Featured

Daun Woka

This is the post excerpt.

Iklan
4600921202_5852742363_z
nasi Kuning daun woka (sumber gbr flickr)

aku sebenarnya agak kikuk menggunakan nama ini (daun woka) karena maknanya bagi orang Minahasa (menurut kamus marga “fam” minahasa) sangat berkaitan dengan posisi/strata yang dihormati meski orang Minahasa sendiri tidak mengenal pembagian kasta atau kebangsawanan sebelum “kompeni” masuk mencaplok tanah Toar dan Lumimuut diikuti dengan penguasaan oleh kerajaan-kerajaan sekitar yang feodal. menurut kamus itu daun woka yang kuning keemasan adalah dasar munculnya fam TUWO yang melambangkan keperibadian seorang pemimpin yang mulia dan dihormati. tapi aku tak mau menjadi pemimpin yang dihormati aku ingin jadi orang kecil yang terhormat meski hanya menjadi “pembungkus” nasi kuning yang dijual dibeberapa warung pinggiran kota Manado. ya daun woka yang menjadi hiasan di acara-acara…setidaknya itulah kebanggaan yang kumiliki dengan menyandang fam TUWO dari leluhur. menjadi yang dilihat tanpa mata, dirasa tanpa hati namun tetap ada dan memberi. berkarya dalam kesunyian…

Ada Cinta di Indonesia

Ada Cinta di Indonesia

Oleh Bung Neo

 oh manado2

Aku terbuai oleh musikalisasi puisi “Aku Melihat Indonesia” karya bung Karno yang dinyanyikan oleh Rodinda. Melihat segala sesuatu yang ada di negeri ini membawaku pada pandangan cinta bernama Indonesia. Wajah yang dulu tidak pernah mementingkan ego dan selalu bersatu, jikalau ditemui oleh perbedaan maka itu akan diselesaikan secara musyawarah mufakat.

Indonesia adalah puisi pertama yang aku kenal. Ia mengenalkanku pada wajah-wajah penuh simpati dan antipati; empati dan sakit hati; wajah mulus yang tulus dan wajah keriput yang ribut. Semuanya ada dalam pandanganku di negeri yang konon adalah zamrud katulistiwa.

Aku bukanlah penganut chauvinism yang buta akan kekurangan dan memuja-muji keunggulan bangsa sendiri tanpa menghargai bangsa lain. Indonesia adalah baik buruknya kita. tempat sakit hati pernah menjadi bagian dari hidup. Tempat ucapan selamat tinggal sering terdengar.

Indonesia adalah saksi pada saat aku terbangun setiap pukul 04.00 pagi dan terjebak dalam setiap larik puisi Aan Mansyur:

“dari jendela kau lihat bintang sudah lama tanggal…

            Bagai kalimat selamat tinggal…”[1]

Aku akan segera bangun dan mencari kamar kecil. Tiba-tiba perutku terasa mual dan meriang. Aku tak sekadar membuang hajat namun merenung selama hayat dikandung badan.

Aku kasihan denganmu karena engkau tidak lebih dari seorang penyair yang kehabisan kata-kata. Bukan sekadar kata tapi cinta. Larik puisi Aan terus berlanjut:

“kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang”.

Aku menghibur diri atas kenyataan ini, karena puisi itu diilhamkan kepadaku, bukan untukmu. Larik-larik itu seakan menjadi butir-butir peluru yang ditembakkan pada masa gencatan senjata.

“jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan”.

Selalu ada cinta dalam ibu Indonesia. Kita tidak perlu larut dalam kumpulan puisi “Tidak Ada New York Hari Ini”, karena kota-kota di Indonesia jauh lebih romantis dari Amerika Serikat. Kita masih bisa mencari pencerahan di seberang mutiara pulau-pulau nusantara.

Batas tanah, udara, dan laut hanya suatu teritorial yang bukan tak bisa dilewati. Kita masih bisa berdiri di atas satu cinta, bernafas dengan satu cinta, dan minum dari sumber cinta yang juga hanya satu. Negeri ini tidak akan pernah kehabisan fajar meski akan selalu berhadapan dengan senja. Jika malam terlalu dalam, pejamkanlah matamu karena besok fajar akan lahir kembali.

 

Kawangkoan

14 Juni 2018

[1] Larik-larik puisi yang ditulis miring adalah kutipan yang diambil dari buku puisi Aan Mansyur “Tidak Ada New York Hari Ini”. penerbit gramedia 2016.

Bung Karno Selamanya

Bung Karno Selamanya

(21 Juni 1970-21 Juni 2018)

Oleh Bung Neo

 

sketsa oleh Ciquita
sketsa oleh Ciquita

“suara hati seorang Sukarnois”

 

Aku tidak mengerti mengapa aku begitu mengagumimu bung! Jika orang bertanya, aku tidak bisa menjelaskan alasan rasional tentang kecintaanku terhadapmu. Mungkin tidak tepat juga kalau dikaitkan dengan hal-hal yang emosional karena semua terjadi begitu saja sejak pertama kali aku melihat foto putrimu Adis, Sembilan belas tahun yang lalu.

Waktu itu putrimu baru saja mendirikan partai yang merupakan lanjutan dari PDI yang telah diganggu dan dikuasai oleh penguasa. Oomku membawa poster Adis yang bersanding dengan potretmu bung. Aku masih ingat ada slogan tertera di sana, “benar katakan benar, salah katakan salah”. Seketika itu juga aku telah menjadi pengagummu dan putrimu.

Apa yang dialami oleh putra-putrimu selama orde baru sangat menyentuh hatiku. Ruang gerak mereka dibatasi hanya karena menyandang namamu. Tak hanya mereka—bahkan nasib orang-orang yang menjadi pendukungmu tak jelas rimbanya; ada yang hilang, ada yang dibantai, dan beruntung kalau masih hidup namun dibuat susah hidupnya.

Aku tidak heran jikalau penguasa berbuat seperti itu karena mereka juga memperlakukanmu dengan kejam. Mereka mengurungmu disaat engkau sedang sakit. Menjauhkanmu dari keluarga, sahabat dan teristimewa rakyat yang engkau sangat cintai. Senista itukah engkau bung, sampai-sampai mereka mengirim dokter hewan untuk merawatmu?

Bicaralah bung! Aku tahu engkau sedang berbahagia di alam sana. Namun kami pendukungmu yang hidup jauh setelah masamu masih sangat membenci jenderal pembunuh itu! Kami masih menangis bung, setiap tanggal 21 juni tiba hati kami masih bergetar dengan getir marah dan dendam atas perlakuan penguasa di akhir hidupmu.

Engkau pernah berjuang melalui “via dolorosa” yang mengharuskanmu menggunakan hampir seluruh hidupmu di penjara dan pengasingan. Namun apa yang dibuat oleh jenderal pembunuh itu kepadamu? Ia memang setan berbulu domba. Bahkan lama setelah ia mati pun dosa-dosanya masih saja menjadi virus bagi bangsa ini. ia tak mendapat tempat dalam hatiku dan para pendukungmu bung! Hanya parasit yang masih setia berteriak “merindukan zamannya”.

Syukurlah aku bisa belajar tentangmu bung. Engkau begitu rendah hati dan bijaksana dalam melihat situasi Indonesia di penghujung pemerintahanmu. Engkau bersedia mundur agar tidak banyak anak bangsa yang menjadi korban perang saudara. Engkau memang bapak persatuan Indonesia.

Empat puluh delapan tahun yang lalu engkau pergi meninggalkan kami namun itu tak cukup untuk menghapusmu dari ingatan generasi ke generasi, karena engkau akan selalu menjadi putra sang fajar yang abadi dalam cakrawala hati dan pikiran rakyat Indonesia.

 

21 Juni 2018

Kawangkoan

Cerita Cinta yang Terpenggal

Cerita Cinta yang Terpenggal

Oleh Bung Neo

10153072_742957702394799_144391774_n

Ada syahdu di pagi itu sewaktu lonceng notifikasi twitterku berbunyi. Sebuah direct message yang ditunggu-tunggu kurang lebih dua belas jam. Cerah di minggu pagi seolah buram untuk sepersekian detik jarum jam berdenting. Ada tenaga yang keluar dari tubuhku. Apakah itu adalah “eros” yang selama ini terpendam oleh keegoisanku? Sepertinya begitu.

Tatapanku nanar dan kosong tak memedulikan lagi layar notebook yang terus berbisik menghukumku dengan kombinasi huruf yang seolah-olah menjadi formal dengan icon-icon senyum yang menyimpulkan, “it’s ok, never mind, tidak apa-apa”. Sebegitu mudahnyakah?

Potongan-potongan dua belas bulan terakhir berganti begitu lambat dalam kekosongan. Sebuah kronik yang meneguhkan besarnya kesalahanku. Masa lalu kembali memanggilku bukan sebagai kenangan tapi sebagai hakim yang menghakimi—satu demi satu ia tersusun sebagai sebuah kronologi yang diakronis.

Dua belas jam jelas terlalu singkat jika dibandingkan dengan dua belas bulan penantiannya. Beberapa potongan yang terulang itu terfokus pada beberapa buku pemberian seorang kakak: lara, garis waktu, pain(t), cerita cinta tanpa cinta, serta satu kumpulan sajak yang bernas: dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta.

Jika aku harus meresensi semua buku tersebut hanya ada satu kata untuk itu yakni: aku! Oh tidak, apakah kak Sat mengetahui apa yang sedang aku rasakan sehingga ia harus memberi buku-buku itu padaku? Sepertinya ia hanya menjadi titian pesan Tuhan kepadaku bahwa aku harus segera membuka hatiku yang tertutup untuk sebuah pertanyaan dan penjelasan kepada seseorang yang sedang menungguku dengan harap.

Tiba-tiba potongan itu terhenti dan nyawaku kembali ke dalam tubuhku sehingga gabungan huruf yang abstrak tadi mulai kembali menjadi jelas. Aku terlambat membuka pintu! Tinggallah itu sebagai puisi yang tak terucapkan. Sebuah cerita cinta tanpa cinta; dan apakah semuanya akan berujung pada “pain”?

Aku belum selesai membaca buku Pain(t), namun sepertinya aku sudah bisa membaca akhir ceritanya. Aku menutup notebook seraya lonceng gereja berdentang dengan sukacita. Aku mendengar instrumen merdu dalam kepalaku: Ave Maria…

“jadilah padaku menurut perkataanMu”. Aku tersenyum karena sosok wanita suci itu tersenyum dan menguatkanku seperti patung Pieta yang selalu menghangatkan dan menenangkan.

Ada syahdu di hari minggu itu, pun juga sedu sedan. Dalam beberapa hari lagi aku juga akan menemukan hari minggu yang lain. hari-hari yang akan kugunakan untuk menunggumu di pintu itu, berharap suatu saat nanti ketika aku membukanya, kau berdiri di situ—aku dan ksau melanjutkan kisah yang terpenggal. Bagiku sejarah bisa berulang namun kenyataan tidak selalu mengulang hal yang sama. Sejarah dan kenyataan adalah pengalaman dan guru. Jika keduanya bertemu mungkinkah sejarah baru tercipta?

 

Kawangkoan

19 juni 2018

Tetap Bung Karno!

Tetap Bung Karno!

Oleh Bung Neo

Setiap kali aku melihat kepala banteng, aku selalu terkenang akan bung Karno. Kebetulan ada banyak bendera partai yang berkibar selama masa kampanye pilkada. Bung Karno memang erat kaitannya dengan kepala banteng yang melambangkan kerakyatan. Masa perjuangan dan pergerakan bung Karno memang bernafaskan kerakyatan yang dikenal dengan marhaenisme.

Semakin memuncak kekagumanku kepada bung Karno ketika memasuki bulan juni. Aku begitu bersemangat mengibarkan bendera merah putih pada hari lahir pancasila tanggal 1 juni. Hujan yang turun seakan menyegarkan jiwa yang kering dan hampa setelah kepergianmu.

Bulan juni bagi seorang sukarnois adalah bulan bung Karno karena selain hari lahir pancasila 1 juni, pada tanggal 6 adalah hari lahir bung Karno sedangkan tanggal 21 juni adalah hari wafatnya sang bapak bangsa. Sebagai refleksi—masih banyak kelompok dan individu yang memanfaatkan kebesaranmu bahkan mereka yang paling membenci dan tidak menyukaimu tanpa malu-malu mengaku sebagai pengagummu padahal itu dilakukan untuk kepentingan sesaat. Mereka adalah pelacur-pelacur politik yang memanfaatkan karisma dirimu.

Tapi aku tidak khawatir bung! Seperti yang pernah bung katakan, “sejarah yang akan membersihkan namaku”. Sejarah akan membuktikan mana yang benar sukarnois sejati dan mana yang hanya mendompleng kebesaran namamu. Aku tidak perlu khawatir karena engkau adalah putra sang fajar. Seperti fajar yang akan selalu ada setiap pagi maka engkau akan selalu terbit dalam hati rakyatmu.

Engkau tidak akan pernah tenggelam meski mereka terus melakukan desukarnoisasi dan mencoba mengingat-ingat kembali ‘jasa’ pengkhianat besar yang pernah membuatmu dan pendukungmu menderita. Maafkan aku bung, kalau aku masih belum bisa memaafkan orang itu.

Aku masih membenci semua yang berhubungan dengan penghianat itu. Bahkan sampai sekarang antek-antek orde baru masih berkeliaran di bumi Indonesia. Mereka masih menjadi parasit dalam sistem politik, ekonomi dan budaya di negeri ini.

Aku masih harus terus belajar darimu bung! Engkau begitu besar karena sikap ksatriamu melepaskan jabatan agar tidak terjadi pertumpahan darah sesama anak bangsa. Meskipun kebesaranmu dipreteli namun tak pernah berkurang sedikitpun di mata rakyat yang mencintaimu.

Engkau mengajarkanku agar jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Aku akan selalu mengingat dan menjadi manusia sejarah yang kokoh membangun masa depan. Kokoh di atas jembatan emas kemerdekaan yang telah engkau dirikan.

Semoga kelak aku bisa berjiwa besar sepertimu; memaafkan dan mengampuni mereka. Aku akan selalu mencintai dan mengagumimu walaupun banyak yang melupakan dan membencimu. Selamat ulang tahun bung!

 

Kawangkoan

06 Juni 2018

Mengapa Belajar Sejarah?

Mengapa Belajar Sejarah?

Oleh Bung Neo

 

Demonstrasi aktivis Gerakan Wanita Indonesia, Gerwani, di Jakarta awal 1965, by potretlawas
Demonstrasi aktivis Gerakan Wanita Indonesia, Gerwani, di Jakarta awal 1965, by potretlawas

G.W.F Hegel pernah berkata, “satu hal yang dapat dipelajari dari sejarah adalah bahwa tak seorang pun pernah mempelajari sesuatu dari sejarah”. Fenomena ahistori di masyarakat kita bisa digambarkan dari munculnya fundamentalis agama dan primordialisme.

Ambil saja contoh tentang isu kebangkitan PKI. Di Negara ini kata PKI bagaikan hantu yang selalu merongrong anak-anak kecil sehingga takut pergi ke kamar mandi waktu malam. Akan lebih mudah bagi mereka membuka pintu dan kencing di luar rumah.

Pertanyaannya adalah mana yang lebih berbahaya; kencing di kamar mandi atau di luar rumah? Kita memang terlalu takut pada hantu yang tidak kelihatan daripada malaikat yang sepertinya terang padahal iblis yang nyata.

Sejarah sebenarnya banyak memberikan pelajaran kepada kita, jika kita mau sejenak membuka kembali lembaran-lembaran arsip, buku, dan pikiran atau kenangan kita tentang masa lalu. Kita mencap semua yang berhubungan dengan komunis adalah berbahaya.

Dalam narasi pembelajaran sejarah Indonesia terkesan tidak adanya pembedaan antara PKI masa pergerakan nasional dan PKI pada masa kemerdekaan. Semua topik tentang pemberontakan PKI hanya berfokus pada peristiwa Madiun 1948 (yang benar dilakukan PKI) dan peristiwa 30 september 1965 (yang masih kabur siapa dalangnya).

Narasi pembelajaran sejarah di sekolah tidak memberikan porsi yang cukup untuk pemberontakan PKI terhadap pemerintah kolonial pada tahun 1926 dan fakta bahwa PKI adalah partai pertama yang menggunakan nama Indonesia di masa kekuasaan kolonial Belanda tahun 1920.

Setelah peristiwa gerakan 30 september 1965, PKI menjadi partai terlarang berdasarkan Tap MPRS 1965 No XXV/MPRS/1966. Sejak itu pembicaraan mengenai paham komunis bahkan untuk tujuan akademik seakan menjadi tabu dan sensitif. Sejarah PKI digeneralisasi sebagai sejarah buruk dan berbahaya bagi NKRI.

Pembelajaran sejarah yang seharusnya independen dan ilmiah seolah berubah menjadi sejarah yang subyektif dan terlalu dicampuri dengan kepentingan penguasa orde baru. Memang seperti yang ditulis oleh A.L Rowse dalam buku Apa Guna Sejarah, (2014); dijelaskan bahwa generalisasi dalam sejarah dapat dilakukan karena ada lebih dari satu ritme, plot, pola, bahkan pengulangan dalam sejarah.

Tugas sejarawan dan guru sejarah seharusnya memberikan pencerahan dan berupaya agar dalam menginterpretasikan sebuah peristiwa, ia benar-benar harus mengurangi subyektivitas meski tidak akan pernah sepenuhnya obyektif karena sulit untuk merekonstruksi peristiwa yang sudah terjadi lebih dari lima puluh tahun. Setidaknya seperti yang dikatakan oleh Francis Bacon, “sejarah membuat manusia bijaksana”.

Sewaktu mempelajari sejarah, kita harus berpikir sesuai masa di mana peristiwa itu terjadi. Penting untuk membedakan suasana dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya sebuah peristiwa. Misalnya perbedaan pemberontakan PKI 1926, 1948, dan 1965 (?). Mengutip A.L Rowse, “sejarah adalah tentang kelompok masyarakat, faktor-faktor yang mengendalikan mereka, motif, umum atau pun personal yang membentuk berbagai peristiwa”.

Dari pernyataan Rowse, kita bisa menyimpulkan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya sebuah peristiwa sejarah. Kita hanya bisa belajar darinya tapi tidak bisa membanding-bandingkan seolah-olah apa yang terjadi sekarang sama dengan yang terjadi pada masa lalu.

Dalam landasan teori, sejarah tidak berulang karena setiap peristiwa itu unik dan hanya sekali terjadi. Tapi fenomena yang mengarah ke peristiwa yang sama mungkin saja terjadi di waktu yang berbeda. Oleh karena itu penting juga untuk melihat gejala-gejala masa lalu yang mungkin “terulang” saat ini. di sinilah kegunaan sejarah.

Belajar dari sejarah berarti mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa dialami sekarang dan masa yang akan datang. Semuanya akan berguna jika kita melihat sejarah dengan kedua mata secara terbuka. Ini berarti melihat fenomena sejarah secara holistik bukan dengan mata tertutup sebelah.

Mengenai bahaya separatis dan fundamentalis agama di Negara ini tentunya kita jangan hanya fokus pada isu PKI saja tetapi juga kepada DI/TII, RMS, PRRI/Permesta, GAM, OPM yang bukan tidak mungkin akan muncul dalam rupa-rupa gerakan baru yang ingin bernostalgia dengan masa lalu; bukan untuk belajar dari sejarah tapi untuk “mengglorifikasi” dan mencuri kesempatan dalam menciptakan kegaduhan politik untuk mengganggu kedaulatan NKRI.

 

09 April 2018

Revisionist History dan Guru Sejarah

Revisionist History dan Guru Sejarah

Oleh Bung Neo

 

essay
Belajar membaca, menulis, dan menghitung bagi orang dewasa di Kalimantan, awal 1950-an. by potret lawas

Sejarah adalah milik mereka yang menang; sebuah ungkapan yang seolah-olah melegitimasi sang pemenang untuk mengontrol narasi dalam historiografi mereka. Pada zaman kolonial, historiografi nusantara ditulis sesuai dengan keinginan pemerintah kolonial. Begitu pun pada masa kemerdekaan maka penulisan sejarah berubah menjadi historiografi nasional.

Apa yang di masa kolonial dianggap sebagai pengacau atau pemberontak, maka di masa kemerdekaan akan dianggap sebagai pahlawan. Saya kira hal yang sama terjadi dalam setiap penulisan sejarah bangsa mana pun di dunia ini. historiografi menjadi bagian dari pengenalan identitas sebuah bangsa merdeka.

Ada juga ungkapan seperti “bukan rahasia bila penguasa pun bisa mengubah sejarah dan memutarbalikkan fakta”. Saya yakin kalau kita juga akan setuju dengan ungkapan tersebut. kalau begitu apakah sejarah bisa dipercaya? Apakah sulit menemukan kebenaran dalam sebuah historiografi? Atau apakah sulit bagi sejarawan untuk bersikap objektif dalam memandang sebuah peristiwa?

Sebuah peristiwa sejarah memang tidak bisa diulang kembali karena keunikan dari sejarah adalah ia hanya sekali terjadi. Ia dibatasi oleh waktu. Bisa saja sebuah peristiwa yang sama terjadi di ruang yang sama namun waktunya sudah berbeda. Peristiwa yang terjadi semestinya menjelaskan tentang hukum sebab akibat (kausalitas) yang tak dapat dibantah.

Sumber masalah dari sejarah bukanlah peristiwanya melainkan penulisannya (historiografi). Apa pun metode yang dipakai oleh sejarawan dalam melakukan heuristik (pengumpulan data) akan terbentur dengan unsur manusia yang memiliki multitafsir akan sebuah peristiwa yang sudah lama berlalu.

Seorang sejarawan tak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari subyektivitas. Itulah sebabnya sejarah selalu menuai kontroversi yang membuat ilmu sejarah menjadi ilmu yang berkembang—tidak mati. Ilmu sejarah dapat berubah seiring ditemukannya data dan fakta baru tentang sebuah peristiwa.

Sekarang ini teori revisionist history sedang popular di kalangan pemerhati sejarah. Sesuai dengan pengertiannya, upaya untuk meninjau kembali sebuah peristiwa memang perlu dalam pengembangan ilmu sejarah. Sekali lagi kita harus mengakui bahwa meskipun sejarah sebagai peristiwa bersifat unik dan hanya terjadi sekali namun penulisannya (historiografi) bukanlah sebuah “kitab suci” yang tidak bisa direvisi.

Penulisan sejarah sangat bergantung pada data kemudian data akan diverifikasi melalui dua tahap yakni kritik eksternal (otentisitas) dan kritik internal (kredibilitas) data yang ditemukan. Setelah proses verifikasi maka data akan menjadi fakta yang kemudian ditafsirkan (interpretasi) menjadi sebuah cerita sejarah atau historiografi.

Selama sejarawan tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar seperti tekanan penguasa, maka karyanya akan benar-benar obyektif dan dapat dipercaya. Inilah yang dimaksud dengan penulisan sejarah yang apa adanya menurut Leopold Von Ranke. Sejarah ditulis sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi.

Sering kali kekeliruan dalam penulisan sejarah bukan disebabkan oleh kurangnya sumber. Justru yang sering terjadi adalah sumber utama telah dimanipulasi untuk kepentingan tertentu misalnya Negara. Manipulasi sejarah inilah yang menyebabkan pembodohan masyarakat oleh rezim yang berkuasa.

Pembodohan sejarah tidak hanya terjadi dalam sebuah Negara yang dipimpin oleh rezim diktator. Hal ini juga bisa terjadi dalam Negara yang menganut sistem demokrasi. Kita bisa melihatnya melalui kurikulum pendidikan sejarah yang tidak menggambarkan secara menyeluruh tentang peristiwa-peristiwa “sensitif” yang mengancam kedaulatannya.

Guru-guru sejarah tidak memiliki independensi untuk mengaplikasikan ilmunya kepada peserta didik. Guru sejarah menjadi produk kurikulum yang tidak bisa mengembangkan profesionalitasnya. Ukuran profesionalitas guru hanya dilihat dari jumlah jam mengajar dan kegiatan administrasi seperti membuat silabus, program semester, RPP, dan instrumen penilaian. Akhirnya guru sejarah hanya menjadi guru kurikulum bukan guru inspiratif.

Seharusnya peserta didik diajar untuk berpikir kritis tentang sebuah peristiwa sejarah bukan hanya dijejali dengan data dan fakta yang diklaim sebagai sebuah kebenaran sejarah. Padahal sejarah tidak bisa diceritakan dengan narasi tunggal. Belajar sejarah menjadi membosankan dan tidak mengasyikkan.

Bagi saya belajar sejarah bukan hanya bertujuan membuat peserta didik senang dan tidak bosan, namun lebih dari itu peserta didik seharusnya bisa lebih berempati dan tumbuh menjadi manusia yang menghargai perbedaan setelah belajar sejarah. Setidaknya mereka bisa lebih bijaksana membuat keputusan dalam kehidupan mereka.

Setiap manusia membutuhkan pengetahuan tentang sejarah mereka. Namun beberapa Negara justru mengaburkan sejarah penduduk asli dengan dalih penyatuan nasional. Hal ini banyak terjadi di Negara-negara yang pernah merasakan kejamnya kolonialisme. Invasi dan aneksasi menjadi sarana untuk menguasai dan akhirnya memanipulasi sejarah penduduk asli.

Indonesia masih memiliki utang sejarah khususnya mengenai Papua. Di tengah pembangunan yang terus digenjot di sana, ada masalah yang harus menjadi perhatian khusus pemerintah yakni peninjauan kembali sejarah Papua termasuk sejarah proses integrasi Papua ke dalam wilayah NKRI. Pembelajaran sejarah mengenai Papua tidak cukup hanya dengan menampilkan Frans Kaisiepo dalam lembaran uang resmi Negara serta riwayat Martin Indey dan Silas Papare dalam beberapa paragraf pendek yang dimuat dalam buku pelajaran sejarah.

 

Kawangkoan

21 maret 2018

Perempuan

Perempuan

Oleh Bung Neo

                                    Untuk Finneke Wolajan

 

Dewi Soekarno bermain dengan anjing-anjingnya. Jakarta, Maret 1966. by potret lawas
Dewi Soekarno bermain dengan anjing-anjingnya. Jakarta, Maret 1966. by potret lawas

Aku mengenal seorang perempuan

Kini ia seorang wartawan

Darinya aku tahu apa itu menawan

Menawan adalah melawan

 

Aku mengenal seorang perempuan

Satu-satunya di antara kami lelaki

Satu-satunya teman diskusi

Di saat ideologi dikuasai lelaki

 

Aku mengenal seorang perempuan

Mungkin bukan seorang Bohemian

Yang penting pendirian

dan terutama perjuangan

 

Aku mengenal seorang perempuan

Di tangannya kata menjadi jelita

Di kameranya cantik menjadi nyata

Bukan karena rupawan

Bukan karena tiruan

 

Ia benar Sarinah Indonesia

Ia benar Lingkan Wene Minahasa

Bertumbuh bersama sengatan mentari

Berkembang bersama halusnya rinai

Berbuah bersama gelapnya hari

 

 

07 April 2018