang dapat berbentuk princess dan prince. Ya hantu-hantu yang menurut lagunya Dewa, telah membuat kosong hati yang terus menghantui dan membuat gelisah padahal sebenarnya hanya berniat untuk singgah dan kemudian pergi tanpa kabar. Hantu-hantu ini juga ibarat bayang-bayang foto di folder computer yang terus bercerita dan menyapa padahal banyak kecewa yang sudah terjadi dari sebuah hubungan. Ntah kenapa Skinnyfabs memberi judul lagunya “Ghost” padahal nggak ada sama sekali unsur hantu dalam lagu bucin tersebut.

Intinya rindu, merindu, cinta, mencinta identik dengan hilang, menghilang, sakit, menyakiti, kecewa, dan mengecewakan! Apa pun itu paling sakit memang kalau di Ghostingin. Mungkin memang lebih horror dari cerita horror itu sendiri. Mungkin kalau di manado ghosting itu cocok deng lagu yang berjudul “burung bajingan”. Situasi yang menggambarkan hubungan yang toxic Ketika salah satu pasangan hanya menjadikan pasangannya sebagai tempat persinggahan “tampa ba singgah, tampa ba tera, setelah itu terbang seperti burung yang tidak pernah menetap”. Burung bajingan mungkin sudah bergeser analoginya bukan hanya soal fakboi tapi juga fakgirl, bukan soal sadboi tapi juga soal sadgirl. Dua makhluk ambyar yang sama-sama bucin dan banyak mengonsumsi micin.

Susah memang merealitakan kata you are my guy or you are my girl, stand by my side! Oh what a fuc*** words!. Apakah ada soulmate di dunia ini? Yang ada kalau kita penggal kata itu secara cocokologi etimologi SOULMATE itu dari kata “soul” dan “mate” nah “Soul” itu jiwa sedangkan “mate” kalau “e” diganti “i” maka jadinya “mati”. Jadi soulmate itu dekat dengan jiwa-jiwa yang mati! Sepertinya cocok karena terjemahan Bahasa inggrisnya adalah “belahan jiwa” jelas dong jiwa kalau dibelah pasti mati! Mungkin itulah kenapa Ghosting itu seperti hantu hantu pencabut nyawa! Malaikat saja kalah dengan tipe orang yang suka ghosting itu—dulunya malaikat berubah menjadi malaikat pencabut nyawa.

Apakah kamu pernah menulis puisi untuk dia yang Namanya selalu kau sebut dalam doa?, mungkin waktu itu dia seakan menjadi satu-satunya putri atau pangeran yang mampu mencairkan balok batu es yang mengeras dan membeku dalam hatimu. Puisi-puisi itu teryata hanyalah polisi yang hanya mampu menahan kamu sampai pada sebuah kecerobohan mengakibatkan kamu “tapalisi” pada sebuah penjara yang kamu ciptakan sendiri. Ntah siapa yang ghost dan siapa yang lost!

Mungkin kamu tak cukup mantra untuk mengutuk setiap ghost yang mengghostingin kamu! Diperlukan seribu Harry Potter untuk mengalahkan Voldemort dalam wujud fakboi dan fakgirl! Dua tipe manusia yang tak layak menebar the magic of love. Cinta memang dekat sekali dengan permainan magic yang kadang nggak logic! Bagi yang sedang dighostingin, tenang saja cukup ambil gitar nyanyikanlah lagu Budi Doremi dan berkata: peace, love and thank you! Atau lanjutkan dengan lagunya Ariana Grande: thank you, next!

Manado, 7 Maret 2021

Tiga Masa, Tiga Angkatan

Oleh Christian Andre Tuwo

Tiga masa yang terlewati terdapat benang merah dalam sebuah bangsa yang bernama Indonesia. Semuanya berawal dari diskusi grup Whatsapp antara saya dan mereka, tiga Angkatan yang membentuk satu rantai kesatuan dalam satuan Pendidikan yang bernama Rex Mundi. Apa itu tiga masa dan tiga Angkatan? Tiga masa adalah tiga topik pembelajaran selama minggu 22-26 februari yang dipelajari oleh tiga Angkatan yakni Angkatan 61 (kelas XII), Angkatan 62 (kelas XI) dan Angkatan 63 (kelas X).

Topik pertama untuk Angkatan 61 adalah “masa Reformasi 1998-1999 ketika jatuhnya orde baru dan digantikan oleh B.J Habibie, topik kedua untuk Angkatan 62 mengenai peristiwa sekitar proklamasi dan terakhir topik ketiga untuk Angkatan 63 adalah corak kehidupan masa pra aksara. Tiga Angkatan membahas tiga masa sejarah Indonesia yang terpaut cukup Panjang untuk ditelisik keterkaitannya sebagai bahan refleksi setidaknya bagi saya pribadi yang mengajar mereka.

Saya mungkin dapat memulainya dengan apa yang ada dalam pikiran anak-anak sewaktu diminta menuliskan Analisa mereka tentang topik itu. Misalnya untuk Angkatan 61, mereka banyak tertarik pada kenapa Habibie melepaskan Timor-timur? Sedangkan di Angkatan 62 banyak muncul rasa simpati terhadap Laksamana Maeda yang menyediakan rumahnya untuk kepentingan tokoh nasionalis merumuskan proklamasi kemerdekaan. Bagi anak Angkatan 63 mereka lebih banyak menyoroti mengenai asal muasal manusia Indonesia yang muncul pada masa neolitikum dan kisah lukisan di gua leang-leang Maros Sulawesi Selatan yang ternyata adalah lukisan tertua di dunia.

Sebenarnya topik-topik yang dibahas selama minggu ini belum dapat dikatakan selesai! Karena memang masih akan dilanjutkan minggu depan. Namun ada hal yang dapat saya pelajari Ketika mengajar tiga topik ini ke mereka, yakni mereka yang memilih sendiri apa yang ingin mereka diskusikan! Saya hanya memberikan referensi berupa bahan bacaan dengan deretan halaman dan materi pokok. Sering saya menambahkan beberapa referensi video documenter dan artikel-artikel online yang mendukung materi pembelajaran.

Setelah mereka menentukan sendiri apa yang ingin mereka diskusikan, maka terjadilah percakapan dari berbagai sudut pandang yang serius, kritis bahkan receh sereceh pernyataan, “maaf uncle, masih pagi jadi belum bisa konsentrasi”, ujar seorang siswa  yang saya yakin belum mandi dan mungkin sedang melakukan diskusi grup sambil tidur-tiduran. Ya itulah kelemahan sekaligus kelebihan belajar online! Semuanya serba terbalik; kalau masa kelas normal jam kritis anak ada pada jam setelah makan siang, maka pada saat kelas online jam kritis itu terjadi pada jam pertama dan kedua yang dimulai antara jam 08.00-10.00. wah kenapa bisa begitu? Karena jam bangun anak jaman pandemic adalah jam 11.00 siang!

Jam 06.00 mereka sudah bangun untuk isi daftar hadir eschool, tapi setelah itu mereka tidur Kembali. Untung-untungan kalau mreka bisa ngikutin jam pertama pukul 08.00 kalau ada yang berhasil ikut yaaa tebak saja hasilnya pasti seperti anak yang saya tulis sebelumnya: tidak konsen, menguap-nguap, atau tidak akan meng-ON-kan Kamera saat zoom!

Ada juga yang saking tidak konsennya, memprotes saya karena halaman buku yang saya posting di eschool topiknya tidak sama dengan halaman pada buku mereka. Saya berkata, “coba periksa kembali bukunya!”. “sudah benar pak, nih saya baca buku Sejarah Indonesia”, sambil menunjukkan bukunya ke saya melalui pertemuan zoom. Ya elahhhhh nak nak nak sekarang itu jam pelajaran Sejarah peminatan bukan sejarah Indonesia. “oh maaf pak soalnya sama-sama sejarah”, ucap si anak sambil nyengir.

Yahhh orang manado menyebut kondisi seperti ini: “paka testa” (tepuk jidat), saya hanya bisa mengelus dada plus sabar karena masa pandemic ini membuat semua nggak konsen! Siswa dan guru sama-sama sensitif! Kalau saya sendiri agak sedeng karena menurut saya  bertingkah konyol akan menyelamatkan kita dari krisis mental gara-gara koronces (korona), ya sedikit humor mungkin bisa membantu kita survive!

Wah tulisan ini sudah tidak ada benang merahnya sama sekali, ya untunglah mas Menteri sudah membuat aturan untuk tidak perlu terlalu mengejar ketuntasan materi di masa pandemic ini!. Kalau saya memilih untuk mencoba menggali hal-hal praktis apa yang dapat diambil dari stiap topik yang diajarkan. Misalnya bicara soal masa kepemimpinan Habibie, anak-anak belajar bahwa kadang tidak semua akademisi bisa berhasil Ketika mereka bersentuhan dengan dunia politik, begitu juga saat belajar soal kehidupan masa pra-aksara mereka bisa belajar bahwa Sapiens tidak abadi tapi warisannya abadi maka penting untuk memelihara dan melestarikan warisan budaya itu; Ketika belajar tentang sosok laksamana Maeda siswa bisa belajar tentang sikap moral sebagai seorang ksatria “samurai” sejati: tidak ingkar janji!

Aduh kalau bicara yang terakhir ini, rasanya nyesek sampai ke dada. Orang manado bilang “ta cucu sampe uru hati” hehehe. Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kata sebuah lagu yang tak saya tahu judulnya. Laksamana Maeda tentu bukan tipe orang yang seperti lirik lagu itu, kita semua tahu kesetiaan dan sikap elegannya sebagai prajurit yang berhati Nurani. Itulah jejak-jejak masa lalu yang menjadi warisan bagi kita sekarang. Banyak sisi lain dari sejarah yang dapat membentuk sudut pandang saya sebagai guru begitu pun anak-anak. Mereka bebas menginterpretasikan setiap peristiwa dengan apa yang menjadi tujuan hidup mereka. Setidaknya sejarah membuat mereka tetap  relevan dengan dunia mereka sekarang yang berkelindan dengan susunan susunan algoritma dan permainan kecerdasan artificial.

Manado, 27 februari 2021

Refleksi kegiatan belajar selama sepekan

Main Twitter

Oleh Christian Andre Tuwo

Bulan februari memang bukan hanya 14 februari saja. Ada 1, 2, 3 sampai 28 plus 29 kalau itu tahun kabisat heehee. Namun selalu ada masa Ketika rasa Kembali pada linimasa bahwa pernah ada yang basah saat pesta di tengah lapangan sekolah. Selain karena basah oleh semburan air kran dengan media ember toilet sekolah tapi memang ada yang basah yaitu pipi yaa pipi yang tak sanggup untuk menahan aliran tirta yang pura-pura malu keluar dari pelupuk mata.

Valentine memang bukan soal bunga dan coklat kata Firsa Besari, tapi lebih dari itu kisah telah ditulis dan pantas dikenang. Lebih nyesek lagi ternyata kisah itu adalah pertanda kalau ada yang harus berakhir di bulan juli. Cinta satu semester??? Bukan! Ini soal merasakan sesuatu yang berharga setelah semuanya pergi dan sibuk dengan segala pengejaran cita, cinta dan cerita baru di lingkungan yang baru pula.

Pandemi tak terasa telah menemani kita selama setahun ini, rasanya dia perlu diberi pelajaran berharga bahwa cukup sudah menjadi perusak semua harapan yang pernah terbangun. Jangan kau ulang lagi tingkah konyolmu untuk tahun ini. Heyy pandemi, tidakkah kau capek melihat sejarah bermohon agar tulisan yang akan diwariskan ke generasi berikut tak hanya melulu soal isolasi, protokol Kesehatan, masker, jaga jarak dan cuci tangan?

Anjirrr, tak tahukah kamu kalau bukan fisik ini saja yang capek, tapi pikiran dan hati ini sakit tahu???!!! Sekarang ada yang sudah semester dua, ada yang tak menyangka kalau mereka sudah mau naik kelas; Ada yang bahkan tak pernah sadar kalau di bulan ini ada teman yang sudah menikah setelah melihat keuwuan dua jemari dengan lingkaran cincin mungil di fleets twitternya sementara kamu mungkin sedang melukis senja yang berakhir pada kebahagiaan dia bukan kamu.

Seberapa sering kamu melihat tulisan “please twitter do your magic” untuk semua yang toxic yang terjadi sepanjang masa pandemi ini. Kamu, aku dan kita semua telah banyak melukis tawa, tangis, benci, rindu, luka, Bahagia, kocak, tolol, bodoh, sombong, malas, rajin dan segala tetek bengek pernak Pernik hidup yang tak pernah menjadikan kita manusia seutuhnya.

Kamu mungkin termasuk orang orang pembangkang yang cenderung berontak terhadap aturan termasuk soal menjaga jarak dan “berhenti sejenak” untuk bertemu. Ya masih ada kok yang seperti kamu. Setidaknya setiap minggu atau bahkan tiap hari tak pernah diam di rumah dan tetap memaksa untuk kongkow kongkow makan bareng, jalan bareng, dan akhirnya bareng bareng sakit . (jangan berpikir sakit karena covid ya) maksud dari semua ini adalah bareng bareng sakit hatinya.

Mungkin formula yang tepat untuk kondisi ini adalah jangan terlalu banyak tertawa karena ingat masih ada jatah untuk menangis! Jadi habiskanlah jatah menangis itu agar yang tersisa adalah jatah untuk berbahagia. Setidaknya tertawa bareng itu sudah cukup kalau memang belum ada orang yang dapat kamu ajak hidup Bahagia hehehee.

Bulan februari adalah bulan yang paling pendek, saking pendeknya sehingga waktu untuk mencoba menyayangi dengan lebih tulus serasa hanya sebatas tanggal 14 februari. Kata Mawar De Jonge sih “kau tutup kisah cinta kita saat ku sedang sayang-sayangnya” oalahhhh bukan lagi ambyar sekali tapi sekuaaaali. Adakah di antara kalian yang merasakannya? Sudahlah februari memang begitu hahaha. Tidak perlu kuatir kalau terluka, cukup tambahkan cuka supaya jadi asinan hehehe

Maaf jadi ngelantur, intinya tidak ada yang salah dengan patah hati, karena patah selalu identik dengan tunas baru, tidak perlu khawatir dengan kesendirian karena sendiri identik dengan kesembuhan. Ingatkah kalian kalau untuk sembuh dari covid orang harus diisolasi? Nah saat kamu terisolasi karena patah hati itu tandanya kamu sedang dalam proses penyembuhan hehehe kalau menurut Firsa Besari “kadang tak mengapa untuk merasa tidak baik-baik saja”.

Hargai diri kalian karena bulan februari bukan bulan cinta! Bulan februari adalah bulan kedua dalam penanggalan kalender masehi! Jadi tenang saja masih ada sepuluh bulan untuk memperbaiki kualitas hidupmu sebelum bertemu dengan “who you knows who” (hehehe kok jadi semacam nama karakter di Harry Potter yaaa, mmmm siapa Namanya Voldemort!) yupsss ada banyak cara menemukan yang hilang, ada banyak cara menyambung yang patah, dan ada banyak cara memulai sesuatu yang baru!

Senang itu sementara begitu juga dengan sedih, rasakan hidupmu saat ini karena besok rasanya lain lagi hehehe. Ok februari terima kasih untuk kenangan yang tak hanya sebatas tanggal dan hari. Besok masih harus bernafas jadi untuk apa membuang tenaga untuk sesuatu yang sudah lewat? Oh ya besok juga puasa dimulai bagi mereka yang ngaku Katolik. Teman saya bilang dia akan berpantang untuk mengingat Kembali mantan waduhhh emang mantan itu tidak perlu diingat, setidaknya kamu harus tahu bagaimana cara membuang mantan pada tempatnya.

Semoga masa puasa membantu kita semua masuk dalam keheningan doa, dan amal agar pikiran kita tak hanya diisi oleh eros eros dan eros karena ingat ada satu kasih atau cinta yang lebih besar dari eros yang dilukiskan dengan indah dalam kata-kata ini

“ for God so loved the world that He gave His only Son So that everyone who believes in Him may not perish but may have eternal life”. John 3:16

Manado, 16 februari 2021

Refleksi menyambut masa Prapaskah

Hujan di Toko Buku

Oleh Christian Andre Tuwo

Wow masuk di toko buku bukan sekadar lihat buku tapi juga menikmati lagu-lagu yang bernuansa khas toko buku. Kali ini aku sangat dibuai dengan lagu-lagu masa remaja yang uda lumayan lama tidak aku dengar. Siapa sih di antara generasi Y yang nggak hafal “pupus” “mistikus cinta” dan deretan masterpiecenya grup band dewa.

Sementara itu Hujan di luar memaksaku tetap bertahan meski sudah ada satu eksemplar buku yg baru saja mengeluarkan pundi pundi dari rekeningku 😂 ntah kenapa dalam waktu dua bulan ini aku kayaknya boros sekali dalam membeli buku. Setidaknya ada enam buku yang menjadi bagian dari anggota penghuni kamar kos aku 😃 hitung-hitung mereka menambah isi ruang menjadi lebih sempit. Well, nda masalah, toh mereka tidak membebani pikiranku 😊 kecuali isi kantong aku 😁

Kadang aku berpikir kalau aku itu seperti Tsundoku kalau di Jepang itu maksudnya adalah orang yang membeli buku tapi tidak membacanya. Namun jika aku flashback gitu ya, ternyata nggak kok, buku-buku yang saya beli semuanya dibaca sesuai tingkat kecepatan dan kebosanan masing masing 😁

Hujan masih deras seraya aku memandang di balik kaca jendela lantai dua yang menampilkan duplikat bayanganku sambil mengetik huruf demi huruf yang ada di tombol tuts handphoneku. Ya saya sedang menulis melalui aplikasi wordpress yang ada di gawaiku 😩 sesuatu yang tidak biasa karena aku lebih senang menulis di buku catatan atau langsung di laptop.

Di depan rak buku sastra aku kembali bersua dengan Pramoedya Ananta Toer, bukan bukunya tapi buku orang yg menulis tentang Pram–judulnya Pramodya Menggugat karya prof Koh Young Hun. aku tidak akan membahas buku ini karena memang belum kubaca dan tidak masuk daftar belanja karena harganya lumayan menghabiskan jatah makanku selama 3 bulan 😃; saya hanya malu kepada wajah Pram yang sementara memegang mesin ketik dengan wajah serius dan bernas.

Seolah Pram mau berkata hey bung, sudah lupakah kamu dua tahun lalu adalah hari paling buruk dalam hidupmu ketika orang yang kamu cintai menikah dengan orang lain tanpa pemberitahuan bahkan boro boro undangan kawin, penjelasan juga tak pernah disampaikan.

Ya saat itu aku tidak menggugat dan memilih menyerahkan semuanya pada semesta. Waduh Pram…pram… Jangan gitu dong, kamu telah merusak otakku dan kali ini bukan soal menggugat bumi manusia tapi cinta manusia. 😡

Memang paling ribet kalau bicara mantan, semua jenis mantan itu ada sisi devilnya meskipun itu adalah mantan terindah. Mulai dari mantan kelas kampung sampai mantan kelas negara tetap saja menjadi momok bagi mereka yang ingin segera keluar dari zona barang bekas. 😂

Kamu itu kalau diibaratkan seperti buku sejarah; maka kamu tinggal catatan kaki atau bagian indeks saja yang tinggal dimasukkan ke dalam museum kemudian dipasang plakat : ORANG PUNYA 😂

Waduh hujan semakin awet dan aku tak tahu tulisan ini mau berhenti di mana? intinya adalah buku yang saya beli berjudul “Hidup Sederhana” karya Desi Anwar.

Semoga setelah pulang dan bebersih diri, aku akan segera menggeranyangi Desi ehhhh bukunya 😂😂😂 kalau lihat dari judul dan catatan belakangnya sih sangat cocok dengan aku akhir akhir ini yang terlalu banyak menumpuk barang dan rasa termasuk kenangan. Mudah-mudahan ada keberanian untuk lebih menyederhanakan hidup termasuk membuang semua beban yang bikin berat termasuk mantan yang bikin ambyar 😄

Manado, 14 Februari 2021

Di sebuah toko buku tepat dua tahun setelah pernikahanmu.

Sapiens Toxic

oleh Christian Andre Tuwo

Mengapa ada yang pergi dan ada yang tetap bertahan; Ada yang punah dan ada yang tetap hidup? Saya tertawa Ketika seorang siswa dengan polosnya berkata “sekarang ini zamannya siapa yang bertahan ia yang akan tetap tinggal. Menurutnya hanya yang memilih untuk tinggal yang pantas dipertahankan. Oalah dalem banget kata-katanya!

Kita manusia selalu diperhadapkan pada pilihan pergi atau tinggal! Tapi ada masanya Ketika dua kata itu tidak dapat dipilih tapi wajib atau harus dipaksa untuk menjalaninya. Misalnya mengenal seleksi alam; primata jenis homo erectus tidak dapat memilih untuk bertahan menghadapi neanderthal dan cro magnon—yang terakhir dari jenis homo ini jelas tak mampu mengimbangi jenis yang lebih sempurna yakni homo sapiens yang merupakan cikal bakal manusia modern.

Sistem seleksi alam (survival of the fittest) pun perlahan berganti menjadi siapa yang tercepat menyesuaikan diri dengan perubahan maka dialah yang akan menjadi pemenang (survival of the fastest). Hal inilah yang menjadi bahan perbincangan dari anak-anak saya di kelas sejarah. Mereka mencoba mencari alasan di balik mengapa Jepang dapat dengan mudah menguasai wilayah Asia padahal di sana sementara bercokol negara-negara barat seperti Inggris, Perancis, dan Belanda yang telah ratusan tahun menjadi kekuatan kolonialisme di dunia?

Dalam diskusi di kelas ditemukan opini yang seragam bahwa Jepang belajar dari apa yang mereka lihat mengenai kemajuan peradaban barat. Setelah restorasi Meiji, Jepang menjadi kekuatan adidaya di Asia. Setelah menjadi negara fasis dengan prinsip Hako I chiu maka Jepang pun memulai imperialismenya di Indonesia. Jepang yang semula mempromosikan semangat saudara tua dengan Indonesia ternyata berubah menjadi penjajah yang kejam bagi rakyat Indonesia.

Hal yang hampir sama saya temukan di kelas yang tingkatannya lebih tinggi, sewaktu membahas masalah pemerintahan Suharto dan orde barunya; mereka pun menemukan bahwa orde baru belajar dari keterpurukan politik dan ekonomi masa Sukarno. Suharto mengubah idealism nasionalisme yang sempit menjadi nasionalisme yang lebih terbuka sehingga orde baru mulai menyesuaikan dengan dunia yang sedang berubah. Alhasil pembangunan ekonomi Indonesia jauh lebih baik dari pada masa Sukarno. Setelah berkuasa, maka mulailah terlihat gelagat tidak baik dari Suharto dan kroni-kroninya dalam menjalankan pemerintahan. Terjadi lonjakan kemajuan ekonomi namun demokrasi dan kemanusiaan berada pada titik terendah bahkan lebih buruk dari zaman Sukarno.

Benang merah dari perubahan manusia sejak primata bipedal; homo erectus; neandertal; cro magnon; sapiens meloncat ke masa munculnya Jepang sebagai negara imperialis dan kemajuan pembangunan zaman orde baru adalah Sebagian kecil contoh puncak kemampuan manusia sebagai individu dan kelompok dalam mempertahankan eksistensinya di panggung sejarah dunia.

Manusia yang mampu bertahan dan berinovasi pada akhirnya harus menghadapi fakta sejarah yakni kemajuan peradaban manusia melahirkan  krisis kemanusiaan! Perkembangan otak menuntut lahirnya kreatifitas, kemudian melahirkan prestasi dan akhirnya malapetaka! Manusia menguasai manusia sehingga mereka celaka.

Untuk sebuah ambisi, perang menjadi legitimasi kekuasaan; dan untuk sebuah kekuasaan, penghilangan manusia yang tak sejalan dengan kekuasaan itu menjadi suatu hal yang biasa! Imajinasi adalah kunci dari pencapaian manusia, namun hanya imajinasi yang dikendalikan oleh kemanusiaan yang akan melahirkan keseimbangan semesta.

https://www.youtube.com/channel/UC6L7zBudNAWwchmudsEXDJQ?fbclid=IwAR0u-61ja-zOifFCsx7qqTSqUoWem9_v2jcCWhpGgDqBY5yCLN-QaAEcf-w

Manado, 6 Februari 2021

ditulis sebagai refleksi setelah mengajar online selama sepekan ( 1 -5 februari 2021)

Guru Manusia

ae789e8d-8593-4e12-afb0-673777b7c0a1

Sepertinya sudah menjadi tradisi tahunan ketika kawan-kawan seperjuangan yang bertugas di daerah terpencil pulang ke Manado maka kami akan melakukan pertemuan singkat entah sehari atau beberapa hari setelah mereka tiba di Manado.

Tahun ini agak berbeda karena kondisi pandemi, maka pertemuan kami dilakukan sehari sebelum keberangkatan mereka kembali ke tempat tugas. Padahal sudah sebulan lebih mereka di sini sejak libur natal.

Tapi ya, untuk menjaga agar protokol kesehatan tetap dilaksanakan akhirnya kami memilih untuk menahan diri, meskipun puji Tuhan kami semua dalam keadaan sehat 🙏

f1b49551-040c-4794-9371-9f7a3f27328d

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tradisi pertemuan para pejuang pendidikan di daerah terpencil ini di awali dari sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dengan dunia kami yakni toko buku! Selalu ada hal yang dapat didiskusikan mengenai pendidikan!

meskipun genre buku yang kami beli tidak ada yang langsung berkaitan dengan ilmu pendidikan 😆😆😆 saya kira itu bukanlah menjadi soal, karena memang bagi kawan kawan ini, berada di sebuah toko buku adalah harta yang susah dicari di tempat tugas mereka.

fc91991b-1755-4660-8305-58167ea8d775

Wajarlah kalau sekali-kali mereka mencari hiburan sedikit dan melirik koleksi buku bergenre sastra dan self improvement. Toh mereka juga berada di kota karena ingin menghilangkan sejenak penat dan stres akan tuntutan pekerjaan yang berat di daerah terpencil.

Meskipun begitu, diskusi kami tetaplah berhubungan dengan suka duka menjadi guru, saya meresap semua keluh kesah mereka, apalagi bagi kawan kami yang sudah berkeluarga. Pengalaman terpisah dari istri dan anak yang masih berusia 1 tahun tentu membutuhkan banyak pengorbanan.

Wahhh meninggalkan anak sendiri dan jauh-jauh mengajar anak orang lain 😊 luar biasa sekali; saya memang tidak ragu dengan komitmen kawan-kawan mengenai tugas dan tanggung jawab sebagai abdi negara.

Saya kembali memikirkan diskusi saya dengan salah satu kawan yang kali ini belum sempat bergabung bersama kami, dia pernah berkata “pernahkah kamu mendengar ada pelatihan atau apalah seminar yang fokus pada guru sebagai manusia? ”

saya merenung, sepertinya jarang atau bahkan tidak ada 😕 selama ini segala macam pelatihan guru hanya difokuskan pada melatih kemampuan hard skill guru untuk tujuan  pengembangan pembelajaran siswa seperti urusan administrasi kelas dan administrasi pembelajaran

Ujung-ujungnya guru hanya menjadi guru administrasi dan terkesan dipaksakan untuk mendidik dengan hati. Dari cerita kawan saya tentang sulitnya guru terpencil dalam menata kelola ekonomi keluarga, hubungan psikologis dengan keluarga yang jauh serta rusaknya hubungan antar manusia yang sedang jatuh cinta tiba-tiba kandas karena tidak adanya komunikasi dan segala macam masalah terpencil lainnya seperti urusan birokrasi yang punglinya juga bukan main membuat saya berpikir bahwa memang benar guru adalah manusia biasa yang terjebak dalam status pahlawan pembangun insan cendekia

Saya kira hal yang sama juga terjadi dengan guru-guru yang ada di kota meski mungkin kelihatannya masih lebih baik dari pedalaman. Lengkapnya fasilitas juga belum tentu berdampak pada kinerja; bukan karena tidak profesional tapi sering karena masalah ekonomi dan tingkat stres yang luar biasa dalam mengurus masalah administrasi dan pembelajaran.

Walah malah panjang ceritanya 😆 padahal sebenarnya saya hanya mau menulis tentang kesegaran mojito lyche yang akhirnya dapat saya nikmati lagi setelah beberapa bulan pandemi 😆 sambil bertukar pengalaman tentang keseruan dan lucunya menjadi guru  yang statusnya sudah menikah maupun yang masih setia dengan idelogi jomblonya hehehe intinya guru juga manusia penuh rasa rasa sapiens yang kadang ambyar karena cidro dan loro

Hari ini adalah hari raya Saraswati bagi umat Hindu, hari mereka merayakan turunnya ilmu pengetahuan. Sepertinya tidak salah bagi kami berdiskusi tentang pendidikan namun kami juga merasa perlu untuk sedikit melontarkan humor-humor segar seputaran kegelisahan para guru yang menjadi pelaksana dan ujung tombak pendidikan apalagi di masa pandemi ini.

Nasib…. nasib, memang menjadi guru yang selalu dituntut sempurna padahal kami hanyalah manusia yang tempatnya salah dan lupa sering terjadi kami sering memotivasi anak-anak padahal kami sering sama sekali tidak mendapatkan motivasi dari siapa pun. Yah bagi yang sudah menikah syukur syukur kalau pasangan kalian mengerti, nah bagi yang jomblo ke mana lagi harus mengadu???? 😆😆😆

nah sebagai penutup saya mau kutip sepenggal humor receh dari sebuah buku humor karya Momo Yonas tentang seorang guru yang jengkel dengan kelakuan anak didiknya.

pada suatu pagi, pak guru menyuruh murid-muridnya mengisi formulir biodata siswa.

siswa : “pak, ini nama lengkapnya ditulis ya?”

pak guru : “ya, nak”.

siswa : “kalau tanggal lahir?”

pak guru: “ya, itu juga ditulis”.

siswa :”nama ayah?”

pak guru :”nama ayah juga ditulis dong”.

siswa :”em, kalau jenis kelamin?”

pak guru langsung menjawab dengan nada ketus: “digambar!”

*****

WhatsApp Image 2021-01-30 at 20.39.07

akhirnya diskusi receh antar sesama kawan seperjuangan ditutup dengan makan malam nasi goreng cakalang. terima kasih untuk pertemuan yang saling menguatkan dan setidaknya membuat beban sedikit ringan untuk siap dengan tugas dan tanggung jawab selanjutnya di sekolah masing-masing. selamat jalan semoga tiba di tempat tugas dengan selamat. sampai jumpa lagi.

Manado, 30 Januari 2021

Pertemuan manusia dan Alam semesta

Christian Andre Tuwo

dokumentasi pribadi pembelajaran jarak jauh

Kepingan-kepingan alam dalam rupa angin, air, udara, tanah, pohon dan petir telah menjadi satu puzzle yang suram dalam hidup manusia. Bukan kepingan itu yang suram tapi manusia yang jahatlah yang membuat kepingan alam Kembali mempertanyakan persatuan manusia dengan alam.

Alam terus berupaya menyembuhkan dirinya dari luka yang dibuat oleh manusia seolah-olah alam adalah ibu yang ingin tetap setia kepada suami yang keras kepala dan bodoh—tetap saja berkeras kalau dialah yang paling benar dari semua kerusakan ini. Mungkin situasi manusia dipandangan alam semesta layaknya “nawaksara” yang ditolak dua kali sehingga “supersemar” mulus menjadi apa yang disebut “orde baru”.

Dari kejadian alam akhir-akhir ini apakah memang benar telah terjadi transisi antara yang lama dan yang baru? Apakah hubungan manusia dan alam sudah sampai pada tahap yang mirip antara putusnya orde lama dan mulainya orde baru? Atau manusia Kembali berubah dan mewujud menjadi imperialis-imperialis yang merusak alam semesta lebih parah dari pada kolonialis yang memecah belah?

Peradaban manusia yang tercatat pada batu dan gua menyadarkan kita bahwa kemampuan sapiens dalam menyesuaikan diri dengan alam tak pernah sekali pun ia melukai alam tempat ia berkembang biak. Ia justru belajar dari alam yang membawanya pada zaman yang paling sempurna dalam sejarah manusia.

Sayang sekali, puncak pencapaian manusia pada peradaban adalah penghancuran semesta dan kemanusiaan. Hal ini tak ada bedanya dengan revolusi-revolusi, imperialism dan pemanasan global : semuanya adalah hasil kejahatan terbesar manusia pada ibu bumi, ibu peradaban dan sesame manusia.

Manado, 24 Januari 2021

Sebuah refleksi pembelajaran Sejarah Indonesia dan Peminatan

Topik: Orde Baru, Jepang di Indonesia dan Manusia Purba

Liburan baca buku

Sepertinya sudah menjadi tradisi setiap akhir atau awal tahun aku sangat senang jika pergi ke toko buku apalagi kalau sampai membawa pulang belanjaan berupa buku. (ya masak ke toko buku beli sate 😂). Hal ini terjadi pada sore tanggal 31 desember ketika aku merasa garing berada di kamar kos.

Setelah mandi dan berpakaian ala anak gunung tahun 60an 😂 aku langsung mengunjungi toko buku Gramedia yang hanya berjarak sepelempar bola kasti dari kos aku 😀. Memang unik juga di saat orang-orang mengunjungi pusat perbelanjaan untuk menghabiskan hari terakhir tahun 2020, aku malah pergi ke tempat paling konservatif yakni toko buku.

Suasananya sunyi, tapi bukan berarti aku adalah satu-satunya pengunjung sore itu. Keberadaanku di toko itu hanya sekitar satu sampai dua jam. Hasilnya adalah dua buku sekaligus masuk keranjang ehhh plastik 😂 pertama buku biografi Gus Dur karya Greg Barton dan biografi Fidel Castro karya Wahyu Budi Nugroho.

Kenapa hanya dua jam di toko buku? Karena saya sudah tidak tahan untuk segera menggeranyangi buku-buku itu di malam tahun baru 😂 lagi pula kegiatan masyarakat di tempat umum memang dibatasi hanya sampai pukul 18.00 waktu itu karena pencegahan covid-19.

Jadilah sesampai di kos aku langsung melahap buku Gus Dur, dan sampai hari kedua tahun baru aku sudah membaca 295 dari 500 halaman buku tersebut. Itu pun dengan posisi baca yang berpindah pindah mulai dari kasur, lantai, kursi sampai toilet 😂

Lumayanlah untuk mengisi liburan di awal tahun sebelum disibukkan dengan tugas pekerjaan sekolah. Hmmm awal tahun ini memang membuatku malas karena sejak tanggal 30 desember perutku melakukan revolusi mencret mencret yang sangat mengganggu kestabilan liburanku.

Hal ini lebih diperparah karena pada malam tahun baru aku kelebihan minum bir sambil bermonolog bersama biskuit dan buku Gus Dur.

Selain membaca tentunya saya menulis tulisan ini sebagai selingan untuk mengguratkan apa yang ada dalam kepala yang sedang pening ini supaya sedikit meninggalkan jejak mengenai apa yang kulakukan menjelang berakhirnya 2020 dan awal 2021.

Salah satu jejak yang mungkin di luar tradisi adalah natal tahun ini aku sama sekali tidak merasakan enaknya nasija (makanan yang terbuat dari beras ketan dan santan dibungkus daun pisang dan dibakar dalam bambu) secara tradisional makanan ini selalu ada di meja orang Minahasa pada saat natal tahun baru. Namun disaat bersamaan aku akhirnya dapat makan daging asam manis buatan sendiri sejak terakhir membuatnya mungkin sekitar natal 10 tahun yang lalu.

Akhirnya aku sampai juga pada titik kehabisan bahan untuk melanjutkan tulisan ini karena buku Gus Dur jauh lebih menarik untuk dibaca terus 😂😂😂 dan perut saya mulai melakukan revolusi lagi sehingga saya harus segera ke toilet dan melanjutkan membaca dari surga yang tak diingini 😂😂😂

Selamat tahun baru 2021

Gloria In Excelsis Deo

Wah, 2020 ini memang hening se hening heningnya 😂 sampai aku lupa kalau sudah terlalu lama aku tidak nulis di kolom ini. Mungkin aku terlalu menghayati pesan adven dari bapak uskup “berhenti sejenak”. ya masa adven kemarin memang banyak yang aku resapi dalam sisa perjalanan di tahun ini.Ada banyak hening di tahun ini yang mungkin membuat kepala menjadi pening. Ada banyak perhentian di tahun ini yang mungkin membuat detak jantung hampir berhenti 😃 syukur berhentinya nggak lama.Semua begitu berbeda tahun ini! Hanya satu yang tetap sama: IMANUEL! allah beserta kita. apa pun keadaan kita, bagaimana pun suasana perayaan natal kita, Allah tetap sama dulu, sekarang dan selamanya.Aku mungkin bukan orang yang paling bahagia tahun ini, tapi tidak perlu menguraikan semua kesusahanku seperti layaknya daftar hutang yang membebani pikiran.Siapa bilang kalau aku benar-benar bahagia? Tidak! Kita semua tahu kalau tahun ini penuh dengan kekhawatiran dan kegamangan! hal yang sama mungkin saja berlanjut pada tahun depan.Namun sekali lagi, dibalik kekhawatiran manusiawi itu Tuhan mengajarkan kepadaku tentang kehinaan yang menjadi kemuliaan. Kehinaan sebuah kandang menjadi kemuliaan harga diri setiap manusia.Mungkinkah itu disebut sebuah kebahagiaan? atau apakah itu yang dinamakan sukacita 😊 ya saya yakin saya bukanlah orang yang berbahagia, tapi saya adalah orang yang bersukacita karena Dia sang Imanuel terus bersama dan tinggal dalamku.Selamat natal 25 Desember 2020Selamat tahun baru 2021Semoga Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria menolong 🙏🙏🙏

Nyari Makan

Ketika aku lapar maka ku ambil masker, sanitizer dan topiku kemudian meluncur mengikuti trotoar jalan Sam Ratulangi sambil bergumam sendiri, “beli nasgor batavia aja”, “ah beli air mineral aja” oh beli roti singapura aja” sambil mikir aku nyebrang jalan pas di depan gramedia aku berhenti sejenak dan langsung belok kiri naik tangga, semprot semprot tangan dengan sanitizer, mendekati security untuk diukur suhu tubuh, masuk lihat-lihat rak buku dan jadilah dua buku dalam genggaman yang berjudul “humor seru bikin nyengir” karya Momo Yongs dan satunya lagi “gitu aja kok repot” karya Abdur Rahman (namanya saja mirip tapi penulis bukan Gus Dur ya) hanya saja isinya memang kumpulan humornya Gus Dur.

Setelah merasa cukup kenyang melihat lihat termasuk melihat seorang cewe cerdas yang lagi meluk puluhan buku sambil nyari nyari di rak yang sama tempat aku berdiri. “wow anjimmm udah cantik, gila baca juga… Ini mau baca apa mau jualan neng…banyak skali bukunya… Emang buku….buku…, uda dibeli dipeluk mmmm menang banyak tuh buku buku itu 😆

Mau dong dipeluk kayak buku 😆 setelah membayar di kasir akhirnya aku teringat akan misi awal aku keluar kos yakni mau nyari makan. Tapi karena sudah terlanjur kenyang sama buku akhirnya aku membeli air mineral saja sesuai list belanjaan awal!

Jadilah makan malam bersama buku!

Nah untuk menutup tulisan receh ini aku kutip satu humor yang ada dalam buku yang baru saja kubeli

Pak guru: Tole! Kenapa kamu selalu mengerjakan PR di sekolah? Itu kan pekerjaan rumah bukan pekerjaan sekolah?

Tole: aduh gimana ya pak, masalahnya sekolah ini sudah terlanjur saya anggap seperti rumah sendiri”.